(Waktu kecil dulu)Aku teringat kembali hari itu, hari dimana kita dipertemukan tanpa alasan serta tanpa sebuah rasa yang kadangkala katanya malah membuat sebuah luka, apalagi ketika belum ada beban seperti orang tua yang bekerja
yang ada setiap hari kita lalui hanya dengan senyuman dan tangisan kecil manis
kita berjalan bersama seperti dua insan yang yang sering bertemu setiap hari namum hanya belum ditakdirkan untuk bisa bersatu
saling menatap membayangkan masa depan, apakah yang akan terjadi nanti
bergandengan bermain bersama selalu
berlari menjahui masalah, dan saling kejar-kejaran aku mengejarmu dan sebaliknya
dan juga tertawa untuk suatu hal yang kita berdua anggap itu lucu
Dulu aku masih sangat ingat saat berlari-lari memutari pohon mangga di depan rumah sambil bernyanyi-nyanyi dan kamu menutup mulutmu dengan kedua tanganmu untuk menyembunyikan tawamu dariku saat aku melakukan hal itu, aku menyayangi pohon itu bahkan ketika akan ditebang aku sampai menangis tersedu dan akhirnya pohon mangga itu bisa terselamatkan karena tidak jadi ditebang ayahku, walaupun seperti itu aku sangat senang ketika melihatmu tertawa apalagi itu karena diriku
kadangkala memang malu ketika saat menangis dan kau melihatku, bisa dihitung diantara kita yang sering menangis ialah aku
tentunya hal itu membuat tidak begitu mudah untuk dilupakan, apalagi dengan adanya rumahmu yang berdampingan dengan rumahku dan kita mempunyai satu halaman depan yang sama
"kita adalah sebuah tetangga karena terpaksa keadaan"
yaa, jikapun bukan karena keadaan orangtua kita yang bekerja didaerah yang sama mungkin sampai saat ini kita tidak saling mengenal
"taaaa litaaa" .... namamu adalah Alitha Arumi, itu adalah caraku memanggil namamu dari luar rumah untuk mengajak bermain bersama
"ehhh nova" .... dan namaku adalah Nova Setyana, seperti biasa balasan sapanmu selalu sembari memeberi senyum kepadaku dan hal itu membuat aku tersenyum juga
alasan klasik karena sudah pasti kita berdua tau, aku memanggilmu setiap pagi untuk mengajakmu bermain bersama (hanya kita berdua)
"nenek mun," Nenekmu yang sudah berumur senja dan ramah kepada semua orang apalagi kepada anak kecil, "sambilku melambaikan tangan mendangakan kepalaku dan tersenyum lebar kepada nenek mun yang sedang menggandeng cucunya, Alitha teman mainku"
Alitha memang anak tunggal dan kedua orang tuanya harus bekerja untuk memnuhi kebutuhan hidup mereka, dan lita dititipkan dengan nenek mun untuk dijaganya
tidak jauh berbeda aku pun sama kedua orang tuaku juga bekerja dan uniknya lagi kedua orang tua kami bekerja di tempat yang sama di sebuah pabrik tekstil, dari keluarga kami hanya bedanya untuk keluargaku mempunyai satu kakak perempuan namanya kak Rina, dan aku sering dititipkan ke nenek mun untuk dijaganya karena kedua orangtua bekerja, serta sekalian dia menjaga Alitha
Diumur yang suah senja ini nenek mun memang tidak bisa jika melakukan pekerjaan yang terlalu berat, karena anaknya sadar akan hal itu, Ibu Alitha tidak membiarkan nenek mun berkerja dan menyarankan agar dia berada dirumah sekaligus menjaga anaknya, Alitha
"Sebenarnya walaupun rumahku dan rumah Alitha itu berdampingan bahkan satu tembok pembatas, karena rumah kami merupakan rumah sewa untuk tempat tinggal sementara untuk mempermudah akses pekerjaan orang tua, dan hal itulah alasan yang membuat aku mengenalnya"
Pekerjaan orang tua kami dimulai dari berangkat jam 7 pagi dan pulang sore sekitar jam 4 dan sampai di rumah jam 5, tidak bisa dipungkiri untuk zaman seperti itu, rumah yang menyewa dan beberapa tetangga juga melakukan hal yang sama, kami semua berbagi kamar mandi
dan hanya ada 2 kamar mandi untuk rumah kontrakan yang berjumlah 6, jadi harus melakukan kegiatan di kamar mandi secara bergantian dan siapa yang lebih dulu datang, untuk menentukan pemakai selanjutnya
***
Kita belum mengerti arti sebuah pendidikan, sebab kita emang belum cukup umur untuk memulai sekolah dan hal itu juga salah satu alasan mengapa aku dan kamu disebut dengan sebutan anak-anak, selalu beraktifiktas setiap hari dan tidak pernah lelah ketika melakukanya serta merasa senang untuk tertawa dan sedih untuk menangis
"Aku bahagia setiap hari terus bersamamu"
Dari pagi sampai menjelang sore kita lari-larian saling mengejar dan melakukan permainan dengan bertingkah seperti pedagang dan pembeli yang pembayaranya kita menggunakan daun, tentu semakin besar daun menurut kita nilai nya semakin besar, seringnya aku yang pura-pura sebagai pembeli yang sedang duduk didepanmu dan kamu pura-pura sebagai pedagang makanan yang berhadapan denganku, tidak heran ketika pembayaranya saja dengan menggunakan daun barang yang dibeli adalah sebuah batu dan anehnya batu yang dijual berada disekitar kita, jika kurang tinggal ambil saja
"Aku mau beli itu" ku tunjuk sebuah batu yang bentuknya cukup unik dan lumayan berukuran besar
"Yang ini ?" balasan Alitha dan ku jawab "iyaa" sambil mengedipkan mata beberapa kali dan tersenyum layaknya seorang pembeli membalas senyum dari pedagang, aku suka momen saat seperti itu seakan-akan senyumu hanya kau berikan kepadaku
diambilkanya batu itu dan kubayarkannya dengan daun yangbesar dan masih berwarna hijau, itu adalah alat jual beli yang sah pada waktunya dan tempatnya, namanya juga permainan segala bentuk imajinasi yang kita sepaham kita anggap itu sah-sah saja
keseringanya ketika kita bermain bersama waktu kadang mengubah segalanya, sampai lupa terlalu lamanya bahkan harus diingatkan untuk waktunya mandi, nenek mun memang sudah tua tapi beliau selalu menginginkan yang terbaik untuk cucunya itu
"Alithaa ayo pulang dulu waktunya mandi"
ucapan seperti itulah yang membuat kita mulai berhenti bermain, panggilan nenek mun yang perhatian dan menginginkan agar Alitha segera mendatanginya untuk menurut ajakanya, Alitha mulai berajak dari tempat duduk yag berada dihadapanku
Aku yang masih duduk hanya bisa tetap duduk, melihat kau yang beranjak pergi dari posisi sebelumnya, menatap lekat sesaat dan kau berbalik untuk mengucapkan
"Udah dulu ya mainya, besok lagii "sambil melambaikan tangan tentu sambil tersenyum
" ii i iyaa tha" balasku yang kemudian berdiri dan juga pergi dari tempat bermain kita
Hal yang paling tidak kusukai ketika rasa senang bermain denganmu tiba-tiba langsung lenyap, dan harus menunggu sampai besok untuk bertemu dan bermain lagi.
"Aku menunggumu"~Alitha Arumi & Nova Setyana~
