Genre : Romance, Chicklit, Action, Thriller
Roseanne Park, gadis manis yang baru saja pindah dari Selandia Baru, tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Nasional akan dimulai dengan penuh tawa berkat guru koplak dan tiga sahabat barunya: Lisa...
Matahari pukul dua siang di Seoul terasa begitu menyengat, seolah ikut menertawakan nasib Rose yang sedang terdampar di halte bus. Ia mengembuskan napas kasar, berkali-kali melirik jam tangan peraknya dengan tidak sabar.
Hari ini benar-benar bencana. Mobil kesayangannya mendadak mogok di tengah jalan karena ia lupa mengisi bensin, dan sekarang kendaraan itu sudah bertengger manis di atas truk derek menuju bengkel. Yang lebih menyebalkan, Jimin sama sekali tidak membalas pesan daruratnya.
"Sial sekali! Benar-benar hari yang buruk untuk seorang Roseanne Park!" gerutunya pada angin lalu.
Tint... Tint...
Sebuah mobil sedan hitam mewah menepi tepat di depan halte. Jendela kacanya turun perlahan, menampakkan sosok pria yang selama ini bahkan setelah pertunangannya selalu ingin Rose hindari.
June. Mantan kekasihnya.
"Rose? Sedang apa di sini? Mau pulang?" tanya June dengan nada santai.
Rose langsung memasang wajah dingin, melipat tangan di dada. "Memangnya terlihat sedang apa? Menunggu bus, tentu saja. Pergilah, jangan menggangguku," jawabnya ketus.
"Ayo, aku antar saja. Tidak baik menunggu terlalu lama di cuaca sepanas ini," tawar June lagi.
"Tidak perlu, terima kasih," tolak Rose cepat. Namun, saat ia hendak memalingkan muka, June turun dari mobil dan menggenggam pergelangan tangannya.
"Lepaskan! Kamu mau aku pukul, ya?!" ancam Rose, matanya berkilat marah.
"Jangan terlalu sensitif. Aku tidak punya niat buruk. Ini juga permintaan Yeri," kata June tenang.
Mendengar nama itu, dahi Rose berkerut. Yeri? Ada apa lagi sekarang?
Pintu penumpang depan terbuka, dan Yeri melangkah keluar dengan senyum yang terlihat jauh lebih tulus dari terakhir kali mereka bertemu. "Hai, Rose! Maaf ya soal yang dulu. Aku benar-benar tidak tahu kalau June masih terikat hubungan denganmu saat itu."
Rose tertegun. Suasana yang ia kira akan menjadi ajang pertengkaran justru terasa begitu tenang. June menghela napas panjang, menatap Rose dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Rose, aku juga ingin minta maaf. Kejadian waktu itu... aku merasa kamu sudah tidak mencintaiku lagi karena sikapmu yang terlalu cuek dan dingin. Aku merasa kamu bosan padaku, jadi aku mengambil jalan yang salah. Aku minta maaf," ungkap June jujur.
Rose terdiam. Mendengar pengakuan itu, seolah ada beban berat yang terangkat dari pundaknya. Ternyata, kegagalan mereka di masa lalu bukan hanya soal pengkhianatan, tapi juga soal komunikasi yang buntu.
"Ya sudah. Aku memaafkan kalian," gumam Rose. Ia kemudian melirik mereka bergantian. "Omong-omong, kalian kembali bersama?
Yeri tersenyum malu-malu sambil memamerkan jari manisnya yang kini dihiasi sebuah cincin cantik. "Bukan hanya kembali, kami sudah resmi bertunangan!"
Mata Rose membelalak. "Wah! June, kamu bergerak cepat juga ya." Ia tertawa kecil, rasa kesalnya menguap seketika. "Selamat untuk kalian berdua!"
Perjalanan pulang yang awalnya Rose bayangkan akan sangat canggung justru berubah menjadi penuh tawa. June, Yeri, dan Rose mengobrol seolah-olah mereka adalah teman lama yang sudah tidak bertemu bertahun-tahun. Rose bahkan dengan bangga memamerkan cincin pertunangannya dari Jimin.
