Apa sebenarnya definisi sebuah kebebasan?
Disaat jiwa masih terbelit ambisi, obsesi, dan egoisme.
Demi sebuah kebebasan, mereka setuju untuk menjalankan sebuah misi. Misi yang awalnya terlihat mudah, namun setelah peristiwa rumit yang bertubi-tubi...
Hujan turun begitu deras, petir menyambar laksana auman singa dengan udara yang terasa dingin menusuk kulit. Atmosfer mencekam terasa kental menggelilingi malam itu.
Kaki kecilnya berlari tidak tentu arah, peluh membanjiri setiap jengkal tubuhnya. Ia harus bersembunyi, ia tidak ingin berakhir seperti yang lainnya. Kaki kecilnya terus menapak cepat menyusuri lorong yang hanya diterangi kilatan petir.
Mungkin Tuhan masih berbaik hati padannya, ia berhasil masuk ke dalam sebuah kamar. Tanpa babibu lagi ia segera bersembunyi di dalam lemari, meringkuk, memeluk lututnya. Detak jantungnya perpacu sangat cepat, tubuh kecilnya bergetar ketakutan. Ia menatap horor pintu kamar dari balik celah lemari.
Hanya akan diam, saat mereka menyerang......
Tubuh kecilnya bergetar hebat, ia membekap mulutnya sendiri agar suara teriakannya dapat teredam. Suara langkah kaki dan nyanyian kematian itu terdengar semakin mendekati ruangan dimana tempatnya berada kini.
Hanya mampu menahan, segala bentuk tamparan......
Suara itu semakin terdengar jelas. Tubuh kecilnya merapat pada sudut lemari.
Ceklek....... Kriettt......
Tubuhnya tremor parah, dadanya sesak menahan tangis. Sosok itu sudah berada di sini, di ruangan yang sama dengannya.
Menyembunyikan setiap dendam yang membara dalam tekanan......
Di sana, di pintu kamar, samar-samar terlihat bayangan yang perlahan menyeruak masuk, semakin mendekat dan mendekat. Hingga kilatan petir dapat menampakan jelas sosok itu.
Sosok itu menggenggam erat pisau di tangannya dengan gaun hitam penuh dengan cairan merah yang nampak samar dikelamnya malam. Suara ketukan heels yang beradu dengan lantai semakin jelas terdengar di telinganya.
"Dimana kau anak nakal?"
Seketika seluruh tubuh kecilnya merinding. Ia menggigil ketakutan tanpa seorangpun yang dapat menolongnya.
Sosok itu mengedarkan pandangganya ke seluruh bagian kamar, menyusuri dengan langkah perlahan namun mematikan.
"Ingin bermain rupanya." sosok itu menyeringai, memainkan pisau yang ada di genggamannya.
Napasnya tercekat saat langkah kaki itu berhenti di dekatnya, matanya memejam tak sanggup melihat apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi.
Hening.
Ia terus membekap mulutnya, jantungnya memompa cepat.
BRAKKK
Agrhhhhhhh
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ben menyunggingkan senyumannya.
Sudah sangat lama ia tidak merasakan euforia seperti saat ini. Menapakan kaki di atas aspal seraya mendengarkan deruman mobil-mobil bermesin turbo di bawah langit malam Los Angeles dengan udara yang kental hasil pembakaran sigaret. Huhh tidak lupa wanita-wanita dengan rok yang hanya menutupi sebatas bokongnya saja.