"Bagaimana kau mendapatkan kunci itu, Soraru-san?" Mafu bertanya dengan suara bergetar.
Pemuda bermanik safir itu diam, seakan menahan jawaban. Tanpa basa-basi ia berdiri dan menaruh kunci itu dalam kantung celananya, "Bukan urusanmu kan?"
Mafuyu terdiam, menatap kosong punggung Soraru yang perlahan menjauh.
.
.
.
Mari kita tilik sebentar apa yang terjadi 3 tahun yang lalu.
.
.
.
Bar Masquèrade.Seperti yang sudah dikatakan, bar kecil disudut kota itu ramai akan pengunjung. Konon, pemilik bar itu adalah sepasang suami istri. Sang suami yang memang bekerja sebagai bartender di masa mudanya sementara si istri adalah seorang desainer baju yang cukup terkenal di kalangan bangsawan.
Selain bar, sepasang suami istri itu juga punya butik. Namun entah bagaimana nasibnya setelah 7 tahun ditinggalkan.
Shoose Evalliane dan Lon Evalliane. Keduanya tak bisa memiliki keturunan setelah rahim Lon diangkat karena percobaan pembunuhan oleh seseorang di masa lalu.
Ah, mari kita berfokus pada gadis brunette satu ini.
Amaitsuki.
Ya, Amaitsuki. Kala itu, dia dan Mafuyu sama-sama menjadi maid di bar kecil itu. Namun, jangan anggap gadis satu ini punya riwayat sebagai orang yang rajin bekerja.
Ia lebih doyan bermain dengan para laki-laki.
Murahan? Entahlah, nilai dulu wajahnya. Setiap malam tidur di pelukan laki-laki yang berbeda dan hebatnya, Amaitsuki terbiasa dengan itu.
4 pemuda sudah lebih dari cukup bukan? Urata, Sakata, Shima dan Senra hanyalah marionette yang dibangunnya dengan dalih cinta. Satu pihak akan mendapat kepuasan nafsu sementara pihak satunya lagi akan mencapai ambisinya.
Ya, katakan saja Amaitsuki disini gadis yang ambisius.
Ambisi untuk mendapatkan cinta dari pemuda safir itu dan...
...ambisi untuk menggeser kedudukan Mafuyu di mata Nyonya Lon serta Soraru.
Ajaib bukan? Dibalik wajah polosnya itu tersembunyi sebuah jiwa yang bengis. Dan Amaitsuki cukup sadar akan hal itu.
"Omong-omong, kalian percaya Mafuyu bisa menjadi pilihan Nyonya Lon?" tanyanya dengan suara yang dimanjakan.
Tanpa keempat pemuda itu membuka mulut tentu Amaitsuki sudah tahu dengan jelas apa jawabannya.
"Tentu saja tidak, manis. Karena kau gadis yang pantas untuk itu" celetuk si manik emerald.
"Dia benar, lagipula kau ini juga punya kami untuk mengatakan itu kepada dunia, bukankah begitu, Shima?" sambung si rambut merah.
Si surai ungu mengangguk sambil menyunggingkan senyumannya. Tak lama, Senra berlutut dan mencium perlahan betis si gadis yang terekspos, "Tapi tentu saja kau tahu bayarannya bukan?"
Keempat pemuda itu tersenyum misterius seakan memberi kode tentang bayaran yang dimaksud.
"Bagaimanapun caranya aku akan menjatuhkannya..."
.
.
.
Namun ketahuilah bahwa apa yang diinginkan harus ada sesuatu yang dikorbankan. Termasuk kerja keras yang pantas dibayar.Tiara yang bertengger manis di surai albinonya cukup menandakan semuanya. Dan disanalah Nyonya Lon dan Mafuyu berdiri bersama diatas panggung kayu,
"Hadirin yang berbahagia, perkenalkanlah sang 'Bunga Malam Masquèrade'!!" ujar wanita bersurai kuning itu.
Riuh tepuk tangan bertabrakan dengan sorak sorai para hadirin. Sementara itu Amaitsuki tercengang, jelas-jelas apa yang dilihat olehnya bukanlah sesuatu yang ia inginkan. Amarahnya yang kian memuncak dan rasa iri yang meluap-luap membuatnya tak bisa berpikir jernih.

KAMU SEDANG MEMBACA
[Camaraderie] Royal Scandal x Utaite fanfiction
Fantasy(UTAITE X ROYAL SCANDAL FANFICTION) Ini adalah wonderland yang risak. Jika kau menyerah kepada realita esok hari dan tidur, maka dongengmu berawal pada tengah malam. Satu-satunya hal yang dapat kau lihat bukanlah kebenarannya. Segalanya disini tabu...