five.

691 89 20
                                        

- Happy Reading -
.
.
.
.
.


— • Flashback • —

Sekolah Minho sedang mengadakan perpisahan kelulusan sekolah dasar.

Saat perpisahannya, ia tampil dipanggung, menarikkan tarian tradisional modern yang sudah diajarkan gurunya.

Penampilan dan cara menari Minho dipuji banyak orang.

Salah satu wali murid yang merupakan seorang dancer menghampiri Minho sambil tersenyum bangga.

"Nak, tarianmu tadi sangat indah..." pujinya

"Terimakasih atas pujiannya" Minho tersenyum malu sambil membungkukkan badan.

"Apakah kau mau bergabung dengan kelas menari bersama anakku?"

Minho tersenyum, baru saja ia akan mengganggukkan kepalanya.

"Tidak boleh" tuan Lee tiba-tiba saja muncul dari belakang.

Minho membalikkan badannya, ia kecewa.

Kenapa ayahnya baru datang, sementara penampilannya sudah selesai, dan datang-datang langsung menyela mengatakan tidak boleh.

"Tapi kenapa pak?" tanya salah satu wali murid tadi.

"Biaya nya mahal"

Alasan, kau kaya tuan Lee.

"Kami tidak memungut biaya dalam hal ini, jadi tenang saja" jelasnya sambil tersenyum

"Tidak, ia masih kecil"

"Ada yang lebih kecil lagi daripada Minho, tuan"

"Dia tidak berbakat"

"Maka dari itu, ka —" ucapannya terputus

"Mmm, maaf...Tapi ayah benar, saya memang tidak berbakat.Terimakasih nyonya, atas tawarannya" Minho menunduk.

Mata cantiknya berkaca-kaca, ia sedih karena ayahnya sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak berbakat, bukan orang lain. Padahal ayahnya itu tidak melihat sedetik pun penampilannya.

— • Flashback Off • —

Minho menggelengkan kepalanya, mencoba kembali fokus ke makanan didepannya.

"Minho, kau hanya makan nasi dan kuah sayur?" tanya nyonya Bang heran

Bagaimana ini, karena sudah terbiasa hanya memakan nasi dan kuah sayurnya saja, aku jadi lupa mengambil lauknya. Aku harus jawab apa... Batin Minho

"Dia kampungan, tidak suka makanan hotel seperti ini" lagi-lagi nyonya Lee yang menjawab, bukan Minho.

"Cih, kampungan" hina Chris

Minho menunduk, meremas alat makannya pelan, menyalurkan kesedihannya agar ia tidak meneteskan air mata.

"Maaf, saya memang kampungan, Ibu benar. saya akan ambil lauknya nyo— Ibu"

Love Killa - Banginho Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang