Chapter 9

2.1K 253 88
                                        

Chapter 9

.

Sore itu Wonwoo memutuskan untuk pulang kerumah, setelah melakukan segala perdebatan dengan Soonyoung dan Kakak Dokternya. Pada akhirnya mereka menyerah dan membiarkan Wonwoo pulang, meski kondisinya masih belum terlalu stabil.

Kini Wonwoo berada di kamarnya. Saat ia pulang tadi, sempat ada pertanyaan yang dilontarkan kakak iparnya. Ia menjawabnya dengan tenang, berusaha tampak biasa saja, meski nadanya terdengar sedikit lelah. Pada akhirnya, sang kakak ipar menutup percakapan itu dengan sindiran halus yang menohok. Wonwoo hanya membalas dengan senyum tipis, bukan karena tak mengerti maknanya, tapi karena ia terlalu letih untuk memperpanjang masalah. Kondisinya belum benar-benar pulih, dan ia tahu, menanggapinya hanya akan memantik sebuah keributan baru.

Sekarang, ia berada di pantry, menunggu Mingyu yang sedang mandi. Tangannya sibuk menyiapkan dua gelas minuman hangat, sekedar alasan agar ruangan tak terasa terlalu sunyi. Saat pulang pun, Mingyu tidak banyak bicara. Tidak ada teguran, tidak juga kata sambutan, dia hanya diam. Ia membiarkan sang kakak yang menanyai Wonwoo, tanpa sekalipun ikut menengahi atau membela.

Wonwoo paham. Ia cukup tahu diri.
Bagaimana mungkin Mingyu peduli padanya, setelah semua yang terjadi?

Ceklek

Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Kim Mingyu dengan tubuh atletisnya yang berbalut kimono. Wonwoo menatapnya dengan tersenyum, lalu menyuruh Mingyu untuk menghampirinya.

"Ayo minum!" ajaknya sembari tersenyum cerah. Rona pucat diwajahnya masih telrihat, meski samar karena ia menutupinya dengan makeup tipis.

Mingyu tak berucap apapun, dan memilih menghampiri Wonwoo. Ia meraih gelas berisi minuman dingin yang diberikan Wonwoo untuknya.

“Aku tahu kau pasti sedih dengan keadaan putramu sekarang,” ujar Wonwoo pelan. Suaranya lembut, penuh empati yang tulus. Tatapannya menelusuri wajah Mingyu yang hanya terdiam tanpa ekspresi. Lelaki itu meneguk minumannya sedikit, seolah hanya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

“Seharusnya aku bisa menyadarinya lebih awal,” lanjut Wonwoo, kali ini dengan nada getir. “Tapi tetap saja… kau terlalu kejam. Irene noona saja tahu tentang hal ini, tapi aku.. aku adalah istrimu tidak mengetahui apapun. Kau yakin aku ini benar-benar istrimu?” Nada sindiran itu meluncur pelan, tapi tajam.


Mingyu menghela nafas panjang, terdengar sangat lelah, “Aku tidak bermaksud mengabaikanmu, Wonwoo. Aku hanya… tidak sempat memberitahumu. Ini hal yang sensitif untukku,” ucapnya datar, matanya tak beranjak sedikit pun ke arah Wonwoo.

Diam-diam Wonwoo tersenyum miris, tak terlihat. Ada sesuatu di dadanya yang perih, seperti disayat perlahan dari dalam.

“Lalu bagaimana?” tanyanya pelan, mencoba menahan suara agar tetap stabil. “Apa ada cara untuk mengatasinya?”

Sebenarnya, itu bukan pertanyaan murni yang ia keluarkan, melainkan suatu pancingan. Ia ingin tahu apa rencana Mingyu sebenarnya.

“Cara?” Mingyu mendengus kecil. “Entahlah,” jawabnya singkat, kembali meneguk minumannya tanpa menatap Wonwoo sama sekali.

Wonwoo memandangi sosok di depannya dengan tatapan kosong. Rasa kecewa itu menumpuk, satu demi satu, hingga nyaris tak tertampung lagi. “Andai saja kau bisa jujur sejak awal,” bisiknya, sebelum akhirnya suaranya bergetar pelan. “Kau tidak berencana memberi Yunho adik, kan? Itu tidak mungkin… bukan?”

Last Promise [Proses Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang