Genre : Romance, Chicklit, Action, Thriller
Roseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa...
Suasana di sudut kantin sekolah terasa jauh lebih berat dari biasanya. Seolah ada awan mendung yang sengaja menggantung tepat di atas kepala Jimin. Pemuda itu menelungkupkan wajahnya di atas meja kayu, mengabaikan kebisingan di sekelilingnya.
"Sudah satu minggu gadis itu tidak masuk kelas," celetuk Jin sambil menyesap es jeruknya dengan santai.
J-Hope segera menyenggol lengan Jin dengan sikunya, memberikan tatapan peringatan. "Jangan diingatkan terus, nanti dia makin sedih."
Suga, yang sedari tadi fokus pada ponselnya, menyahut tanpa menoleh, "Biarkan saja. Paling tidak dia perlu belajar kalau hidup tidak selalu semanis drama Korea."
Jimin akhirnya mengangkat kepalanya sedikit. Matanya tampak agak sembab, raut wajahnya benar-benar menunjukkan rasa kehilangan. "Aku sudah mendengarnya, tidak perlu diperjelas lagi," gumamnya dengan suara serak.
"Makanya, jangan terlalu cepat menaruh hati," RM menimpali dengan nada logisnya yang kadang terasa tidak berperasaan. "Kalian baru kenal seminggu. Kalau dia tiba-tiba menghilang, ya sudah, itu risikonya."
Jimin mengacak rambutnya frustrasi. "Bukannya menghibur, kalian malah membuat kepalaku makin pusing."
"Begini saja," Jungkook memberikan usul sambil mengunyah camilannya. "Tanya saja pada geng Jennie dan yang lainnya. Mereka pasti tahu sesuatu."
Taehyung menyipitkan mata, menatap Jungkook dengan penuh selidik. "Halah, itu hanya alasanmu saja supaya bisa mendekati Lisa, kan?"
"Terserah apa katamu. Daripada kamu, tidak punya keberanian sama sekali," balas Jungkook santai.
Pertengkaran kecil itu terus berlanjut hingga Suga tiba-tiba berdiri dan meregangkan otot-ototnya. "Sudah, berisik sekali. Minggir, aku mau tidur cantik dulu."
Semua orang di meja itu terdiam, menatap Suga dengan tatapan aneh. "Tidur cantik?" tanya J-Hope bingung.
Suga memutar bola matanya malas. "Istirahat sejenak supaya wajahku tetap segar. Pikiran kalian saja yang terlalu jauh. Dasar tidak produktif." Setelah memberikan tatapan sinis, ia kembali menyandarkan punggung dan memejamkan mata.
Di sisi lain kantin, suasana di meja Jennie, Jisoo, dan Lisa pun tidak kalah suramnya. Ada campuran antara rasa rindu dan kekesalan yang menggantung di udara.
"Pesan tidak dibalas, telepon dialihkan terus," keluh Jisoo sambil menatap layar ponselnya yang gelap. "Dia benar-benar menghilang begitu saja."
Jennie mengaduk makanannya tanpa selera, wajahnya tampak dingin. "Sudahlah. Mungkin dia sudah sibuk dengan kehidupan lamanya di sana. Mungkin dia sudah lupa kalau pernah punya teman di Seoul."
"Benar juga," sahut Lisa singkat, meski raut wajahnya tetap terlihat sedih.
"Aku lelah memikirkannya. Mungkin memang dia tidak menganggap kita sepenting itu," ucap Jisoo mencoba bersikap realistis, meski ada nada kecewa dalam suaranya.
"Benar sekali," timpal Lisa lagi.
Jennie menatap Lisa dengan tajam. "Dari tadi kau hanya bilang 'benar' terus. Katakan sesuatu yang lebih berguna."
Lisa menyengir canggung. "Habisnya, aku juga bingung mau bicara apa."
"Astaga, kalian ini kekanak-kanakan sekali," gumam Jisoo sambil memijat pelipisnya.
"Memangnya Kakak merasa sudah sangat tua?" tanya Lisa dengan wajah polos tanpa dosa.
"Bukan begitu konsepnya, Lisa!" geram Jennie, hampir saja mengangkat sendoknya untuk mengancam.
Melihat situasi yang mulai memanas, Lisa segera memasang wajah memelas dan membentuk jarinya menjadi tanda damai. "Iya, maaf. Kalian semua masih terlihat sangat muda kok."
Saat mereka sedang sibuk berdebat, mata Lisa menangkap rombongan pemuda yang berjalan mendekat dari arah pojok kantin. "Eh, lihat. Kelompok Batang mau ke sini."
Jisoo menghela napas panjang. "Sudah kubilang, jangan menyebut mereka dengan nama aneh-aneh lagi. Malu didengar orang."
"Habisnya, pengucapannya mirip," gumam Lisa membela diri.
"Otakmu saja yang perlu dibersihkan," ledek Jisoo. Belum sempat Lisa membalas, J-Hope sudah berdiri di samping meja mereka dengan senyum ramahnya yang khas.
"Halo semuanya," sapa J-Hope dengan nada yang sengaja dibuat ceria. "Ada yang tahu Rose ada di mana?"
Jennie menjawab tanpa menoleh sedikit pun ke arah J-Hope. Suaranya terdengar sangat dingin. "Dia sudah kembali ke asalnya."
J-Hope berkedip bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Asal? Maksudnya bagaimana? Aku tanya orangnya di mana, bukan asalnya dari mana."
Jennie mendengus kasar, tampak kehilangan kesabaran. "Maksudku, dia sudah kembali ke kampung halamannya yang jauh di sana!"
"Ooh... katakan saja kalau dia pulang ke negaranya," gumam J-Hope pelan.
Jimin, yang sedari tadi berdiri di belakang RM dengan wajah lesu, akhirnya bersuara. Suaranya terdengar penuh keputusasaan. "Maksudmu... dia kembali ke Selandia Baru?"
Ketiga gadis itu mengangguk secara bersamaan dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.
Jimin merasa tenaganya seolah menguap seketika. Bahunya merosot tajam, dan secercah harapan yang tersisa di matanya padam sudah. "Jadi benar-benar sudah pergi ya..."
"Sudah terjawab, kan?" usir Jennie ketus. "Sekarang silakan pergi, kalian merusak pemandangan di meja kami."
"Tunggu sebentar," cegah Jimin cepat. "Kalian punya nomor barunya? Atau ada cara lain untuk menghubunginya? Tolong..."
"Ada nomor lamanya, tapi tidak aktif sama sekali," jawab Jennie sambil melipat tangan di dada. "Percuma kuberikan padamu kalau ponselnya saja mati total."
RM mencoba membantu menengahi, "Siapa tahu nanti aktif lagi. Boleh kami minta nomornya?"
"Tidak. Sudah sana, pergi!" potong Jennie sambil mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat.
"Baiklah. Terima kasih informasinya," ucap RM pasrah. Ia hanya mendapatkan dehaman singkat sebagai jawaban.
Dengan langkah yang gontai dan berat, rombongan pemuda itu kembali ke meja mereka. Jimin berjalan paling belakang, kini ia resmi menyandang status sebagai pemuda yang patah hati oleh jarak ribuan kilometer. Takdir seolah sedang mempermainkannya dengan cara yang paling menyakitkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.