Track 2 : Blue Hour

705 74 9
                                        

Soobin berdiri di depan gerbang sekolah, ia baru saja menyelesaikan beberapa tugas komite kedisplinan. Berjalan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Untung saja hari sudah sore menjelang malam, Sekolah juga sudah sangat sepi sehingga setiap langkah Soobin tak lagi menjadi pusat perhatian.

Ia cukup menikmati waktu ketenangannya seperti ini. Udara terasa begitu lebih segar dan pandangan matanya tampak begitu indah, serta telinganya yang terasa damai. Tak perlu lagi mendengar beberapa bisikan baik pujian atau hinaan terhadapnya.

Ketenangan yang sangat diimpikan oleh seorang Choi Soobin.

Tapi baru saja ia menghela napas lega, tubuhnya seketika jatuh ketika seorang lelaki berseragam sama seperti dirinya menabraknya. Bahkan dengan sangat tak sopannya terbaring di atas tubuhnya. Dalam beberapa detik keduanya langsung tersadar, lelaki yang barusan menabraknya segera menundukkan kepalanya berkali-kali, “Maafkan aku, aku minta maaf karena aku sedang terburu-buru.” ujarnya dengan napas berburu, wajahnya pun sudah basah karena peluhnya—terlihat jelas jika ia habis berlari.

Belum sempat Soobin bereaksi, lelaki itu sudah akan melenggang pergi. Dengan sigap, Soobin menarik pergelangan tanganya, “Kau mau kemana?”

Mimik wajah kebingungan serta panik terlihat begitu jelas, “Aku harus segera ke kelas sebelum bel berbunyi, aku kan sudah mengatakannya jika aku sudah terlambat.”

Tak kalah bingung, Soobin memandang lelaki itu penuh selidik. Dilihat dari atas bawah tak ada yang begitu aneh, justru penampilan lelaki di depannya terlihat sangat mempesona tapi sejauh yang ia tahu tak ada satu siswa pun yang seperti lelaki dihadapannya karena lelaki di depannya terlampau tampan dan juga manis yang biasanya masuk dalam jajaran siswa-siswi paling populer di Sekolah.

“Kau terlambat? Datang di jam seperti ini bukan hanya terlambat tapi kesalahanmu lebih besar, kau sudah membolos selama seharian.”

“Hah?” refleks lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan seketika tersentak menyadari langit senja yang siap berganti dengan bulan. Ia menelan ludahnya dalam-dalam, wajahnya kembali bingung lebih dari bingung. “Kenapa sudah hampir malam? Aku sungguh tadi berlari di pagi hari, jam delapan pagi aku berlari!” katanya panik.

Soobin memutar matanya jengah, Dasar aneh!

Ia berniat akan pergi pulang, tetapi langkahnya kembali terhenti. Ia berbalik kembali melihat lelaki yang masih memandang bingung sekitarnya sekaligus terus melihat jam yang melingkar di tangannya, “Masa jam tanganku sudah rusak sih? Padahal ini kan masih baru!” rutuknya, “Kenapa ini sangat aneh, padahal jelas-jelas aku tadi lari di pagi hari.”

“Sebaiknya kau cepat pulang! Jangan lupa besok datang ke ruangan komite kedisplinan untuk menerima hukuman, dan jangan telat. Jika sampai kau telat lagi hukumanmu akan semakin berat.” ujar Soobin dengan tegas.

Seringai muncul di wajah lelaki itu, ia berjalan mendekati Soobin. “Kenapa tingkahmu seakan kau berkuasa?! Aku hanya telat hari ini saja, dan lagi aku tahu kesalahanku sangat besar karena aku juga merupakan ketua komite kedispli, tapi kau tidak berhak berkata seperti itu padaku. Aku tahu kesalahanku dan aku akan menerima hukuman yang berlaku untukku, kau tidak perlu mengingatkannya!”

“Ketua komite kedisplinan?” Soobin kini memandang kain merah yang terikat di sisi kanan tangan lelaki dihadapannya, memang betul itu merupakan bentuk ciri anggota komite kedisplinan. Soobin juga melihat pin kecil yang tersemat di jas almamaternya—pin yang sama persis dengan miliknya.

Tak hanya Soobin, Lelaki itu juga memperhatian dan cukup terkejut, “Bagaimana bisa kau punya pin yang sama sepertiku juga? Apa kau penipu yang sering mengaku-ngaku aku?!”

MINISODE : BLUE HOUR  (SOOGYU)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang