Tiga

4K 451 225
                                        

⊡ Alternative Universe ⊡

Naruhina Fanfiction

Mature [21+]
Harap pembaca bijak

Genre: Romance Metropolis.

Tolong Etika dipakai terkait ilustrasi yang ada di dalam fanfiksi ini, Terima kasih.

🌵🌵🌵🌵

             Naruto tengah mematut diri di depan cermin, menyapa lewat senyuman pantulan sosoknya yang tampak gagah dalam balutan jas perak. Terlampau asyik mengagumi bias ketampanan itu, mengalihkan seutuhnya fokus terhadap sekitar. Tahu-tahu sepasang lengan mendekap punggungnya begitu lembut. 

            "Kenapa kau terus tersenyum? Apa kau merasa semenarik itu putraku?"

           "Ibu, berapa kali kukatakan untuk mengetuk pintu dulu? Aku bukan anak kecil lagi Bu, beri aku privasi."

           "Ya ya ya, baiklah. Ibu minta maaf. Aku tidak mengira akan ada peraturan bagi seorang Ibu ketika ingin menemui putranya. Apa kau berencana menaruh papan peringatan di pintumu? Seperti Dilarang masuk!?" Kushina menarik pundak Naruto agar menghadap dirinya,

           "Bertahun-tahun kulakukan, memasang dasimu sebab kau tidak pernah berhasil dengan benar." Seraya menepuk-nepuk permukaan jas, kembali dia berkata, "Putraku tidak kurang satu apapun, tidak ada." Kushina mendesah rendah, fakta yang mengherankan menurutnya. "Kau masih melajang sampai sekarang. Teman-temanku sibuk memamerkan calon menantu mereka, itu membuatku sangat sedih. Apa yang dapat kulakukan Naruto? Kau mau aku yang merapikan dasimu selamanya?"

            "Sasuke bisa melakukannya untukku, Ibu jangan khawatir. Dia benar-benar mahir dan tidak cerewet."

           "Kalian menjalin hubungan di belakangku? Kau selalu menyebut namanya dan dia ada di sisimu setiap waktu, apa kau paham dampaknya putraku?" Alis-alis Naruto bertautan. Sambil bersedekap, dia mengamati ibunya ini dengan tatapan kesal.

          "Sama sekali tidak lucu, jangan mengulanginya lagi! Ibu buruk dalam membuat lelucon. Dia sahabatku, entahlah! Terkadang aku merasa bisa lebih dari itu, semacam pertalian saudara. Dia mendahulukan kepentinganku daripada dirinya sendiri, dia tidak mengeluh, sabar untuk sikapku yang ya ... kata Ibu kekanak-kanakan."

             Jeda sejenak sambil dia menepuk-nepuk permukaan jasnya. Si tampan pirang ini sempurna, "──Di samping itu, Aku juga tidak akan meninggalkan dia. Dia hanya punya Aku, Bu. Keluarganya menyingkirkan dia. Ibu ingat 'kan?"

"Tentu--kalian menghabiskan masa pertemanan di masa kecil dengan luar biasa."

"Bahkan Ibu sendiri pernah menyayangi dia layaknya aku. Jadi, di mana salahnya?" 

Hela napas Kushina mengudara rendah, dia memeluk tubuhnya sendiri, "Ibu tidak bermaksud demikian. Ibu tetap menyayangi Sasuke, walau bukan seperti yang kau ingat. Hanya saja, kedekatan kalian menimbulkan stigma negatif di antara teman-teman Ibu dan keluarga besar kita. Ibu takut suatu hari hal ini akan melebar ke mana-mana, lalu mempengaruhi citra kita di muka umum." 

              "Ibu percaya padaku 'kan?"

              "Kau satu-satunya yang kupercaya, Nak. Tapi pembicaraan ini tidak mengubah keputusanku, kesepakatan kita tetap berjalan. Temukan wanita yang hendak kau nikahi, atau Ibu akan melamar Sakura untukmu."

            Naruto mendengkus. Meski sering bertentangan, menolak permintaan Ibunya bukanlah pilihan. Kedua tangannya meremas pelan pundak wanita yang paling dia sayangi ini. "Ibu tidak lupa pada janji Ibu 'kan? Masih ada waktu untuk mencari, aku pasti menemukannya."

IVORYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang