Malam itu hujan turun deras, menutupi suara kegaduhan yang keluar dari ruang keluarga Dirgantara.
Aroma kopi hangat bercampur dengan ketegangan yang menggantung di udara.
Arga Dirgantara, pria berusia dua puluh empat tahun dengan sorot mata tajam itu berdiri dengan kedua tangan mengepal di samping tubuhnya.
Wajahnya dingin dan suaranya meninggi.
”Mah, Pah, Aku sudah menikah dengan seseorang yang ku cintai, yaitu Fandra. Sekarang dia sedang mengandung anak kami. Lalu kalian memintaku menikahi perempuan itu!? Apa kalian sudah hilang akal?!”
Aira, sang Mama, menatap putranya itu dengan sorot mata lembut namun tegas. Ada beban berat dalam suaranya saat ia mencoba menenangkan amarah putranya.
”Arga, dengarkan Mama. Hasya itu anak semata wayangnya Om Haikal dan Tante Naisya. Sebelum mereka pergi, mereka berdua menitipkan Hasya kepada kami. Jadi Mama mohon, menikahlah dengan Hasya, Nak..”
Arga mendengus, menepis tangannya kasar dari genggaman ibu sang ibu.
”Mah, Arga udah menikah! Jadi tolong hargai perasaan Arga!!”
Sementara itu, di sudut ruangan yang remang, berdiri seorang gadis berhijab sederhana dengan mata sembab. Hasya Nabila Aisharani, gadis yatim piatu yang kini menjadi pusat pertentangan ketiga orang di hadapannya.
Tangannya bergetar, ia meremas ujung bajunya, berusaha menahan air mata yang hendak jatuh.
”Tante... Om... Hasya mau pamit pulang.”
Aira menghampiri Hasya, menggeleng lemah seraya menatap Hasya penuh harap.”Nak, kamu sekarang udah jadi bagian dari keluarga kami. Disini aja ya, tinggal sama kami.”
”Mah, apa-apaan sih?!! Biarin aja dia pergi!”
Hasya tersentak. Air matanya perlahan luruh tak terbendung.”M-maaf Tante.. Hasya nggak bisa tinggal disini. Hasya harus pulang.”
”Kamu calon menantu kami. Jadi sudah seharusnya kamu tinggal disini, bersama kami. Nak Hasya..” telak Anggara, mulai membuka suara dan menolak kepergian putri dari sahabatnya.
”Pah?!!”
Anggara, sang ayah, menatap putranya dan Hasya secara bergantian. Suaranya berat dan tegas, penuh kepastian yang tak bisa digugat.
”Pernikahan kalian akan dilaksanakan dua hari lagi. Papa nggak menerima penolakan dari siapapun!”
Arga memukul keras meja kayu di depan nya hingga gelas kopi berguncang. Lalu ia pergi dengan perasaan yang dipenuhi amarah.
•••
Di dalam aula sederhana yang dipenuhi tamu keluarga dan kerabat dekat, suasana hari ini bukanlah bahagia seperti layaknya pesta pernikahan.
Aroma bunga melati yang menghiasi pelaminan terasa menyesakkan bagi Hasya.
Ia duduk di samping seorang pria berjas hitam dengan rahang tegas, mata tajam, dan senyum yang tak pernah hadir di wajahnya. Arga Dirgantara. Suaminya.
Keduanya kini telah resmi menikah dan menjadi pasangan suami istri, meskipun bukan karena cinta.
Ketika ijab kabul selesai diucapkan, suara "sah" dari para saksi terdengar lantang. Namun di hati Hasya, kata itu bagaikan belenggu.
Gadis itu kini tertunduk dalam, berusaha menyembunyikan air mata yang hampir jatuh.
Di sisi lain, Arga duduk kaku. Wajahnya datar, tak sedikitpun memancarkan rona kebahagiaan. Tatapannya lurus ke depan, menatap istri pertamanya yang duduk di kursi tamu dengan perut buncitnya.
Bersambung~
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Envy Dad! (Revisi)
ChickLitLunara Shaqueena Zahra, gadis kecil yang diacuhkan oleh ayah kandungnya karena terlahir dari rahim wanita yang dibencinya. "Bawa pergi anakmu dari hadapan saya!" "Luna juga anak kamu, Mas!" "Saya tidak pernah menginginkan kehadiran kalian berdua dal...
