Surprise

1.3K 223 36
                                        

Satu bulan lebih telah berlalu, dan kehidupan Chae-young di Auckland mulai kembali ke ritme lamanya. Namun, ada satu hal yang selalu mengusik pikirannya: penantian akan kepulangan June, pria yang selama ini mengisi hari-harinya.

​Sore itu, Chae-young sedang meringkuk di sofa, matanya terpaku pada layar televisi yang menampilkan adegan klimaks drama favoritnya. Konsentrasinya pecah saat suara gedoran pintu yang tidak sabaran bergema di seluruh ruangan.

​Tok... Tok... Tok!

​"Iya, sebentar!" seru Chae-young kesal. Ia terpaksa menjeda dramanya tepat saat sang pemeran utama hendak berciuman. "Ibu, kenapa tidak pakai kunci cadangan saja sih? Merepotkan sekali!"

​Dengan langkah kaki yang dihentakkan ke lantai, ia membuka pintu dengan gerakan kasar. Namun, kata-kata omelan yang sudah di ujung lidah seketika tertelan kembali. Di hadapannya berdiri June, lengkap dengan jaket kulit favoritnya dan senyum miring yang sangat familiar.

​"June? Kamu... sudah pulang?" tanya Chae-young, matanya membelalak tidak percaya. "Kenapa tidak memberi kabar? Jahat sekali, tahu!"

​Karena terlalu senang, Chae-young refleks berhambur dan memegang lengan pria itu. "Sayang, aku sangat merindukanmu!"

​June menaikkan alisnya, tawanya pecah melihat reaksi spontan itu. "Ciee... memanggil 'Sayang'? Tumben sekali. Biasanya kau galak seperti singa betina kalau aku baru pulang."

​Wajah Chae-young memerah padam dalam sekejap. Ia segera melepaskan pegangannya dan memalingkan wajah. "Itu... aku salah panggil! Jangan terlalu percaya diri!"

​"Masa sih? Telingaku sepertinya masih berfungsi dengan sangat baik," goda June, melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu izin. "Lagipula, aku kan sudah menepati janji untuk pulang secepat mungkin. Ayah dan Ibumu sedang keluar?"

​"Iya, aku sendirian," jawab Chae-young pelan sambil berjalan ke dapur untuk mengambil minuman, mencoba menetralkan detak jantungnya yang menggila.

​Saat kembali dengan nampan berisi jus dan camilan, Chae-young mendapati June sedang memperhatikan tumpukan koleksi drama Koreanya. "Ini kejutan, Chae. Aku baru sampai di bandara dan langsung menuju ke sini demi bertemu denganmu," jelas June.

​Setelah menghabiskan minumannya, June baru saja ingin bersandar di sofa ketika Chae-young tiba-tiba menarik lengannya. "Sudah, kau sudah minum jus dan makan camilan. Sekarang, silakan pulang. Aku mau lanjut menonton drama!"

​"Apa? Kamu benar-benar mengusirku? Aku baru saja sampai dari perjalanan jauh!" protes June tidak percaya.

​"Iya! Kamu mengganggu konsentrasiku. Bye!" Chae-young mendorong tubuh jangkung June sampai ke depan pintu dan menutupnya dengan suara keras.

​Dari balik pintu, ia mendengar June bergumam pelan tentang betapa kasarnya perlakuan yang ia terima. Namun, Chae-young hanya bisa tersenyum lebar di balik pintu. Setidaknya, rindunya sudah terbayar sedikit.

​Keesokan harinya, Chae-young sudah duduk manis di sebuah kafe bergaya minimalis di pusat kota Auckland. Ia sudah menunggu Somi selama hampir dua jam untuk sesi berbagi cerita setelah kepulangannya dari Tokyo.

​"Maaf! Maaf sekali! Aku ada urusan mendadak dengan kakakku!" Somi datang dengan napas terengah-engah, langsung menjatuhkan diri di kursi di hadapan Chae-young.

ECHOES OF ROSEANNE | JIROSÉ [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang