.
Wonwoo melangkah dengan tergesa menuruni tangga darurat. Langkahnya lebar dan terburu-buru, seakan waktu sedang mengejarnya. Beberapa kali tubuhnya menabrak orang yang juga melintas, dan setiap kali itu terjadi, ia hanya sempat membungkuk singkat sembari meminta maaf, lalu kembali berlari menuruni tangga. Napasnya memendek, dengan dada naik turun tak beraturan. Bahkan dua kali kakinya hampir terpelanting karena kurang berhati-hati. Sudah bisa dipastikan kakinya sedikit terkilir, terlihat jelas dari langkah kakinya yang mulai terseok dan berat. Namun Wonwoo sama sekali tak peduli akan hal itu
"Mingyu?"
Suaranya melirih, tatapannya membeku saat melihat sosok yang selama ini mengisi hatinya. Mingyu, berjalan menuju kafetaria dengan seorang lelaki kurus. Lelaki yang ia wanti-wanti untuk tidak mendekati suaminya. Ada amarah, ada ketakutan , serta luka yang tiba-tiba menyeruak bersamaan, membuat jantungnya berdegub tak karuan.
Wonwoo menaham napas, menunduk sejenak sebelum akhirnya melangkah lebih pelan. Ia mendekat ke arah dua orang itu yang kini sudah duduk bersama di sebuah meja, namun keberanian Wonwoo hanya sampai di sana. Ia tak jadi menghampiri, justru memilih bersembunyi di balik tembok pilar, mengintip dari kejauhan.
Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana senyum bahagia lelaki yang ia cintai itu menguar karena seseorang selain dirinya. Senyum yang begitu lepas, begitu ringan, seolah beban dunia tak pernah singgah di pundaknya. Senyum itu, yang begitu dirindukan Wonwoo, justru diberikan kepada orang lain.
Seketika dadanya terasa diremas. Ada rasa sakit yang menohok ulu hati, membuat matanya bergetar menahan tangis.
"Kau sebahagia itu, Mingyu? Apa bersamaku kau tidak pernah merasa bahagia sedikit pun?" bisiknya dalam hati, nyaris tanpa suara.
Hatinya sakit, air mata tak tanggung-tanggung memgalir membasahi pipi mulusnya, tidak isakan dan hanya dalam diam ia menangis. Kedua telapak tangannya mengepak kuat. Ingin ingin berada di posisi lelaki tersebut yang telah membuat suaminya dapat mengumbar senyum lebar tanpa beban. Selama ini dirinya tak pernah mendapatkan senyum tanpa beban itu, yang ia temui hanya senyuman paksa serta tawa palsu yang sering suaminyanumbar untuknya.
'Ting'
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Wonwoo terkejut, buru-buru menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang menghimpit dadanya. Tangannya gemetar saat menghapus air mata di pipinya, lalu merogoh saku celana kainnya untuk mengambil ponsel.
From. Jongin hyung
Datanglah kemari, hasil tes kesehatanmu sudah keluar
Reply
Wonwoo terdiam. Sudut bibirnya terangkat, seolah ada harapan kecil yang menyelinap di tengah luka hatinya. Ia ingin segera mengambil hasil tes miliknya, meyakinkan diri bahwa semua kekhawatiran yang menghantuinya akhir-akhir ini hanyalah bayangan kosong.
Namun sebelum beranjak, ia teringat sesuatu. Seharusnya Mingyu ada di sisinya saat momen seperti ini. Seharusnya Mingyu yang menemaninya, menenangkannya. Bukankah itu wajar, mengingat mereka adalah suami-istri?
Wonwoo menoleh lagi ke arah meja kafetaria itu. Mingyu masih asyik berbincang dengan lelaki itu, bahkan raut wajah mereka kini terlihat lebih serius. Wonwoo menggenggam ponselnya erat, membuka kontak, dan menekan tombol panggilan. Tatapannya tetap terkunci pada sosok Mingyu.
Dari kejauhan, ia melihat Mingyu melirik ponselnya dengan malas. Tidak ada upaya untuk segera mengangkat. Justru, dengan jelas Wonwoo menyaksikan suaminya memilih mematikan panggilan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Promise [Proses Revisi]
FanfictionSebuah pertemuan yang keliru menjeratnya dalam ikatan keluarga yang tak pernah ia dambakan. Demi kebahagiaan yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya, ia rela menjadi penjahat dalam kisah hidupnya sendiri. Dibenci, dikutuk, dan ditinggalkan-itul...
![Last Promise [Proses Revisi]](https://img.wattpad.com/cover/210157295-64-k35568.jpg)