"Lihat ini, aku juga tidak mau kalah!" seru Rose sambil menunjukkan jarinya.
"Selamat, Rose! Sepertinya kita bisa merencanakan pernikahan bersamaan," canda June, yang langsung disambut tawa terbahak-bahak dari mereka bertiga. Sore yang tadinya suram mendadak menjadi sangat menyenangkan. Semua drama masa lalu benar-benar selesai hari ini.
Kepulangan dan Kecemburuan di Ambang Pintu Mobil June berhenti tepat di depan gerbang rumah Rose. Ia turun dengan senyum lebar yang masih tersisa. "Terima kasih ya, June, Yeri! Sampai ketemu di hari pernikahan!"
"Pasti! Jangan lupa kirimkan detail persiapannya!" seru Yeri dari dalam mobil sebelum akhirnya mereka berlalu.
Namun, senyum Rose langsung lenyap saat ia berbalik dan melihat siluet pria berdiri tegak di teras rumahnya. Jimin. Pria itu berdiri dengan tangan di saku celana, wajahnya tampak sangat tegang, dan matanya memancarkan kemarahan yang tertahan.
Bahkan sebelum Rose sempat menyapa, Jimin sudah melangkah cepat menghampirinya.
"Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang jam segini?!" serang Jimin, suaranya naik satu oktav. Rose yang merasa tidak bersalah pun langsung menyalak balik. "Kenapa kau bertanya begitu? Tadi siang aku mengirim pesan padamu, mobilku mogok dan diderek! Kamu tahu aku terdampar di halte selama berjam-jam, sementara pesanku tidak kamu balas sama sekali!"
Jimin sedikit goyah, raut wajahnya berubah sedikit bersalah. "Aku... aku sedang rapat penting. Ponselku kumatikan. Tapi kenapa kamu tidak menelepon saja?"
"Untuk apa menelepon orang yang mengabaikan pesan daruratku? Lalu, kenapa kamu malah marah-marah di sini?"
"Aku khawatir!" bentak Jimin lagi, matanya menyelidik. "Dan siapa pria yang mengantarmu tadi? Kenapa kamu tampak begitu bahagia turun dari mobilnya?"
Rose menyunggingkan senyum sinis, menikmati rasa cemburu yang membakar Jimin. "Oh, pria tadi? Itu June. Mantan kekasihku."
Wajah Jimin seketika memucat, lalu berubah merah padam. "Mantan?! Kamu pulang bersama mantanmu?!"
"Jangan berlebihan," kata Rose sambil melangkah masuk ke rumah, meninggalkan Jimin yang masih mematung. "Dia mengantar bersama tunangannya, Yeri. Mereka juga akan segera menikah. Semua sudah beres, tidak ada yang perlu kamu cemaskan."
Jimin segera menyusul masuk ke ruang tamu. Tanpa peringatan, ia menarik lengan Rose dan memeluknya dengan sangat kuat dari depan.
"Kenapa kamu ini? Tiba-tiba sekali," protes Rose, meski ia bisa merasakan detak jantung Jimin yang berpacu cepat di dadanya.
"Aku hanya ingin memastikan, Sayang," bisik Jimin tepat di telinga Rose, suaranya kini kembali lembut namun penuh tekanan posesif. "Mantan itu urusan masa lalu. Kamu itu urusan masa depanku. Mengerti? Kamu hanya milikku"
Rose mendengus, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Ia membalas pelukan Jimin, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Dasar posesif. Tapi kamu tetap harus menjawab pesanku lain kali, ya."
"Siap, Direktur," jawab Jimin sambil terkekeh pelan. Ia melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Rose dengan pandangan menggoda. "Bagaimana? Mau mandi sekarang, atau kamu mau aku beri ciuman dulu supaya semangatmu kembali?"
"Tidak usah! Dasar mesum!" Rose mendorong bahu Jimin dengan wajah yang sudah memerah padam, lalu bergegas lari menuju kamarnya untuk menghindari godaan lebih lanjut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.