59. aku sangat mengenalnya

8.7K 630 19
                                        

Istirahat kali ini berbeda dari istirahat istirahat sebelumnya. Mengapa demikian? Karena kini para anggota inti Liberios dan beberapa temannya yang lain tengah bermain santai di lapangan luas SMA Taruna Bangsa. Entahlah keempat cowok tampan itu hanya mengikuti Aksa yang tiba tiba saja berselera ingin bermain bola basket.

Dari pada pergi ke kantin, lebih baik mereka ikuti Aksa bermain di lapangan sekolah. Sebenarnya mereka tidak ada niatan membuat kantin kosong. Tetapi karena anggota inti Liberios menarik perhatian semua murid. Jadilah pinggir lapangan sangat ramai dan kantin—hanya berisikan murid murid yang tidak terlalu tertarik berada di tengah keramaian.

"AKSA!"

"AKSA!"

"AKSA!"

Teriak para penonton. Walau ini hanya kegiatan iseng iseng yang Aksa lakukan, namun terasa seperti tengah menonton pertandingan basket yang asli.

"Aksa mulu yang di teriakin. Gue-nya kapan?" gumam Kenzo menggerutu.

"Nanti. Kalo Aksa berubah jadi jelek, itupun gak bakal kejadian." kata Samuel menusuk.

"Walau Aksa jadi jelek juga gak bakal mereka neriakin nama lo. Kan ada yang lebih ganteng, contohnya gue." ujar Farzan menepuk dadanya bangga.

"Lo mau dapet teriakan dari cewek cewek?" tanya Saguna merangkul Kenzo dari samping dan mendapatkan anggukan mantap dari Kenzo. "Maling daleman tetangga, pasti lo dapet teriakan dari cewek cewek." ujar Saguna. Memang lebih baik cowok dingin itu diam saja. Itu lebih bagus di banding Saguna berucap tetapi menarik sebuah keributan.

"Sialan lo. Mana ada diteriakin cewek. Yang ada di lempar pake sendal jepit gue sama emak emak gang." ujar Kenzo menepis lengan kekar Saguna.

"Emang emak emak bukan cewek?"

"Ce—cewek sih, tapi beda server lah anjir!" kata Kenzo yang semula berfikir terlebih dahulu baru ngegas.

Aksa mengembangkan senyumnya. Di satu sisi ia tengah di landa kesedihan namun di sisi lain ia merasa bahagia atas kembalinya Kenzo di Liberios, bukan hanya Aksa tetapi yang lain juga senang karena kini keluarga mereka telah lengkap. Tidak ada lagi kesalah pahaman yang meretakkan kedekatan di antara mereka.

"Gue minta maaf, Zo. Gue bodoh udah percaya sama kata kata Dareen." ujar Aksa tiba tiba. Langsung mendapat tatapan dari para sahabatnya.

"Gue juga. Lo tau kan emosi gue gak bisa di atur dan gue—"

"Yaelah santai. Kalo gue ada di posisi kalian juga gue bakal percaya, apalagi si mata mata itu ngasih satu video yang memperkuat kesalah pahaman ini." tukas Kenzo tersenyum tulus.

"Gue juga bingung. Kenapa di dalem video ada lo? Padahal kan lo bukan si pengkhianat itu." ujar Samuel yang lengannya langsung di senggol pelan oleh Farzan sambil melirik Aksa.

Bermaksud bahwa jangan bicara seperti itu. Pasalnya pengkhianat tersebut adalah Meisya, lihatlah wajah datar Aksa yang nampaknya kembali mengingat kejadian buruk tempo hari.

"Sorry, sorry." cengengsan Samuel keluar dengan sendirinya.

"Jadi—waktu itu gue di bawa paksa ke basecamp Canopus. Dan singkatnya Dareen maksa gue buat jadi mata mata dia, dengan embel embel segala macamlah kalo gue mau turutin kemauannya." ujar Kenzo bercerita sekaligus mendrible bola basket.

"Tapi gue gak bakal mau. Gue kan setia sama Liberios, dan mungkin karena dia kesel. Gue di jadiin kambing hitam, sekaligus gunain moment pas gue ke basecamp mereka biar kalian makin percaya." katanya lagi.

"Sialan emang si Dareen." geram Farzan.

"Minta di bantai lagi dia?!"

"Udahlah. Sekarang mending kita maen basket. Ngapain sih kita curhat di lapangan kaya gini? Malu maluin banget!" ujar Kenzo melempar bola basket ke arah ring dan tak diragukan lagi Kenzo mencetak sebuah gol.

AKSARA (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang