"Aku menyesali semuanya. Maafkan aku, karena terlambat menyadari." ㅡNam Jaemin
.
.
.
.
.
Somi kini sedang mencuci piring, sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ah, ia sibuk sekali seharian, dan baru sempat makan ditengah malam seperti ini. Sudah sebulan berlalu setelah percakapan itu. Somi ingin sekali memperjuangkan Jaemin lagi, namun ia benar-benar lelah. Katakan saja jika Somi lemah, baru lima bulan pernikahannya, ia sudah berpisah rumah sekarang. Ya, Somi meninggalkan rumah Jaeminㅡ tidak, itu rumah mereka berdua.
Ia tidak bisa lagi menghadapi Jaemin. Pria itu selalu bersikap baik, namun selalu bukan dirinya yang ia pikirkan. Somi kecewa akan itu, padahal ia sudah mengetahui hal itu dari sejak sebelum pernikahan mereka, dan Somi menerima itu karena berpikir akan mudah meluluhkan Jaemin. Tetapi, apa yang ia pikirkan salah, Jaemin masih saja mencintai Heejin. Ya, masih.
"Somi-ya, apa cuci piringnya sudah selesai?" Itu Umji, sahabatnya. Ia sedang menumpang diapartement Umji. Ia hanya membutuhkan tempat tinggal saja, urusan makan dan lainnya, dirinya sendiri yang menanggung. Karena orang tuanya berada di Kanada, dan Somi tidak mungkin pergi kesana, itu pasti akan memunculkan banyak pertanyaan dibenak orang tuanya.
"Sudah selesai, ada apa?" Jawab Somi sembari melepaskan sarung tangan karetnya. Umji menyodorkan ponsel berwarna hitam milik Somi, "Ada telepon" ujar Umji.
"Dari siapa?"
"Suamimu"
Somi menerima ponselnya, menggeser ikon hijaunya. Umji yang mengerti, bahwa sahabatnya itu butuh ruang bersama sang suami pun melenggang pergi. Somi terduduk dilantai dingin, menyandarkan punggungnya di kabinet bawah, tepat dibawah kitchen sink. Somi menempelkan ponselnya tepat ditelinga kanan, "Halo, Jaemin"
"Apa kamu tidak berniat pulang?" Pertanyaan Jaemin sukses membuat Somi menarik kakinya, memeluk kedua kakinya dengan erat, "Tidak." Singkatnya. Jaemin terdengar menghela diseberang sana, "Pulanglah Somi, kamu harus melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri"
"Untuk apa? Bukankah kamu tidak memaksakan hal itu? Harusnya aku tidak bodoh, dengan bersikap selayaknya seorang istri, karena kamu pun tidak melakukan hal yang sama padaku." Somi dengan mudah mengatakan perasaan yang selama ini ia tahan, perasaan yang selama ini sembunyikan, "Aku merasa menjadi perempuan bodoh, Jaemin. Aku bodoh karena mau menikah denganmu"
"Kau menyesali janji suci yang kita ucapkan dihadapan Tuhan, Somi?" Tanya Jaemin penuh penekanan, "Aku tidak menyesali janji suci yang aku ucapkan dihadapan Tuhan, aku hanya menyesali orang yang mengucapkan janji itu bersamaku." Balas Somi tidak kalah menekan. Ia ingin Jaemin mengerti perasaannya, ia ingin Jaemin menjaga perasaannya juga, sama seperti dirinya yang selalu menjaga perasaan Jaemin.
Somi menggigit bibirnya sendiri saat merasakan pandangannya mengabur, "A-aku lelah, Jaemin. Sungguh." Pertahanannya runtuh saat mendengar helaan napas dari suaminya. Suara Jaemin terdengar sangat lelah disana, "Maafkan aku" lirih Jaemin, berhasil membuat air mata Somi luruh.
"Pulanglah Somi, dan lakukan kegiatan yang biasanya kau lakukan dirumah" pinta Jaemin, Somi semakin menggigit bibirnya kencang, mencoba meredam tangisannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Dream (ONESHOOT)
FanfictionBagaimana rasanya mencintai seseorang dalam waktu yang sangat lama, tetapi tak bisa memilikinya?. Pernah memiliki namun, akhirnya memilih melepaskan dan membiarkannya pergi bersama yang lainnya. Cha Sera, gadis berumur tujuh belas tahun yang merasak...
