"Kepada Marshanda Nareswara, dipersilakan untuk segera menemui seseorang di ruang interkom lantai dua."
"Saya ulangi, kepada saudari Marshanda Nareswara, segera menemui seseorang di ruang interkom lantai dua. Terima kasih."
Yang namanya baru saja disebut dua kali melalui interkom yang terhubung ke speaker di seluruh kelas di SMA Atmajaya refleks menghentikan kegiatannya bermain ponsel. Ia langsung mendongak, bersitatap dengan sahabatnya yang duduk sebangku dengannya.
"Sha, siapa tuh?" Syena ikut penasaran.
"Mana gue tau!" Sementara hanya itu yang bisa Marsha jadikan jawaban.
"Buruan samperin, gih! Siapa tau penting!"
Menurut Marsha, Syena ada benarnya juga. Siapa tahu yang memanggilnya di interkom adalah seorang guru yang memang membutuhkan bantuannya saat ini. Atau, kerabatnya yang jauh-jauh menyusulinya ke sekolah hanya untuk memberi kabar yang entah apa itu. Marsha hanya bisa mengira-ngira saat ini, sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dimaksud.
Bukannya jawaban atas beberapa pertanyaan di otak, Marsha justru makin bingung. Pasalnya, saat dia tiba di ruangan interkom, tidak ada satupun orang di sana. Pintu ruangan terbuka dengan kunci masih menggantung di bagian luar.
"Hei!"
Tiba-tiba, suara yang sempat beberapa kali ia dengar muncul dari belakang. Marsha membalikkan badan. Ia mengernyit, setelah mendapati seorang laki-laki yang bersandar pada pintu ruangan.
Laki-laki itu lagi!
"Loh? Kok lo di sini?" Marsha langsung menyuarakan apa yang terlintas di otak.
"Gue tiba-tiba muncul di rumah lo juga bisa."
Kali ini Marsha kehabisan kata-kata. Yang satu itu ... terdengar sangat menyeramkan.
"Bercanda," kata laki-laki itu kemudian. Ia tertawa kecil dan melanjutkan. "Gue tadi yang manggil lo ke sini."
"Hah?" Marsha melotot. "Ngapain?! Lo mau kejar-kejaran lagi sama guru gara-gara gunain fasilitas khusus buat anak klub radio?!"
"Yah, bentar doang kok!"
"Gue nggak mau ya ikut kena imbasnya gara-gara lo! Pokoknya kalo ada guru yang lewat gue bakal langsung lapor kalo ini kerjaan lo!"
"Eh, kok gitu?"
"Tuhkan, lo panik! Lagian, ngapain sih manggil gue lewat interkom? Ke kelas gue langsung 'kan bisa!"
Sang tuan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gue nggak tau lo kelas berapa."
"Tapi tau nama panjang gue siapa? Hebat. Si pengintip dan penguntit."
"SEMBARANGAN!" Laki-laki itu maju satu langkah. Sementara Marsha refleks mundur selangkah.
"Yaudah, mau lo apa manggil gue ke sini? Buruan, bentar lagi waktu istirahat selesai."
"Ini," laki-laki itu mengeluarkan sebuah cokelat dengan pita merah muda di atasnya. "Tanda terima kasih gue ke lo. Soal kemarin."
"Gue alergi cokelat."
"Sumpah?"
"Apalagi kalo lo yang ngasih."
"Ah, kalo tau gitu gue minta temen gue aja yang ngasih."
Marsha memutar bola mata. "Lo nggak perlu ngungkapin rasa terima kasih lo pake beliin gue sesuatu gitu. Gue ikhlas bantu lo, dan nggak ngarepin imbalan apapun dari lo. Sebelumnya, maaf, gue nggak bisa terima cokelatnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
the option
Fanfictionaku dihadapkan pada dua pilihan. namun inginku ialah membuat opsi baru, dengan tidak memilih keduanya.
