Mereka memilih salah satu toko baju dari beberapa toko baju yang ada di mall ini, Arina diam mengikuti perintah Rangga. Ia memasang wajah begitu datar melirik siapapun dengan sinis. Ia menggumam pelan dengan tidak jelas.
Dia bukan kesal si, lebih tepatnya ia risih dilihat mas mas cowo disepanjang mall, ia tahu ia cantik. Karna memiliki bentuk wajah oval, bola mata hitam, rambut ombre bergelombang, bulu mata lentik dan alis tebal. Kulitnya seputih susu, benar-benar model remaja.
Tapi kalo disuruh pilih, mending dijailin Rangga aja setiap hari.
Ahhh untung Rangga, kalo bukan Rangga dia mana mau disuruh ke mall?
"Rin liat, baju ini bagus buat model cewe kayak lo, keliatan seksi, elegan, trus ramping."
"Bacot!" Arin meninggikan nadanya keras membuat Rangga berhenti memlilih baju, ia menoleh cepat.
"Lo kenapa? Gasuka baju pilihan gue? Atau ga suka gue katain ramping?"
"Gue ga suka apapun diri lo!"
"Dihh pms lo ye, okeoke gue beliin eskrim lima janji!"
"Ga butuh eskrim lo!" Arin semakin meraung tidak jelas, ia benar-benar seperti singa betina. Mau ditendang Rangga pun, Rangga ga akan tega. Mau ditabok kepalanya pun, mood cewe ini sedang ga bagus. Jadi cewe kalo ngambek dibujuk pake cara apadong?
Rangga mengacak rambutnya asal, ia frustasi menghadapi moodnya Arin, benar-benar mendadak dan menyebalkan.
"Injek kek, tendang gue deh sepuas lo, gue rela."
Arin berbalik, ia mengambil tangan kanan Rangga, menggigitnya kencang. Rangga meringis menahan perih, ia yakin sangat yakin akan meninggalkan bekas gigitan yang cukup dalam.
Tes..
Tes..
Air mata Arin meluncur dengan deras, membuat Rangga panik bukan main, "oi Rin, kan gue yang digigit masa lo yang nangis?"
Ia meneguk ludahnya kasar, melihat sekeliling yang mengundang tatapan mata.Ia memilih merangkul Arin mencari tempat yang lebih sepi dari lorong tadi, ia mengusap-ngusap pelan wajah Arin. Ia memegang dagu Arin hingga tampak wajahnya yang berlinang air mata, matanya merah dengan hidung memerah.
"Rinn sini cerita lo kenapa?" Nadanya melembut, dilembut lembutin sih supaya Arin mau cerita, kalo keadaan normal Rangga ga akan sudi memanggil Arin dengan nada seperti itu.
Astaga Rangga.
"Arinaa Dwisanjaya, lo kenapa?"
Akhirnya Arin berhenti menangis, ia memegang perutnya, kemudian menatap Rangga lagi. "Ga, gue laper. Ayo makannn, gue gamau diliat orang jelek!"
"Hah?!"
"Kok hah? Gue gamau diliat orang jelek! Masih hah hah aja!" Arin mendengus sambil mengusap pelan perut ratanya.
Rangga menganga, ia benar-benar dibuat shock lagi, cuman gegara diliat orang jelek dia langsung badmood, harusnya rencana menendang Arin sampai rumah dilaksanakan, bukannya tidak enakan sama mood Arin.
"Sialan lo bocah! Aduhhhh gue mau nangis aja bawa lo ke tempat kayak gini, udah tangan bagus gue lo gigit, trus nangisnya kenceng banget lagi. Mati ae lo sono." Rangga bergerak meninggalkan Arin dengan langkah kesal, Arin hanya mengikuti menganggap omongan Rangga hanya angin lalu.
Yes dia berhasil kerjain Rangga, yah berhasil untuk kesekian kalinya.
~~~
"Rin.." Rangga kali ini memanggil halus, dikarenakan ini ada di balkon kamar Arin.
Arin selonjoran, menempatkan meja bundar pendek disamping dirinya, agar ia mudah ia mengambil makanan ringan ataupun segelas air dingin.
"Arin, oi."
"Gue ga denger."
"Dasar anak setan! Itu lo jawab artinya lo denger."
"Ohh" Arin ber'oh' ria.
Rangga kali ini melemparkan kulit kacang, Arin diam. Rangga melemparkan beberapa kulit kacang lagi, Arin bergerak untuk membersihkan kulit kacang itu yang bersarang di baju dan kepalanya.
"Ngga, lo gamau mati kan? Kalo mau sini gue ada piso baru, mau gue cobain tapi ga ada hal yang harus gue rusak. Jadi lo aja ya?"
Rangga berdiri kemudian masuk ke kamar, bergidik ngeri melihat Arin pms. Yah dia duluan si iseng.
Arin kembali bereteriak sesaat sebelum Rangga keluar kamar, "Rangga bawain gue eskrimmm!!"
"Ogah!" Bales Rangga."Woi jangan songong, lo jadi babu gue selama seminggu!" Arin mengangkat dagunya angkuh, kembali selonjoran. Rangga berkedip kemudian ia membuang napas kasar.
"Dasar anak monyet, gue gamau ikut truth or dare lo lagi. Nyesel gue!" Tapi tetap Rangga melangkahkan kakinya kelantai bawah, ia menurunin tangga. Melihat bi Asih membereskan ruang tengah.
Ia menggeleng, Arin ada pembantu masih aja nyuruh dia, oh iya sekarang dia menjadi salah satu babu Arin. Dirinya yang bego, apa dibegoin sih? Masa mau jadi babu Arin.
Ya allah untung Arin, gumam Rangga.
"Arin Arin, aku sayang kamu, Arin Arin aku benci kamu~~" Rangga bernyanyi membuka kulkas, ia terkekeh pelan kemudian berbalik menutup kulkas.
"Ngga, kita mati bareng-bareng gapapa deh." Arin berada tepat di belakangnya, Rangga kaget dan mundur mentok di pintu kulkas. Arin mendekat selangkah lebih maju. Rangga ga bisa mundur lagi, jadi ia kaku ditempat.
"Ngga' gapapa kan gue jadi istri lo? Atau pacar lo?" Arin hanya berjarak 1 meter dari Rangga, badanya berubah jadi kaku, dia ga bisa ngapa-ngapain. Gimana mau jawab dia grogi. Gimana ya, ga biasanya Arin itu kek gini.
Arin kan bar-bar. Eh ini bukannya bar-bar?
"Rin lu mending mundur dari pada gue cium, gih sono!" Rangga gugup, tapi masih berani ngejawab. Arin mundur perlahan tapi dia ga bergerak terlalu jauh, tapi seengaknya Rangga bisa bernapas lega.
"Rin lo ga mabok kan? Iyalah kan lo kemaren jalan bareng ama gue, kapan maboknya?"
Arin terbahak, "dasar tolol!" Arin tertawa semakin kencang, Rangga berkedip ga ngerti apa-apa.
"Rin__" terpotong.
"Siapa juga yang mau pacaran ama orang jelek kek elo! Minggir lo nyet" Arin mengusir Rangga dengan menarik rambutnya kencang, memindahkan posisi mereka. Rangga meringis, ia mengusap pelan rambutnya. Sialan kalo rontok gimana!
"Lo kalo bukan cewe udeh gue bawa lo ke laut."
"Lo ngapain bawa cowo ke laut?" Arin membalik pertanyaannya.
"Gue tenggelemin lah!" Rangga balas sewot.
"Biasa aja jing, nge gas banget." Arin mengusap daun telinganya pelan. Rangga malah menarik supaya telinganya memerah.
"Aduhhh aduhh sakit Rangga bego!! Lepas ga?! Kalo ga lepas gue doain lo jomblo seumur hidup!" Rangga melepas tarikannya, daun telinga Arin memerah berkedut. Ia hampir saja menangis cengeng.
Arin berbalik mengambil sodet dan memukulkan tangan Rangga yang berotot dengan keras. Kemudian belum sempat mengenai kepala, Rangga sudah lari ngacir.
"Rangga bego!!!!"
~~~

KAMU SEDANG MEMBACA
ARINGGA
Teen FictionRangga menunjuk wajah datar itu, "gue mati kalo lo mati." Arin tersenyum kecil remeh, "dunia bahkan lebih gelap dari ini." Bakalan muncul kisah yang nggak akan diduga, dibilang cewe kalo jatuh cinta ga akan main-main, justru sebaliknya. Cowo kayak R...