AKU MASA DEPANMU

AKU MASA DEPANMU

  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 1, 2017
Dia masa lalu aku adalah masa depan. Itu yang mereka semua bilang. Nyatanya dihatinya hanya ada masa lalu tanpa masa depan. Kalau yang harus aku saingin adalah sosok yang utuh, mungkin aku akan lebih bisa dan kuat menghadapinya. Tapi untuk bersaing dengan sesosok bayangan, yang sudah tidak nyata lagi, tidak berwujud lagi, Apakah aku mesti bertahan? Apakah aku sanggup bertahan dan berjuang? Aku takut dan aku lelah! Nafila Tanuwidjaya Dia masa depanku, yang dulu itu masa laluku. Itu yang mereka semua bilang. Tapi hati ini hanya bisa terisi oleh yang jadi masa lalu. Bukannya aku tidak mencoba hanya saja aku tetap tidak bisa. Kadang ada rasa takut yang jadi masa depan akan menghilang, lelah dengan penantian. Tetap saja rasa takut itu tidak bisa membuat yang jadi masa lalu pergi dari hati ini. Aku lebih takut masa laluku hilang daripada masa depanku. Apakah aku ini bodoh? Membiarkan masa lalu yang berupa bayangan menetap dan menempel erat di hatiku? Aku juga tidak tahu dan aku bingung! Felix Hermawan
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • Save The Marriage (Sudah Ada Di Play Store)
  • Ketukan Takdir
  • HE'S COMEBACK
  • Kembali Bersamamu (END)
  • Black Pearl
  • FINALLY IN LOVE (21+)
  • Maudya (Mencari Cinta & Kebahagiaan)
  • Don't call it love!
  • Dear Future (new version)

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines