Sepertinya YoonA memang telah kehilangan akal. Ia malah dengan senang hati mengirimkan lokasinya pada Park Chanyeol.
Dan di sinilah mereka sekarang, duduk berdua di depan minimarket yang buka 24 jam sembari menunggu mi instan matang.
“Kau biasa seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Pergi tengah malam hingga dini hari, seorang diri.”
YoonA mengedikkan bahu. “Begitulah,” jawabnya sekenanya. “Tetapi Sehun biasanya menemaniku, sayangnya untuk malam ini tidak bisa karenaㅡkatanyaㅡingin menjadi anak yang rajin seharian.”
Too much information, but thanks.
Chanyeol tak menanggapi lagi. Pemuda itu lebih memilih untuk mengalihkan pandangan dan mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Apabila menelisik lebih jauh ke belakang tentang hubungannya dengan gadis ituㅡsebelum mereka mendeklarasikan diri sebagai musuhㅡjelas tidak ada yang spesial.
Semuanya berawal dari Byun Baekhyun yang tiba-tiba saja datang membawa gosip hingga satu sekolah heboh. “Kautahu tidak? Park Chanyeol menyukai Lim YoonA! Bahkan dia tak mengalihkan pandangannya ketika YoonA berhasil mencetak skor!” katanya waktu itu. Ternyata teman-teman yang lain tak kalah gila, mereka malah mempercayai bualan Baekhyun dan memelopori gerakan pendukung YoonA-Chanyeol untuk segera berpacaran.
Padahal—astaga—demi gitar listrik mahalnya, ia hanya tidak sengaja menoleh. Kebetulan saja bersamaan dengan YoonA—ia mengenalnya sebagai si cantik dari kelas sosial—yang berhasil memasukkan bola ke dalam ring dan melakukan selebrasi setelahnya.
Entah sejak kapan, yang pasti usai gosip itu merebak, ia jadi lebih sering bertamu ke kelas sebelah. Satu-satunya tujuannya adalah untuk mengganggu Lim YoonA. Hingga saat ini, Chanyeol juga tidak tahu mengapa. Jika diingat-ingat pun mereka akan terlihat seperti murid taman kanak-kanak ketimbang anak SMA.
Dan—
“Chanyeol?”
Pemuda itu terperanjat. “Apa?”
YoonA mendengus sebal. “Aku memanggilmu sedari tadi, rupanya kau sedang asik sendiri. Lihat, mi instanmu jadi lembek dan dingin sekali. Jika kau masih ingin memakannya, silakan saja.”
“Punyamu sudah habis?”
“Tentu.”
Chanyeol menganggukkan kepalanya kaku dan berangsur melahap mi instan yang tandas hanya dengan dua kali makan.
“Oh, wow. Santai saja. Aku tidak menyuruhmu terburu-buru.”
“Tidak apa, sudah habis juga. Jadi, ke mana tujuan kita sebentar lagi?”
“Pulang.”
“Okay, aku akan menemanimu.”
* * *
Dari jauh-jauh hari, sebelum ia diberi kesempatan untuk membunuh malam bersama musuh bebuyutannya saat ini, Park Chanyeol telah merangkai kata-kata untuk mengajak gadis itu berdamai. Sudah berada di ujung lidah, namun terlalu kelu untuk diungkapkan begitu saja.
“Kau sangat dekat dengan Sehun rupanya.”
Semoga, semoga saja YoonA cukup peka untuk mengetahui bahwa kalimat tadi bukanlah sekadar basa-basi.
“Apakah terlihat demikian?”
“Mungkin saja? Mendengar ceritamu tadi, dia cukup sering menemanimu malam-malam begini.”
“Kauingin mengajakku berdamai, ya?”
YoonA mendengus, kemudian terkekeh pelan melihat raut wajah kaget musuh bebuyutannya.
“K-kautahu?”
“Gelagatmu aneh.”
Chanyeol sudah kepalang malu, tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain mengiyakan tuduhan YoonA.
“Baiklah. Damai?”
YoonA menyodorkan kelingkingnya.
Chanyeol masih belum bisa kembali dari rasa terkejutnya. Dengan segera ia menautkan kelingking gembulnya dan tersenyum tipis.
“Damai.”
Gadis itu mencuri start, tetapi tidak masalah. Mungkin ini merupakan awal yang baik bagi keduanya. Menjadi sahabat karib hingga di masa-masa yang akan datang.
* * *
Di tengah perjalanan pulang, mereka mulai terbuka dan telah membicarakan banyak hal. Dari seri Netflix terfavorit, rekomendasi tempat paling nyaman, hingga orang yang mereka sukai. Seperti saat ini.
“...aku menyukai gadis yang ceria, mampu memberikan energi positif dalam hidupku, bisa bermain musik, bersuara merdu. Seperti Wendy.”
Langkah mereka terhenti seiring dengan Chanyeol yang menuntaskan kalimatnya. Sayang, tak ada kesempatan bagi YoonA untuk menceritakan tentang pria idamannya karena telah tiba di rumahnya.
“Aku tidak menyangka kau akan menyebut nama,” ujarnya. “Kalau begitu, Park Chanyeol, selamat... malam?”
“Ya, selamat malam.”
* * *
2 Unread Messages
Chanyeol: Oh, ya. Bagaimana denganmu?
Chanyeol: Kaubelum menceritakan tentang lelaki yang kausukai.
Tamat
· Happy birthday, kesayangan akuuu! Makasih banyak loh buat birthday gift-nya kemaren. Nggak nyangka aja YoonA bakal cover boygroup 😭❤
· Oh iya, jangan lupa follow Yvonnezaa2, yaa. Akun yang sebelumnya dihapus pihak Wattpad entah kenapa, huhu. Nantikan cerita-ceritanya yang di akun baru ini ya!
Tetep semangat, Kak. 💪🏼
· Maaf kalau ending-nya kayak terpaksa ditamatin. Aku lagi kena writer's block, padahal hari-hari kemarin udah ambis banget mau nyelesaikan ini.
· Btw, Chanyeol jalan kaki karena asrama dia deket sama lokasi YoonA sebelumnya. Tapi jauh banget kalau dari rumah YoonA sendiri. Biarin ajalah, ya. Namanya juga bucin *padahal tadi bilang suka Wendy, hmm.
· Oke, terakhir. Kritik dan sarannya selalu aku tunggu. Selamat malam! 🥺❤
KAMU SEDANG MEMBACA
shaking
FanfictionChanyeol dan YoonA itu musuh bebuyutan. Namun sepertinya untuk malam ini ia telah kehilangan akal. | hidevoxies ©2020
