Abel menelan ludah yang terasa kering, gadis itu meraba-raba di belakangnya dengan panik, lalu meraih selot jendela. Namun Alan meraih tangannya dengan cepat. Dihimpitnya Abel hingga gadis itu bisa merasakan hembusan napas Alan.
"Where are you going, Sabela?" bisik Alan. "Kamu tahu? Kamu cantik pakai itu. Apa ini sebuah sambutan untukku?"
Di tengah rasa takut yang mencekam, Abel mengayunkan clutch-nya dan memukul kepala Alan kuat-kuat hingga pria itu terhuyung. Gadis itu berusaha membuka jendela, lalu menjerit ketika rambutnya ditarik kuat. Ia menyeret Abel menjauhi jendela, dan menghempaskannya ke lantai.
Abel memberontak. Gadis itu mengayunkan clutch-nya lagi, namun Alan menghindarinya kali ini. Lelaki itu kembali meraih rambut Abel hingga seluruh kulit kepalanya terasa pedas. Dengan mata berair, Abel meraih apa pun yang bisa diraihnya, lalu menghantamkan helm ke kepala Alan hingga Alan melepaskannya.
Mencincing rok ketatnya, gadis itu berlari sambil berusaha meraih ponsel. Alan mengusap sisi kepalanya dan menggeram murka. Dalam beberapa langkah lebar, lelaki itu berhasil menangkap lengannya.
"Tolong!" teriak Abel sambil memukul-mukul Alan dengan clutch, namun Alan berhasil merampas clutch-nya. "To--"
Alan menamparnya hingga telinga Abel berdenging, lalu membanting tubuh Abel hingga menubruk rak buku sebelum tersungkur ke lantai. Dengan seringai puas, Alan menarik kaki Abel. Abel menjejaknya kuat-kuat hingga pegangan Alan mengendur. Merangkak, gadis itu meraih ponselnya yang terlempar. Namun Alan berhasil meraih kaki Abel hingga gadis itu kembali terjatuh dengan dagu menghantam lantai.
Nyeri hebat menguasai rahang hingga kepalanya terasa pening. Mata gadis itu memburam dengan cepat. Rambutnya yang sudah riap-riapan membuat Abel tidak bisa melihat dengan baik. dengan semuruh tubuh yang gemetar dan pandangan berkunang, ia berusaha membuka daftar panggilan dan menekan daftar paling atas.
Namun belum sempat Abel bersuara, Alan merampasnya dengan kasar. Seketika, wajah lelaki itu menggelap. Dibantingnya ponsel itu hingga layarnya retak dan mati.
Alan berusaha menyeret kaki Abel, dan Abel menggunakan posisi ini untuk menendang bahu Alan. Alan menggeram ketika Abel melepaskan diri dan merangkak menjauh. Lelaki itu kembali menariknya dengan kuat dan membalik tubuh Abel, lalu duduk tepat di atas perutnya hingga napas Abel terempas.
"Mengapa kamu membuatnya menjadi begitu sulit?" bisik Alan mencengkram rahang Abel dengan kuat dan menuangkan sesuatu di mulutnya hingga ia tersedak.
"Gadis pintar," bisik Alan dengan pandangan berkabut. Ia menarik kebaya Abel hingga terkoyak, lalu mendekatkan wajahnya. "Pelan-pelan saja, kita--argh!"
Abel menghantamkan punggung buku ke wajah Alan hingga mengenai mata lelaki itu. Abel segera membebaskan diri ketika pegangan di kakinya mengendur. Sekuat tenaga, gadis itu berlari menuju jendela, namun Alan kembali menangkap pergelangan kakinya. Ia menendang sembarangan, dan cekalan Alan terlepas. Abel mendorong dirinya sendiri keluar jendela, lalu jatuh bergulingan.
Gadis itu bangkit dan berusaha menjauh secepat mungkin. Ia terisak hebat. Wajahnya merah padam dan basah. Rambutnya kusut masai. Dengan tangan gemetar dan jantung yang bertalu kencang, Abel meraih gembok gerbangnya, lalu menangis ketika gemboknya terkunci.
"Tolong..." gumam Abel ketika tubuhnya mulai terasa lemas.
Gerbang tinggi yang tertutup setengah itu justru kini jadi penjara. Gadis itu menggoyangkannya dengan putus asa.
Jalanan sepi dan gelap. Pada perumahan yang masih sepi penghuni begini, beberapa blok masihlah berupa lahan kosong yang penuh semak belukar. Ada tetangga di sebelah rumah dan di depan rumah, namun pintunya tertutup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Colour Palette [FINISHED]
RomanceKetika Abel tidak bisa menyebutkan nama-nama rimpang dengan benar, Abel sadar dirinya bukanlah menantu idaman Leah. Tapi, bukankah cinta selalu tentang perjuangan? Setelah kekurangan-kekurangan yang ia miliki, ia tidak bisa membiarkan kekurangan...
![Colour Palette [FINISHED]](https://img.wattpad.com/cover/228512244-64-k632810.jpg)