"Jika mengetahui suatu kebenaran akan sesakit ini. Lebih baik aku hidup dengan segala kebohongan yang ada."
-Aksara Gunadhya
******
Gadis itu berjalan pelan. Sesekali tubuhnya di pegang oleh Om Om mata keranjang, walau Meisya sudah membrontak tetapi pengaruh minuman haram membuat kaum adam di sini tidak menghiraukan kata kata Meisya.
"Jangan pegang!" teriak Meisya. Ia merasa tidak ada harga dirinya, bagaimana bisa Dareen meninggalkan Meisya di tempat seperti ini?
"Gak usah jual mahal. Sini sayang!" kata Om jelek yang berusaha mencium Meisya dengan tangan yang berhasil memegang bokong gadis tersebut.
Meisya mendorongnya lalu berlari menyingkirkan siapapun yang berada di depannya. Air mata Meisya tumpah, ini hal paling memalukan. Gadis itu dengan cepat masuk ke dalam sebuah ruangan dan ternyata itu adalah satu kamar kosong yang kasurnya sudah sangat berantakan.
Tidak ada pilihan lain. Meisya menutup pintunya dan menahannya agar tidak ada siapapun yang bisa masuk, sialnya kunci kamar ini tidak ada di bawah knop pintu!
"Hey! Buka pintunya! Bagaimana saya bisa masuk jika kamu tutup begini?!" teriak Om Om gila tersebut sambil mendorong pintunya kuat kuat.
Air mata Meisya benar benar pecah. Setelah mendapat pelecehan apa lelaki yang sudah cukup tua itu akan melakukan hal bodoh kepadanya?!
"Kamu membuat saya marah!" lelaki itu mendobrak pintu. Tubuh Meisya terhuyung sampai jatuh. Dengan susah payah Meisya menyeret tubuhnya yang tersungkur ke belakang kala lelaki tua itu berjalan mendekat dengan senyum smrik yang sangat terlihat horor.
"Tolong, aku. Ya Tuhan." batin Meisya menutup kedua matanya ketakutan.
Bruk!
Mungkin ini sebuah pertolongan dari Tuhan. Lelaki menjijikan itu ambruk kala seseorang memukul belakang pundaknya kencang, dan Meisya pun membuka kedua mata bengapnya yang sudah banjir oleh air asin.
"Aksa?!" kaget Meisya.
"Sukur lo Om Om jamet gila!" kata Aksa yang tubuhnya sedikit oleng kekanan dan kekiri.
"Aksa mau kemana?!" Meisya bangkit mengikuti Aksa ketika Aksa malah memilih keluar walau sudah sempat melihat dirinya.
"Aksa tolong berhenti dulu!" teriak Meisya dan ia kini telah berhasil menyusul langkah lebar Aksa walau cowok itu sebenarnya berjalan sangat lambat. "Kamu mabuk?" kata Meisya ketika jarak wajahnya dengan Aksa cukup dekat, aroma minuman keras menyeruak hebat ke dalam indra penciuman Meisya.
"Hey! Jangan pegang pegang. Gue bukan Om Om kesepian!" kata Aksa sebelum tubuhnya jatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Ya ampun, Aksa!" kejut Meisya. Segera gadis itu membantu Aksa berdiri dengan cara memapahnya. Walau Meisya sangat amat tidak suka bau minuman, tetapi gadis itu tetap bersikukuh untuk membantu Aksa keluar dari tempat tidak bagus ini.
Ia membawa Aksa keluar, kini Meisya dan Aksa sudah sampai di halaman club malam. Angin malam menerpa rambut keduanya membuat Aksa menyipitkan mata tajamnya.
"Hai, lo cewek yang tadi minta duit ke gue kan? Oh ini gue ada duit." ujar Aksa berbicara pada Meisya dengan mata yang setengah terbuka. "Tapi bohong." tawa renyah Aksa sampai tubuhnya oleng tak terkendali.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA (SELESAI)
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Aksara Gunadhya, manusia berparas malaikat. Rupa wajahnya tak seindah perjalanan hidup cowok tersebut. Terlahir untuk bertanya, apa tujuan hidupnya? Kenapa Aksa harus terus bertahan? Untuk apa Tuhan menciptakannya? Di...
