Hati merupakan kepingan organ tubuh manusia yang menjadi filter macam bakteri. Tak ayal hati sering kali mendapat kepedihan dan luka. Pahit rasanya, seperti sate hati ayam di angkringan malam yang disinari lampu petromak. Hati sangat berperan penting dalam sistem organ manusia, begitupun hati pada perasaan cinta. Hati juga tempat menyimpan segala rasa dan memendam apa yang tiada bisa dikata. Terkadang bahagia, senang, kagum, gembira, namun terkadang juga sesak dan sakit.
Masa pandemi covid-19 ini bukan hanya isolasi diri dan menjaga jarak sosial, namun juga hati dan rasa. Mungkin ini tidak berefek pada kita yang masih menutup hati, tapi tidak bagi mereka yang telah menemukan isi hati. Sangat tersiksa akan bentang jarak dimana teralihkan hanya dengan panggilan video untuk saling sapa. Mungkin aku tidak tahu apa artinya karena sejatinya memang masih tertutup.
Vaksin untuk covid-19 saja belum ditemukan dengan pasti apalagi masalah hati yang begitu rumit. Masalah kesehatan itu sangat penting untuk menjaga imunitas tubuh seperti halnya dengan hati hanya saja caranya yang berbeda. Mungkin temu, sapa, dan berakhir senyum bahagia yang dirasa bagi para penjelajah hati.
Sejatinya akupun juga tidak tahu bagaimana merawat ataupun memberi perlakuan yang benar pada hati. Biasa dikata orang yang pernah mengalami pasti tahu ceritanya. Namun, aku tidak pernah merasa tapi pandai berkata. Terkadang spekulasiku belum tentu benar tentang masalah hati tapi juga tidak dipungkiri kawan ku merasa lega. Terkadang kita tidak perlu melakukan hal yang sama dengan orang lain untuk mengetahui rasa. Indera kita tidak hanya perasa, mata dan telinga terkadang juga jeli akan hal itu. Kemudian diserahkan pada daya analisa otak kita untuk memberi respon atau transformasi tindakan. Setidaknya itu yang aku lakukan untuk mengetahui misteri antara hati dan perasaan antar dua insan berlawan jenis.
Dibilang buta akan perasaan hati, ya tidak namun belum saja waktunya menyelami satu bidang itu. Terkadang ada juga diantara kita yang merasa ingin berada difase saling memiliki. Namun, apa daya jika dalam diri kita belum bias membuka hati? Banyak kasus yang sama terjadi apalagi dimasa pandemi rasanya ingin jadi orang yang bebas tanpa aturan. Masalah hati memang kita sendiri yang menentukan dan hal seperti itu wajar. Ada kalanya kita lebih berfokus disatu titik yang mungkin membuka hati akan menghambatnya.
Hal tersebutlah yang sering kontra dengan penjelajah hati, mereka akan berkata bahwa tidak selamanya hal itu menjadi hambatan malah jadi penyemangat. Semua persepsi tidak ada yang salah, oleh karena itu be yourself dan kenali diri kalian. Terlebih kita juga harus tahu dimana kita berkembang dan seperti apa lingkungannya karena akan memberi dampak bagi kita.
Dari cerita pribadi, masalah hati aku belum menemui titik temu untuk sekedar memulai, merasakan atau mencobanya. Rasanya masih dangkal mengenai topic itu dan akan terus menghindar. Melihat kawan ku yang sibuk akan persoalan hati itu terkadang juga membuat trauma pribadi. Oleh sebab itu alasan masa depan dan mimpi mungkin masih bias ditoleransi. Aku tidak tahu dimana sebenarnya pintu hatiku berada dan itupun juga belum ada yang mampu mengetuknya.
Seseorang dengan pengalaman pahit pastinya sulit untuk membuka hati dan mencoba hal baru. Lalu bagaiman dengan kita yang tidak memiliki cerita yang buruk? Seperti tidak pernah disakiti,dihianat, atau ditinggal? Sungguh tanda Tanya besar yang sulit dipecahkan.
Sebaiknya kita juga perlu belajar untuk masalah satu ini dan mencari banyak referensi. Tentunya meski kita sudah ada tindakan preventif tapi pasti juga ada resiko. Jangan paksa diri kita untuk membuka hati tapi biarlah hati kita sendiri yang merasakan dan menentukan arah. Jika masih bimbang jalan lainnya banyak instropeksi diri dan mencoba bertanya.
Satu hal yang ingin aku sampaikan disini dari segala kata diatas adalah maaf belum bisa membuka dan menjadi pejelajah hati. Sangat disayangkan namun itu adanya.
Lanjut dicerita selanjutnya...!!

KAMU SEDANG MEMBACA
Fase Hati di Masa Pandemi--
Teen FictionHaii para penjelajah hati, salam sapa dari aku.. Tulisan ini merupakan fase-fase perjalanan hati,yang aku ambil dari opini pribadi tentang perasaan dibenak para penjelajah hati