Arin bersender dia bagian bahu Rangga, mulutnya komat kamit ga jelas, Rangga risih kalo Arin mulai komat kamit, iya lah dia takut disantet.
"Ngga' kalo nanti gue punya anak sama si idola gue, gue mau namain dia Samuel? Atau Aldrick kali ya? Atau bagusnya Helena?" Arin kini mulai ngaco, otaknya koslet tapi Rangga tetep jawab.
"Maemunah bagus tuh."
Arin memukul pala Rangga kencang, ia mendelik sinis.
"Lo bego ya!? Gue kasih nama lo tiga itu, kenapa jadi Maemunah?!"
"Si anjing gue nyaranin doang, lagian Maemunah juga bagus!" Rangga kini mengusap bagian atas kepalanya. Ia yakin pasti ada memar dikepalanya, karna sering digampar Arin.
"Sini anak lo gue namain Maemunah!!" Arin makin emosi.
"Anak siapa? Dia kan anak gue, kenapa jadi lo yang namain?!" Rangga kini balas kesal.
"Soalnya lo jelek, jadi nama anak lo juga jelek tau gak!" Arin kini cemberut dengan bibir yang digulum kedalam, ia meringsut menjauh dari jangkauan Rangga.
Rangga hanya menggeleng pasrah, ia harus gimana dong? Tadi dia minta saran, masa sekarang dia jadi ribut gini.
"Yaudah sini kita bikin aja anak berdua, terus kita collab bareng ngasih nama anaknya."
"Mimpi lo jelek!" Arin misuh-misuh.
Rangga terbahak, sampai-sampai mengeluarkan air matanya, ia menggeleng tidak habis fikir, Arin itukok galaknya bukan main ya? Seperti betina pms setiap harinya.
Arin kembali sandaran, ia menatap langit yang kian menjingga, warna keemasan yang selalu jadi favorite Arin, entah sudah berpuluh-puluh kali atau mungkin ratusan kali? Arin tak pernah bosan memandang langit keemasan itu.
Rangga melirik, "liap apan lo!?"
"Biasa aja anj! Lo tuh ya suka banget teriak depan kuping gue, gue lagi ngebayangin wajah calon suami gue nanti." Arin kembali bersandar, tangannya mengambil buah mangga yang tergeletak diatas meja.
"Siapa calon suami lo?" Rangga kepo.
Arin kemudian tersenyum kecil, menahan tawanya agar tidak meledak. "Manurios."
Mata Arin berbinar, Rangga yang mendengar jawaban itu berdecak tidak suka.
"Halu bego lo, ngawur mulu!"
Arin kini menggeleng, "gue gapapa kalo dijadiin istri simpanannya kok, asalkan dia tetep ganteng." Ia menyengir lebar.
"Dihh simpanan itu ga baik Rin, mending sini sama gue aja." Rangga mengambil potongan buah mangga.
Arin menjulurkan lidahnya, seolah mau muntah, "Najis! Itumah lo modus!!"
"Asal nyata mah gapapa kali, ya ga?" Ranga kini berdiri, disisi pagar pembatas.
"Lo suka jingga Rin?" Rangga kini bertanya.
Ia melirik sebentar sebelum mulut penuh dan lengketnya menyaut, "Ngapain lo nanya gitu, kepo lo kayak dora!"
Rangga menghembuskan napasnya sejenak, ia tersenyum tipis. "Lo kalo ditanya malah kek gitu ya si monyet! Gue serius."
"Gue ga suka." Arin jawab asal.
"Bohong kau bohong!" Rangga kembali mendongakan wajahnya keatas langit, merasakan semilir udara segar dibagian wajahnya.
"Rin, lo serius gamau punya anak sama gue?"
Arin terbahak, ia memukul pundak Rangga kencang, "Najis tralala trilili gue mau punya anak sama lo! Mending sama Manu aja gapapa."
"Khayal lo parah, besok kita ke rumah sakit ya?" Rangga mengusap puncak kepalanya.
Arin menjulurkan tangan, memukul kening Rangga keras, ia mendelik sinis.
"Dihh ogah gue ke rumah sakit, dikira gue sakit apaan!" Arin menggeleng ogah.
Rangga menyambar tangan kurus Arin, melihat sedikit demi sedikit luka goresan tangannya tidak kelihatan, mulai menipis. Dia tersenyum bangga, bisa juga dia menenangkan Arin dalam jangka waktu lama.
"Yaudah kalo gamau, gue tadinya mau ajak jalan dokter cantik ituloh yang suka rawat lo, pengen nanya nomer hpnya apa." Rangga menggerling nakal.
"Kayak dokternya mau aja sama lo, lo kan jelek."
"Lo lebih jelek Rin!" Rangga menyahut sebal.
"Kalo menurut gue, lo itu cantik kok Rin, cuman kurang skincare-an aja." Ucap Rangga santai, sedangkan yang disebelah sedang mengelus wajahnya dengan kening berkerut. Menggulum bibirnya kedalam, terus menerus melakukan hal yang sama. Rangga terdiam melihat kediaman Arin, semakin lama Rangga menjadi curiga.
"Lo kenapa si nyet? Kesurupan?" Rangga mengecek suhu tubuh Arin, si cewe hanya berdiam layaknya patung taman.
"Ck gue udah coba berbagai macam skincare ngga' mulai dari yang murah sampe yang mahal gue coba, tapi muka gue ga glowing. Pake apa lagi ya?"
Rangga menggerutkan kening sedetik kemudian dia tertawa keras, Arin mendecak tidak suka. Tangannya yang kurus menoyor pala Rangga kuat-kuat. Kemudian ia bangkit menuju cermin kamarnya. Ia menuju kamar mandi untuk menuntaskan pikiran tentang skincarenya. Rangga kembali menyusul ke kamar dan melihat beberapa skincare tertata banyak dimeja rias Arin.
Arin..Arin lu udah cantik Rin, tanpa ada luka apapun diwajah lu, mau secantik apa lagi wajah lo? Percuma kalo ga gue milikin juga. Batin Rangga menjerit menahan kenyataan.
Sementara dirinya keluar kamar mengambil mangkok masker, dan menyiapkan alat-alat untuk memaskeri wajah Arin dengan bahan-bahan natural. Ia memilih-milih bahan apa saja yang cocok untuk jenis kulit Arin, kemudian mengambil nya untuk diracik.
Tak lupa ia mengambil cemilan juga jus kesukaan Arin, jus mangga. Anak itu suka sekali rasa asam dan manis secara bersamaan. Kalo diliat-liat tipe makan Arin itu semua Rangga tahu, bahkan sampai porsi nya pun Rangga hapal diluar kepala.
Satu minggu lagi orang tua Arin kembali, ia harap dapat melihat senyuman Arin lagi seperti sedia kala. Karna kekurangan kasih sayang itu benar-benar tidak enak.
Rangga kembali menaiki tangga sambil membawa buatan masker wajahnya, Arin di depan cermin sedang menyisir rambutnya pelan. Kemudian menoleh melihat Rangga membawa nampan.
"Anjirr lo jadi babu benerann, taat banget lo gue suruh-suruh. Hahaha."
"Terpaksa nyet, nih gue bawain masker buat wajah lo. Ini gue pakein ekstra aloe vera supaya kulit lo glowing kek kaca taman."
"Sialan lo!"
"Gue pakein aja lo tinggal duduk di balkon sambil kipas-kipasan, trus gue bikinin juga jus tuh, banyak-banyak berterima kasih lo ya sama gue, punya temen banyak gunanya."
"Iyalah jelas! Lu babu gue." Arin langsung duduk manis dibangku balkon dengan senyum menghias wajah cantiknya.
Wajah se glowing ini aja masih mau dirawat, padahal perkataan Rangga tadi kan hanya bercanda. Tapi cowo itu tetap melakukan kegiatannya, ia sangat suka melakukan hal kecil.
Yang ia tidak sadari hal kecil itulah yang akan membuat Arin menderita.

KAMU SEDANG MEMBACA
ARINGGA
Teen FictionRangga menunjuk wajah datar itu, "gue mati kalo lo mati." Arin tersenyum kecil remeh, "dunia bahkan lebih gelap dari ini." Bakalan muncul kisah yang nggak akan diduga, dibilang cewe kalo jatuh cinta ga akan main-main, justru sebaliknya. Cowo kayak R...