Episode 1- Cherry hunt

110 11 0
                                    

Ikatan belakang baju merah itu masih diuntai jemari lentiknya. Aroma debu kering dan tirai merah yang menjuntai di hadapan panggung, pemandangan yang kurang mengenakkan ini terlihat biasa di matanya. Pengap jika dikata, maka tak heran jika gadis itu memakai baju yang agak terbuka.

Bertumpu pada siku putihnya di meja rias lapuk itu, gadis itu melukiskan warna merah di kedua bibirnya. Menatap refleksi dirinya yang berambut albino dengan model terkuncir kesamping. Ditambah dengan barcode yang menjadi daya tarik tersendiri darinya.

Entah sudah keberapa kalinya gadis itu dilempari dengan kedipan mata centil dari pria-pria mabuk dan janji-janji manis yang palsu dari mereka. 'Temui aku setelah ini ya, cantik', hanya perkataan itu yang sama sekali tak dapat dipercayanya di bar kecil itu.

Meski umurnya yang sudah mulai menginjak 21 tahun, dirinya sama sekali tak tertarik untuk mendekati laki-laki asing bahkan hanya untuk sekedar bertukar gelas wine. Dirinya tak pernah berharap untuk memiliki anak seperti wanita seumurannya yang lain, dia lebih memilih menghibur dengan berpakaian 'merah' yang terkadang mengundang sebuah 'niat' tangan-tangan nakal.

Ya, dirinya sudah berjanji untuk menjadi lebih tangguh, dirinya takkan menangis layaknya gadis kecil yang terpisah dari ibunya di karnaval awal tahun.

Tirai merah itu pun terangkat bersamaan dengan denting piano bertabrakan dengan riuh tepuk tangan memenuhi bar pengap itu. Lantunan nada mulai teruntai dari bibirnya, kembali menuai sorakan dari para penonton.

Disisi lain, pemuda dengan iris safir itu tengah mengelap gelas wine yang sehabis dipakai. Tatapannya tertunduk, sama sekali tak tertarik dengan gadis yang tengah tampil di khalayak orang.

"Dia benar-benar cantik,ya?",ujar salah satu pelanggan di hadapannya.

Rekannya mengangguk, "Ya, albino yang menarik bukan? Suaranya juga indah, hmm, aku yakin dia dulu salah satu penyanyi di gereja"

Pemuda bersurai navy itu masih fokus mengelap gelas selanjutnya, meskipun sesekali dirinya menyenandungkan nada selanjutnya dari lagu gadis itu.

Bar Masquèrade, tempat hiburan malam itu tak jarang diramaikan orang-orang yang penat dan stress. Mabuk lah jalan satu-satunya melepaskan semua itu. Cukup segelas wine dan hiburan mewah itu, penat mereka pun dengan mudah hilang dan pulang dengan perasaan 'bahagia'.

Berbagai macam hadiah dan persembahan dari para pria-pria itu mendarat di sofa ruangan pribadinya. Tak jarang juga ada yang mengajaknya berbincang. Kotak-kotak kado, buket bunga dan kartu ucapan menggunung di samping sofanya.

Setelah pria-pria itu pulang, barulah ia meregangkan tubuh di sofa itu sambil sebatas memainkan kotak-kotak kado yang menunggu tuk dibuka.
.
.
.
Tengah malam di bar itu. Langkahnya membawanya ke ruang utama pelanggan, sudah sepi ternyata. Sang gadis duduk di kursi depan meja bartender, menyilangkan kedua tangannya dan menaruh kepalanya disana. Tangan kiri bersarung tangan sangria itu menyentuh sebuah cherry ranum di gelas kaca.

Manik crimson nya melirik sang pemuda bersurai navy yang tengah memegang gagang sapu kayu. Cherry ranum itu dilahapnya perlahan, masih dengan tatapan tertuju kepada sang bartender.

"Nee, Soraru-san" panggilnya

Pemuda itu melirik si gadis albino, kebetulan tugas menyapunya sudah selesai. Tanpa banyak bicara, ia menaruh kembali sapu dan ember lap ke bagian belakang dan berjalan ke arahnya.

"Apa lagi, Mafuyu?"

Yap, Soraru dan Mafuyu. Keduanya bekerja di bar ini, Mafuyu masuk menjadi penyanyi sementara Soraru bekerja di balik meja bartender. Tak ada yang istimewa di hubungan keduanya, entah Soraru sendiri yang memang tidak peka ataupun Mafuyu yang terlalu murahan.

[Camaraderie] Royal Scandal x Utaite fanfictionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang