Lima Belas

2.7K 280 30
                                        

Bertemu lagi sama Fali-Gibran...

Yang kangen ayo angkat tangan.... sorry for the typo 🙏🙏 enjoy the story and happy reading 🤗🤗... Jangan lupa klik ⭐ dan komen ya...

_________________________________________

FALISHA BERJALAN DENGAN RIANG. Hari ini ia dijadwalkan untuk datang mengunjungi paman sekaligus kakak iparnya di rumah sakit. Biasanya, berkunjung ke rumah sakit adalah hal yang paling tidak Falisha inginkan, namun karena kali ini ia memiliki tujuan yang lain, maka...

"Abang Uncle sayang..." Falisha masuk dan menyapa paman sekaligus kakak sepupunya itu dengan riang setelah mendapatkan ijin dari dalam ruangan Gilang.

Gilang mendongakkan kepala dan tersenyum melihat keceriaan di wajah Falisha. "Waahh, kayaknya kamu bawain sesuatu buat Abang Uncle." Selorohnya seraya melihat bingkisan yang dibawa Falisha.

Falisha mencebik dan menggelengkan kepala cepat sebagai jawaban.

"Ini bukan buat Abang Uncle. Jangan pede dulu." Ujarnya seraya meletakkan paper bag ke atas meja tamu yang ada di dalam ruangan Gilang dan berjalan mendekati meja kerja Gilang. "Itu bingkisan buat Mas Dokter nya Fali." Jawabnya seraya duduk di kursi putar di seberang Gilang.

"Iya, kan dokternya Fali itu Abang Uncle . Emang siapa lagi?" Goda Gilang.

Lagi-lagi Falisha mencebik. "Kura-kura dalam tempayan."

"Kura-kura dalam perahu, Fali." Gilang merevisi.

"Iya, kalo itu kan artinya 'pura-pura gak tahu', Abang Uncle. Kalo Fali kan, 'pura-pura gak tahu Abang Uncle tampan'." Ucapnya dengan nada manja yang membuat Gilang tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Gilang bangkit berdiri dan mengeluarkan perlengkapan dokternya dari dalam lemari steril di belakangnya, melangkah mendekati Falisha dan memeriksanya.

"Belakangan ini kamu gak dapet gejala apa-apa lagi? Sakit kepala atau sakit perut misalnya?" Tanya Gilang setelah pemeriksaannya selesai. Falisha menjawab pertanyaan pamannya dengan gelengan kepala.

"Fali gak pernah lupa makan obatnya. Udah gitu makanan Fali kan bener-bener dijaga sama Mama. Fali juga gak pernah terlalu capek lagi. Jam tidur Fali gak pernah lebih dari jam sebelas malem." Ucapnya menginformasikan yang dijawab anggukkan Gilang.

"Bagus, dan teruskan." Ucap Gilang seraya bangkit berdiri dan mengeluarkan sebuah tas kecil yang berisi obat-obatan Falisha dan menyerahkannya pada gadis itu. "Inget kata Abang Uncle."

"Jangan terlalu capek sama stres. Kalau ada keluhan langsung hubungi Abang Uncle atau minimal kasih tahu Aka." Falisha mengulangi ucapan yang sudah biasa ia dengar dari Gilang. Membuat pria itu terkekeh dan mengacak rambut sepupu sekaligus keponakannya itu dengan gemas.

Falisha mengambil dompet berisi obat-obatan itu dan memasukkannya ke dalam tas. Ia lantas bangkit berdiri dan pamit meninggalkan ruangan Gilang dengan membawa paper bag nya tanpa memedulikan ocehan Gilang tentang dia yang terburu-buru keluar.

Dalam perjalanannya menuju ruangan Gibran, Falisha tak berhenti bersenandung kecil. Ia tersenyum lebar ketika melihat pria yang hendak ditemuinya tampak berjalan dari arah berlawanan menuju ke arahnya—tentu saja dengan asistennya yang sudah Falisha kenal.

"Mas DokterKu!" Falisha berteriak seraya melambaikan tangan di atas kepala. Orang-orang yang berada dalam radius lima meter dengannya menoleh ke arah Falisha. Falisha tersenyum malu sambil menggumamkan maaf karena tahu kalau teriakannya mengundang perhatian dan mungkin mengagetkan sebagian orang.

My Doctor, My Love (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang