Sajangnim baru

1.1K 227 10
                                        

Sinar matahari Seoul menerobos masuk melalui celah jendela, namun suasana hati Rose pagi itu tidak secerah pantulan cahayanya. Ia melangkah keluar kamar sambil menyenandungkan lagu anak-anak dengan nada yang dipaksakan.

​Somi sudah duduk manis di sana, menyendok nasi goreng ke mulutnya dengan penuh semangat tanpa ada tanda-tanda menunggu Rose.

​"Heh! Kamu makan duluan?" seru Rose, berkacak pinggang.

​Somi menoleh sekilas, pipinya menggembung karena makanan. "Aku sudah kelaparan setengah mati. Kalau harus menunggu kamu keluar dari kamar yang lamanya sudah seperti satu abad, aku bisa wafat sebelum sarapan," jawabnya santai lalu melanjutkan makannya.

​Rose mendengus, menarik kursi dan menyambar selembar roti tawar. "Bukannya khawatir temannya kenapa-napa di dalam kamar, malah sibuk makan sendiri."

​"Kamu itu orang paling sehat yang kukenal. Mana mungkin tiba-tiba kenapa-napa, itu tidak lucu," cibas Somi.

​Rose mengunyah rotinya cepat-cepat, lalu segera memakai sepatunya. "Terserahlah. Aku berangkat dulu."

​"Berangkat ke mana? Oh, mau ke kantor ya? Oke, hati-hati di jalan," sahut Somi cepat, menjawab pertanyaannya sendiri sebelum Rose sempat membuka mulut. Rose hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya yang makin hari makin tidak terduga itu.

[​Gedung Company P]
​Rose melangkah memasuki lobi utama Company P dengan langkah yang jauh lebih mantap dan berwibawa dibanding saat ia masih berseragam sekolah. Aura kepemimpinannya mulai terpancar, meski sesekali ia masih menyelipkan senyum ramah pada staf yang membungkuk padanya.

​"Selamat pagi, Direktur," sapa seorang pemuda yang sudah berdiri tegak di dekat lift.
​Rose menghentikan langkahnya, menatap pemuda itu dengan senyum tipis. "Pagi, Jungkook."

​Siapa yang menyangka? Jungkook, teman masa SMA-nya yang dulu sering bercanda di kantin, kini berdiri di hadapannya sebagai sekretaris pribadi. Rose baru mengetahui hal ini dari Lisa semalam. Jungkook sudah setahun bekerja di sini dan kini ditugaskan untuk menggantikan posisi Chanyeol yang harus fokus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.

​"Ada jadwal sarapan, Direktur?" tanya Jungkook sambil mengikuti langkah Rose menuju lift khusus.

​"Aku lapar. Tolong carikan ayam goreng pedas dari restoran di seberang jalan itu. Pastikan level pedasnya yang paling tinggi, aku butuh asupan yang bisa membakar semangatku pagi ini," perintah Rose santai.

​Jungkook sempat terdiam sejenak. "Ayam pedas untuk sarapan? Perutmu tidak apa-apa?"

​"Laksanakan saja, Sekretaris Jeon," ucap Rose sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum pintu lift tertutup.

​Rose memasuki ruangannya yang luas. Kepulangannya ke Korea yang lebih cepat dari jadwal semula memang bukan untuk bersenang-senang. Ayahnya memberikan kepercayaan penuh padanya untuk mengawasi proyek besar Company P lebih awal. Ini adalah panggung pembuktian bagi Rose, bahwa ia bukan lagi sekadar gadis sekolah yang mengejar idola, melainkan calon penerus yang tangguh.

🐿

​Rose mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa berat dan berdenyut nyeri. Ia menyadari dirinya masih meringkuk di atas sofa kulit di ruang kerjanya. Perlahan, ia menegakkan punggung dan melirik jam dinding yang berdetak di tengah kesunyian.

​Pukul dua belas malam lewat lima menit.

​"Astaga, aku ketiduran?" gumam Rose panik. Ia melihat tumpukan dokumen yang masih berserakan di meja. "Sepi sekali... Jungkook benar-benar tidak membangunkanku? Dasar pria itu!"

​Rose buru-buru menyambar tasnya. Suasana kantor yang tadinya terasa profesional kini berubah menjadi mencekam. Lampu-lampu lobi sudah redup, dan setiap langkah kakinya yang bergema di koridor kosong membuatnya merinding. Rose mempercepat langkahnya menuju lift, menekan tombol lantai dasar berkali-kali seolah itu bisa mempercepat gerakannya.

​Ia hampir berlari saat keluar dari pintu utama gedung, merasa seolah ada ribuan pasang mata yang mengawasinya dari balik kegelapan ruangan kantor.

[​Rumah Rose]
​Rose menutup pintu depan dengan napas terengah-engah. Saat ia hendak mengendap-endap masuk ke kamar, lampu dapur tiba-tiba menyala, memperlihatkan Somi yang berdiri dengan wajah bantal dan mata setengah tertutup.

​"Heh! Dari mana saja kamu baru pulang jam begini?" Somi langsung mengomel dengan suara seraknya.

​"Aku ketiduran di kantor, puas?" keluh Rose, melempar tasnya ke sofa dan berjalan gontai menuju kamar. "Tidak ada satu pun orang yang membangunkanku. Rasanya seperti ditinggal sendirian di gedung berhantu."

​Somi malah tertawa kecil, rasa kantuknya sedikit hilang karena geli. "Hahaha, malang sekali nasibmu. Lain kali jangan tidur seperti kerbau! Mungkin Jungkook sudah mencoba membangunkanmu sampai berteriak, tapi kamu saja yang tidak bangun-bangun."

​Rose terhenti di depan pintu kamarnya, merenungkan ucapan Somi. "Benar juga... apa aku memang tidur terlalu lelap ya?" Ia menghela napas panjang, tidak mau memikirkan itu lagi. "Sudahlah, yang penting sekarang aku mau tidur di kasur sungguhan."

​Rose menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, menutup hari panjangnya yang penuh drama transisi antara menjadi bos muda di siang hari dan gadis yang takut gelap di malam hari.

ECHOES OF ROSEANNE | JIROSÉ [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang