19 | Anomali

10.5K 1.6K 589
                                        

"Orang lain selalu punya ekspektasi, dan kita nggak selalu bisa memenuhi ekspektasi mereka sekeras apapun kita sudah berusaha. Terima dan bangkit lagi. Lo juga harus mulai menghargai diri sendiri, Sabela. Jangan ikut-ikutan memandang rendah diri sendiri. Kalau lo ikut-ikutan memandang rendah diri sendiri kayak gini, lo beneran tamat."

Meskipun Abel mendengarnya beberapa jam lalu, namun kalimat itu masih terngiang di telinga.

Bukankah kalimat itu terkesan membenarkan diri sendiri? Sejauh apa dia harus menghargai diri sendiri agar tidak menjadi egois? Bukankah batas antara menghargai diri sendiri dan egois itu tipis? Bukankah dalam sebuah hubungan, berkorban adalah hal yang normal?

Gadis itu meletakkan kepalanya di meja makan dan memandangi undangan kecil yang sedari tadi terletak di depan mata.

Menerima, ya.

Momen ketika Arvin memberikan undangan itu padanya, Abel sudah berjanji bahwa ia akan menerima semuanya. Abel berjanji bahwa ia akan berani menghadapi segala keputusan yang dipilih Arvin. Tapi ternyata, proses penerimaan tidak semudah itu. Dia tidak tahu jika berdamai dengan rasa rindu dan cemburu ternyata sesakit ini. Dia juga tidak tahu jika mematikan segala asa tentang mereka, ternyata adalah hal yang menyiksa.

Abel menyusurkan ujung telunjuknya pada motif vintage yang menghiasi undangan itu.

Bagaimana bisa benda sekecil ini mampu merenggut rasa bahagia bahkan ketika hari masih muda?

Mata Abel kembali memanas. Didorongnya benda itu ke tepi, lalu memutuskan untuk mandi.

===

Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi ketika Abel selesai menjemur cucian. Gadis berpiyama dengan rambut yang masih lembab itu baru akan berbalik ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Nugi keluar dari sana, lengkap dengan kaus putih polos, celana training, dan snapback hitamnya.

Pemandangan tentang Arvin malam itu mengguncang kesadaran Abel hingga sesaat ia terpaku. Begitu seratus persen nalarnya kembali, ia baru menyadari posisinya yang sangat...mengerikan. Dan begitu saja, tubuhnya merinding hingga ia refleks menampar Nugi. Begitu berbalik, ia mendapati Manda menatapnya dengan syok seraya memegangi dada. Ia juga ingat beberapa pengunjung ternganga oleh adegan yang baru saja terjadi.

Sepanjang sisa pertemuan mereka, Abel tidak henti-hentinya meminta maaf. Manda tidak ambil pusing. Lelaki itu justru sibuk menertawakan warna merah di pipi Nugi. Untung saja, itu adalah malam terakhir ia bertemu mereka berdua.

Jadi ketika ia melihat Nugi pagi ini, perutnya melilit tidak keruan. Tapi lelaki itu sepertinya tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi tadi malam. Ia berjalan mendekati Abel seraya menyelipkan satu tangannya ke dalam saku, sementara tangan yang lain tengah menenteng picnic container susun.

"Ada masalah sama desain?" tanya Abel begitu Nugi berhenti tepat di hadapannya. Mata gadis itu menjelajahi wajah Nugi, mencari-cari warna merah di sana.

"Nggak ada. Hari ini keluar jam berapa?"

"Sepuluhan, ketemu klien," jawab Abel penuh antisipasi. "Kenapa?"

Nugi mengangkat bawaannya. "Ayo sarapan bareng."

Abel yang belum terbiasa dengan kerandoman Nugi, mengerutkan kening.

"Terima kasih khusus dari gue karena lo udah mau ngebantuin Comma." Nugi tersenyum. "Manda bahagia luar biasa."

"Nggak perlu repot-repot," gumam Abel tanpa mampu menahan diri untuk tidak mengamati wajah Nugi, lalu diam-diam merasa lega ketika bekas tamparannya tidak ada lagi. "Athlas, gimana?"

Colour Palette [FINISHED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang