⊡ Alternative Universe ⊡
Naruhina Fanfiction
Mature [21+]
Harap pembaca bijak
Genre: Romance Metropolis.
Tolong Etika dipakai terkait ilustrasi yang ada di dalam fanfiksi ini, Terima kasih.
🌵🌵🌵🌵
Fokus Hinata tersentak bertepatan derit pintu mengantar presensi Naruto. Si suami pura-pura tampak kesusahan melepas dasi, sampai dia refleks beranjak mengabaikan lemari yang masih terbuka demi membantu menarik dasi tersebut dengan mudah
"Sini, kucoba!" Dengan telaten dia melepas tautan dasi berikut jas yang di kenakan Naruto sebelum menaruhnya ke dalam keranjang pakaian kotor di samping lemari. "Duduklah sebentar, jika boleh ada yang hendak kubicarakan."
"Soal apa, tumben sekali kau mau seserius ini?!" tanggapnya, selagi dia melangkah menuju sofa, menyandarkan punggung dan kepala ke belakang seiring mata terpejam.
"Kau mau teh atau kopi?"
"Tidak dua-duanya! Berikan saja air dingin, aku membutuhkan itu untuk menyegarkan pikiran." Dia nikmati sekon-sekon yang terlewat, hampir terlelap andai suara Hinata tidak menyapa kesadarannya.
"Aku bawakan kue manju, kudengar kau menyukainya." Naruto menegakkan badan, meraih segelas air di situ dan meneguknya tandas. Kudapan manis di hadapannya juga tak luput dari perhatian, mengingat camilan yang satu ini memanglah favoritnya.
"Hal penting apa yang mendorongmu mengajakku berbincang?" Sebagai trik pengusir hawa kaku, Naruto mengira tak ada salahnya menjadikan suasana di antara mereka sedikit lebih santai.
"Bila tidak penting, aku tidak akan berani bilang. Ini bagian dari kontrak yang berlangsung. Kau sudah mengumumkannya pada ibu, berarti hal itu bukan sekadar basa-basi maupun pengalihan. Tetapi, bagaimana cara kita memenuhi wacana seperti janjimu?! Kau memahami proses bayi tabung 'kan?"
"Yang jelas cukup rumit. Orang-orang memakai cara ini di saat pasangannya mengalami kendala di rahim. Alasanku jelas berbeda--aku risi terhadap kegiatan seksual. Dan tanpa usaha itu, apa yang bisa kuperbuat? Aku harus mewujudkan harapan orang tuaku untuk memiliki keturunanku sendiri, anak yang kelak bisa mengemban tugas-tugasnya sebagai penerus Namikaze.
"Itulah yang mendasari kesepakatan di antara kita dibentuk, kau membeli jasaku."
"Ya, hanya tidak semudah kata-kata. Kau tahu apa yang dapat membuatku datang tanpa adanya penetrasi? Berkali-kali akalku berputar, tetap saja berhenti di solusi yang sama. Rangsangan."
"Tidak mungkin terburu-buru."
"Tidak, namun perlu disegerakan."
"Maaf, Naru--ini agak sedikit blak-blakan. Sebenarnya penetrasi justru mempersingkat waktu. Jika kau tidak terbiasa dengan sentuhan-sentuhannya, kita bisa berkompromi untuk kenyamanan dirimu. Aku mengarahkan dan bisa jadi melalui peragaan-peragaan kecil, kau berhak menolaknya dengan cara baik-baik. Kedudukanku di sini adalah melayani sesuai perintah. Jadi, aku tidak akan bertindak sembarangan tanpa petunjuk. Satu permintaanku supaya kau maupun aku bisa sama-sama menghormati. Barangkali nilaiku telanjur rendah di matamu, tidak berarti aku selalu tahan mendengar cibiran."
Panjangnya penjabaran Hinata, menyebabkan Naruto mendesah berat. "Kau yakin teorimu tadi dapat berhasil?!"
"Aku mempertimbangkan nama keluargamu juga. Bayi tabung sangat berisiko juga mencolok."
KAMU SEDANG MEMBACA
IVORY
RomansaAlternative Universe Naruhina Fanfiction Harap pembaca bijak [𝐌𝐚𝐭𝐮𝐫𝐞] Di kota yang dibangun dari dosa dan gemerlap cahaya neon, seorang wanita malam menerima tawaran untuk menjual waktunya pada pria yang bahkan anti cinta. Namun, di antara ua...
