Sorry for typo
"Apa kamu sudah punya kekasih? " pertanyaan spontan dari hati Jesica membuat raut wajah Rena menegang.
Tidak ada yang salah dari pertanyaan itu hanya konten sensitif untuk Rena "Calon suami?" sedikit ragu untuk menjawabnya, bahkan ia juga bertanya dalam hatinya sendiri.
Hancur sudah harapan Jesica. Terlebih saat ia telah menjauhi tempat Rena berdiri tadi kemudian berbalik badan. Ia melihat Rena akan memasuki ruangan sebelahnya tetapi diiringi tawa hangatnya bersama seorang lelaki yang membukakan pintu untuk Gadis itu.
Rena memandang kosong wanita bersama cucunya berjalan menjauh darinya. Pikirannya melayang bersama itu. Alasan terbesar ia siap dipindah tugaskan di negeri orang.
[Flashback]
"Baba, Rena mohon jangan seperti ini." Rena bersimpuh dihadapan ayahnya. Dengan tangan mengepal ia terisak "Berikan Rena kesempatan untuk memilih jalanku sendiri."
Melihat anak semata wayangnya menangis tersedu seperti itu membuat hatinya luluh. Benar, ia tidak boleh egois untuk kesekian kalinya. Putrinya, putrinya tidak boleh merasa bahwa ia tak sayang padanya. " 3 tahun, buktikan kau tidak bergantung pada siapapun, nak. Lalu kembalilah kemari, baba akan menunggumu. Kau setuju?"
Anggukan semangat ia layangkan orang didepannya. Rena bahagia, sangat bahagia. Air mata yang tadinya berasal dari kesedihan sekarang berubah menjadi air mata kebahagiaan. Rena berjanji akan membuktikan tekadnya untuk mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Pasti!
Ayahnya mendudukkan badan dan meraih Rena ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, ia melihat tangisan anaknya. Anak yang selama ini ia besarkan sendiri, ia banggakan, anak yang tidak pernah mengeluh, dan anak yang menutupi rasa sakitnya sendiri. Ia tahu Rena menahan rindu, rindu akan kasih sayang seorang ibu sejak ia dilahirkan di dunia.
Diangkatnya dagu Rena "Tersenyumlah! Baba akan selalu mendoakan mu." ucapnya lembut.
Rena melihat punggung lebar ayahnya keluar dari kamar itu. Ia tahu ayahnya telah kecewa pada dirinya. Untuk pertama kalinya, orang yang sangat ia sayangi meminta sesuatu padanya, tapi ia malah mempertahankan egonya, Rena telah mengecewakan ayahnya.
Satu ini anggap saja Rena kepo, ia segera mendekatkan telinganya kearah pintu kamar sesaat setelah pintu itu tertutup. Terdengar suara ayahnya diseberang sana dengan sangat lirih tapi masih bisa ia dengar, "Maaf pak, nak Hendery, sepertinya perjodohan ini ditunda saja. Saya tidak akan memaksakan kehendak Rena. Maaf."
Sekali lagi Rena benar-benar menyayangi ayahnya, sangat.
Lamunannya terbuyarkan oleh panggialn seseorang, Rena membalikkan badannya ke arah laboratorium. Disana, berdiri seorang laki-laki dengan pipi tirus, alis camar, dan sunggingan senyum ke arahnya.
"Mark?" Seseorang yang sangat mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Seseorang yang akan menjadi pasangan sahabatnya "Dimana Chan- Haera?" Hanya Rena yang memanggil Haera dengan nama Chandara.
Rena mengamati ekspresi Mark yang sepertinya tidak mengetahui bahwa tunangannya itu tadi berada di rumah sakit.
"Ahh, enggak, biasanya kan lo nempel ama dia mulu," buru-buru ia perbaiki ucapannya diiringi tawa yang Rena buat sehangat mungkin. Tidak baik mencampuri urusan orang, itulah yang dipikirkan Rena saat ini. Tapi kemana Chandara sekarang?
"Ladies first" Mark mempersilahkan Rena untuk memasuki ruang laboratorium tersebut. Setidaknya Mark bukanlah manusia kepo yang akan mencerca ucapannya tadi dengan banyak pertanyaan. Jadi yang harus Rena lakukan adalah cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan sesegera mungkin menemui Chandara. Ada banyak hal yang ingin ia katakan saat ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mr.Jung - JAEREN
FanfictionHuang Rena tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya kala itu, semua kacau. Mulai dari terlambat bangun hingga hampir dipecat karena sering absen di tempatnya bekerja. Dan itu semua bermula saat Jung Jaehyun memasuki kehidupannya secara paksa. Che...