Kamu juga

1 0 0
                                        

"Apa kabar, kawan!" Jawab laki laki  tampan yang mempunyai  rahang tegas, mata tajam berwarna biru serta berbadan tegap, melangkah memasuki ruangan dengan tangan yang juga terbuka menyambut Rere yang melangkah ke arahnya.

"Tambah keren aja, Nih." Ujar Rere saat mereka berpelukan sekilas.

"Kamu tambah cantik, Dew," balas lelaki yang bernama Alman. Sambil mengurai pelukannya.

Alman adalah salah satu teman terdekat Rere waktu masih SMA dulu, dan hanya orang orang SMA-nya saja yang memanggil Rere dengan sebutan Dewi.

"Ada apa, kok bisa bisanya sampai ke sini?" tanya Rere sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa berbentuk L yang  berada di samping kiri meja kerjanya.

"Kamu nggak tahu kenapa aku datang? Serius?" bukannya menjawab pertanyaan Rere, Arlan malah balik bertanya dengan raut muka tak percaya.

"Serius lah, ada apa sebenarnya?"

"Kamu tahu sendiri bukan kalau pak Bagas baru sembuh dari sakitnya, dan beliau diharuskan bed rest."

"Mmm ...."

"Makanya kemarin dia meminta Yunan, sebagai anak lelaki sulungnya yang juga teman kita, untuk pulang dan menggantikan beliau memimpin perusahaan."

"Yunan? Yunan siapa? Kamu kenal?"

"Yunan Ardian Dewangga." Ujar Alman sambil menatap tajam Rere.

Terbeliak mata Rere saat mendengar sebuah nama yang tak pernah ia inginkan lagi untuk di dengarnya, apalagi untuk bertemu dengan si empunya nama.

"Dewa?!" Desis Rere, matanya juga menatap Alman tak percaya.

"Aaah ... kamu nggak seru, Dew. Masak iya kabar terbaru perusahaan tidak tahu," ujar Alman mendengus kesal karena yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.

"Mmm ... kamu tahu nggak, siapa orang yang menggantikanku di sini?"

Rere sengaja memberikan pertanyaan yang sekiranya bisa merubah fokus Alman, sambil  berusaha bersikap biasa saja di depan tamunya.

Bukannya menjawab Alman malah tertawa keras mendengar pertanyaan Rere. Sampai sampai punggung yang awalnya hanya bertumpu pada tangan di paha kini malah bersandar ke sandaran sofa, dengan mata yang berair.

"Mmm ...."

"Hahahaha .... Kamu keterlaluan, bagaimana bisa kamu tidak tahu siapa orang yang akan menggantikanmu?"

"Mmm ... mau bagaimana lagi, aku beneran tidak tahu."

"Aku! Aku yang akan menggantikanmu di sini, sedangkan kau akan menggantikanku sebagai pendamping Yunan."

"Kalau boleh milih, boleh  nggak sih kalau nggak usah di tuker aja?" Tanya Rara dengan mata terbeliak dan wajah tak percaya, saat tahu siapa pengganti dirinya nanti.

"Kenapa? Harusnya kamu senang looh, bukannya--"

"Kamu sudah makan belum, Man?" Rere langsung berusaha memutus ucapan Alman agar tidak mengungkit sesuatu yang tak ingin dia kenang lagi. Matanya tak lagi menatap lelaki tampan yang sedang menatapnya tajam.

"Hemmm .... Kau masih mencintainya kan?" Tanya Alman  sambil sedikit mendengus.

"Kita makan, yuk!"

"Selalu saja menghindar, kalau memang sudah tak cinta, kenapa selalu menghindar setiap kali aku bercerita tentangnya?"

"Karena aku tak ingin mendengar   apa pun lagi tentang dirinya."

"Parahnya,  nasib membuatmu harus bertemu dan bahkan akan menjadi pendampingnya di kantor nanti."

"Kamu tahu, Man? Aku ingin berhenti kerja saja kalau tahu ternyata harus bekerja dengannya nanti."

Pacar Sejuta UmatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang