.
Wonwoo tidak pernah benar-benar tahu apa itu bahagia. Sejak kecil, hidupnya hanya berisi siksaan, tanpa pernah merasakan hangatnya kasih sayang. Fakta pahit terus berdatangan: siapa dirinya, bagaimana asal-usulnya, dan kenyataan pahit lain yang terus menampar hidupnya. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali tertawa tulus—atau kapan terakhir kali merasakan pelukan hangat seseorang yang berarti baginya.
Wonwoo berjalan lesu ditengah gelapnya rembulan malam, dengan tas kerja yang tergantung di tangannya. Wajahnya kusut, sayu, dengan bekas air mata yang masih tertinggal di pipinya yang pucat. Udara dingin menusuk tulangnya, tapi Wonwoo tidak peduli. Jika tubuhnya bisa bicara, mungkin ia sudah dimarahi karena dibiarkan kedinginan. Namun, Wonwoo hanya terus berjalan.
“Eomma… aku butuh dirimu. Aku benar-benar membutuhkannya. Di mana kau sekarang? Aku ingin merengkuhmu… ingin mengadu betapa sakitnya aku. Eomma, aku merindukanmu…” gumamnya lirih saat akhirnya duduk di kursi taman yang sepi.
Malam ini, ia benar-benar sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi tempatnya bersandar. Jika saja pikirannya selemah itu, mungkin ia sudah lama memilih mengakhiri hidupnya agar bisa bertemu dengan ayah kandungnya. Tapi Wonwoo bukan orang yang mudah menyerah. Meski hatinya lelah, ia tahu masih ada tanggung jawab yang harus ia selesaikan. Ia harus bertahan, seberat apapun itu masalahnya.
...
Malam itu, kendaraan sibuk berlalu-lalang. Mungkin sebagian pengendara tengah dalam perjalanan pulang setelah seharian bekerja.
Di balik kemudi, Mingyu tersenyum miris. Ia menertawakan dirinya sendiri, sembari bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya ia bekerja keras untuk siapa? Untuk istrinya? Ya, tentu itu memang sebuah kewajiban. Tapi memikirkan keadaan keluarganya saat ini, hanya membuatnya semakin merasa sesak.
Saat Mingyu pada akhirnya memilih melepas Minghao demi menikahi seorang lelaki yang bahkan baru ia temui tak lebih dari dua bulan. Wonwoo yang dulunya lembut dan rupawan itu, entah bagaimana kini justru dianggapnya sebagai sumber keretakan kebahagiaan. Padahal, Mingyu tidak bisa menampik kenyataan bahwa ia sempat jatuh hati pada sosok manis itu. Namun semua berubah setelah kesalahannya membuat Wonwoo begitu terikat padanya.
“Apakah itu benar obsesi?” batin Mingyu. Atau mungkin… aku yang tidak pernah benar-benar mengerti alasannya mendesak pernikahan ini?
Kata-kata Minghao tiba-tiba terngiang kembali.
"Aku tau, sebenarnya kau telah mencintai Wonwoo sejak kita memutuskan untuk berpisah. Hanya saja, kau belum bisa menerimanya."
Ia teringat akan kalimat yang diucapkan oleh Minghao tersebut. Lelaki manis itu terlihat begitu yakin saat mengucapkannya. Mingyu tau sebenarnya Minghao tidak pernah membenci Wonwoo dan juga dirinya. Minghao hanya kecewa, terlebih padanya. Bagaimana tidak, jika dirinya dikhianati oleh orang yang saat itu berstatus sebagai tunangannya. Mingyu bermain dibelakangnya, terlebih itu bersama sahabatnya sendiri. Minghao jelas kecewa mengetahuinya.
"Kau membuatku membawa dendam ini. Aku tidak akan pernah memaafkan mu! Aku membencimu, Mingyu!"
Saat mengucapkannya, Mingyu tau Minghao tidak benar-benar serius mengucapkannya. Minghao tidak bisa membencinya, apa yang ia katakan itu hanya untuk melupakan segala hal yang menyakitinya.
"Kau lelaki terbaik yang pernah ku kenal Minghao. Maafkan aku." Gumam Mingyu sembari meremas kuat stir mobilnya. Kemudian dirinya menekan pedal gas, saat lampu lalu lintas telah berubah warna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Promise [Proses Revisi]
FanfictionSebuah pertemuan yang keliru menjeratnya dalam ikatan keluarga yang tak pernah ia dambakan. Demi kebahagiaan yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya, ia rela menjadi penjahat dalam kisah hidupnya sendiri. Dibenci, dikutuk, dan ditinggalkan-itul...
![Last Promise [Proses Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/210157295-64-k35568.jpg)