Chapter 5: Parachute, Chocolate Cake, and a Friend

30.3K 2.1K 52
                                        

"Apa kau tahu siapa yang mengambil foto tersebut?" Ali Al Harbi meletakkan cangkir kopinya dan matanya fokus menatap Hamdan.

Sedangkan Hamdan justru tak berpaling dari iPhone-nya. Tapi ia masih menyahuti pertanyaan Ali. "Aku tidak tahu, Zabeel dan Essa tidak akan berani menyebarkan foto sejenis itu. Lagipula sewaktu di Omnia aku tidak bersama Essa dan timnya. Saat itu aku datang sendiri, dan datang lebih awal karena aku langsung mampir sepulang dari gym," jelas Hamdan panjang lebar dan masih tidak mengalihkan pandangannya dari benda canggih di genggaman tangannya.

"Kau harus lebih berhati-hati, bagaimana bisa kau bertingkah bodoh seperti itu?" Ali menaikkan suaranya. Menuntut Hamdan agar memerhatikannya.

Tapi sayang sepertinya Hamdan masih tak berniat meninggalkan layar ponselnya. Bahkan Mohammed kecil yang meminta perhatian darinya tak ia pedulikan. Hamdan masih asyik memangku dagunya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya masih sibuk dengan ponselnya.

"Ah... aku ingat sekarang. Bukankah gadis itu adalah salah satu peserta yang terpilih menjadi sepuluh besar?" tanya Ali.

Hamdan mengangguk.

"Lalu bagaimana bisa kalian saling bertemu di luar?" Ali kembali melakukan intervensi.

"Sebelum ada kompetisi itu aku sudah bertemu dengannya. Tiga kali. Pertama aku tak sengaja menabraknya sewaktu bersepeda di Deira. Lalu kedua saat ulang tahun Aisha, selanjutnya saat aku mengajak Zayed dan Saeed sarapan di Home Bakery aku kembali bertemu dengan Rebecca," jelas Hamdan tak mempedulikan Ali yang nampak mulai kesal padanya.

"Jadi namanya Rebecca hum?" Ali menaikkan sebelah alisnya saat Hamdan kembali meresponnya dengan anggukan kepala. Ali mengernyit saat ia melihat tingkah Mohammed—putera kelimanya—yang tengah berdiri di samping Hamdan dan ikut menatap lurus pada layar ponsel Hamdan. Ekspresi Mohammed terlihat sangat lucu.

"Ya Hamdan! Apa kau masih menganggapku ada?" Ali benar-benar terlihat kesal. Menurutnya Hamdan sudah bertingkah sangat tidak sopan padanya. Dari segi status dan kedudukan, boleh saja Hamdan seorang pangeran, tapi dari segi umur Ali jauh lebih tua dari Hamdan. Dan tidak seharusnya Hamdan tidak mengacuhkannya seperti saat ini.

"Sheikh...," panggil Mohammed pada Hamdan, "whos te girl?" anak laki-laki berusia 4 tahun itu bertanya dengan kalimat berbahasa Inggris yang tak jelas namun masih dapat dimengerti oleh Ali. Ali membulatkan matanya tertarik. Segera saja ia berdiri dan menghampiri tempat duduk Hamdan.

Ali berdiri di belakang Hamdan yang tidak menyadari tindakannya. Hampir saja tawa Ali menyembur saat ia tahu apa obyek yang sedari tadi menyita perhatian Hamdan. Tapi sayangnya sifat jahil Ali sedang di atas angin, dan dengan cepat ia merebut ponsel Hamdan.

"Oh Ya Allah... sepertinya ada yang sedang dimabuk cinta kurasa," Ali tersenyum lebar dan tak bisa menyembunyikan rasa geli di matanya. Jadi sedari tadi Hamdan tak mengacuhkannya karena Hamdan sedang memandangi foto Rebecca di ponselnya. Ali menatap layar ponsel dan Hamdan secara bergantian dengan alis yang dinaik-turunkan.

Hamdan tersenyum, "Ayo Mohammed, saatnya kita...," Hamdan meraih Mohammed ke dalam gendongannya, ia menggantung kalimatnya berharap Mohammed menyahutinya.

"Jump... and fly!" teriak Mohammed riang dengan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi lalu membentuk tanda khas Uni Emirat Arab—mengacungkan jempol, telunjuk dan jari tengah, sedangkan jari manis dan kelingking terlipat ke dalam.

*****

Rebecca menutup pintu lokernya dengan sangat keras. Napasnya tersengal menahan amarah. Ia mendengar beberapa staff wanita membicarakannya di ruang ganti. Bahkan mereka tidak perlu sungkan hanya untuk mengecilkan suaranya. Menggunakan bahasa Inggris pula.

Lady Al RasheedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang