- upgrade

74 12 0
                                        

pls, actived the black theme




































"wahh, yakin kak?!"

Mirae senyum pasrah ramah di paksakan, dia ga yakin kalau Adek nya waktu dia belum sadar, sangat menderita, dan keadaan nya memprihatinkan, sekarang adik nya ga ada bedanya, ga ada yang memprihatinkan, masih kaya biasa, malah makin- ahhh, gatau lagi lah.

"ho oh."

Dongji mengucapkan 'wow' tanpa suara, terus geleng-geleng, kakak nya bener bener sih.

epic gila.

Mirae bakal pulang besok, ini yang membuat Dongji geleng-geleng ga percaya.

ya kalian bayangin aja, orang yang kondisinya drop, tidur seharian, dan lesu kaya ga ada kehidupan, tiba-tiba semangat besok mau pulang dari rumah sakit setelah kecelakaan tragis itu- bagi Dongji - , di tambah lagi lengan tangannya masih di gips, kening masih di tambal dengan kapas dan plester, dan jangan lupa plester di mana-mana.

"apa kabar sekolah?" tanya Mirae yang lagi betulin posisi duduk nya di bangsal, supaya ngantuk nya ilang, dia duduk, tapi tetep aja ga berhasil.

setidaknya Mirae mencoba¯\_(ツ)_/¯.

"hectic, pada nanya kakak di mana dan apa dan bagaimana, ya ga banyak sih, cuma kak Lia dkk, itu yg paling sering nanya, sering banget, seringggggggggg banget...." Dongji memegang kepalanya, dia menunduk, hampir trauma karna di tanya terus, tiap saat, di kantin, kelas, mau pulang, pas datang. iya sih, tau kalau temen kakak nya itu khawatir, tapi ga gitu konsep nyaa.

"yang sabar ya, kakak ga bisa bantu," Mirae senyum pasrah, sambil nepuk-nepuk pundak adiknya, pathetic.

Dongji mengusap hidung nya yang hampir keluar ingus, "tanggung juga sih kakak sembuh nya, udah musim panas, besok udah liburヘ( ̄ω ̄ヘ)."

Mirae nyipitin matanya, pengen mukul, emang nya sembuh bisa di atur?

"yaaaaa, setidak nya kakak sembuh" ¯\_(ツ)_/¯

Dongji senyum cerah hampir nampak gigi, silau "iyaaa, kakak sembuh," katanya sambil meluk Mirae dari samping dengan kasih sayang yang tulus.

tapi cukup membuat Mirae cringe.







































owhrjwjrbiwdneiskfbqkjd, Mirae ga bisa berkata-kata.

ini udah malam, dan besok dia bakal pulang.

tapi dia masih mimpi hal yang sama, malam ini udah 2 kali dia mimpi kaya gitu, bangun, tidur lagi, mimpi, bangun, tidur lagi, gitu aja dari jam 9 malam tadi.

sekarang udah jam 4 pagi, masa dedemit lagi aktif-aktif nya, aduh, Mirae cuma mau tidur, itu aja, ga ada yang lain.

dia pengen marah, pengen lempar barang, ini sudah terlalu sering dan menggangu, jadi kapan ini akan berakhir?!?!?

gadis berambut putih-abu-abu itu mengusap wajah nya kasar, menajamkan matanya, menghirup udara sebanyak-banyaknya, mencoba meredam emosi nya yang sudah hampir meluap.

helaan nafas terdengar, Mirae menyerah, dia kembali berbaring dengan tenang, mencoba untuk tidur lagi.

mata nya terbuka seketika, langsung melirik ke samping, ke meja kecil samping bangsal nya.

ada boneka rubah, seakan menatap Mirae dan bertanya 'kamu gapapa?'

"aku kenapa-kenapa"

tangan Mirae dengan cepat mengambil boneka itu, dia berusaha beranjak dari tidur nya, tapi terlalu susah, aih, tubuh nya sudah lengket dengan kasur.

dia turun dari kasur dan berjalan tanpa alas kaki, ubin kamar ini terasa dingin sekali.

berjalan dengan langkah pelan menuju jendela kamar nya.

dia memeluk boneka dengan tangan yang masih di gips, lalu menggunakan tangan satu nya untuk membuka akses jendela itu.

gorden ia buka dengan paksa, lalu kaca nya yang Mirae buka, terlihat lah langit malam yang indah dari sini.

langit nya cerah, sinar bulan yang terang, lalu bintang berserakan di atas sana.

Mirae menumpu tangan nya di jendela yang tinggi se dada, memeluk boneka rubah yang di bawakan ibunya tadi seakan meminta bantuan.

dia bukan di lantai 1, dia berada di lantai 5, jadi agak tinggi, membuat keadaan semakin sunyi.

rambut Mirae yang senada dengan warna bulan, terlihat serasi di sini, apalagi dengan pantulan cahaya nya, makin membuat rambut nya indah sekali.

manik mata gadis itu menatap lurus ke arah bumantara, memohon kepada entah siapa supaya mengentikan mimpi aneh itu.

kaki nya terlalu lemah untuk menopang diri nya, jadi Mirae kembali berbaring, membiarkan jendela terbuka, agar bisa melihat langit malam dari sini.

entah kenapa, dia yakin, mimpi itu tak akan datang lagi setelah ini.

dengan rasa tenang, dia memeluk boneka rubah itu, menaruh tubuh nya di posisi senyaman mungkin, memejamkan mata berusaha pergi ke alam mimpi.

iya mimpi, mimpi yang lain.






































"good morning star shine, the earth says, hello"

jangan tanya, itu sudah pasti, tentu, of course Dongji.

*Dongji tersenyum dengan wink.

Mirae mau ketawa, tapi ga bisa, jadi mukanya merengut, datar, ga bersahabat. duduk, sambil meluk Dalgi --nama boneka rubah nya -- dengan satu tangan, waktu ngeliat Dongji datang.

dengan catatan, pagi-pagi buta, sekarang juga masih pagi, setidaknya matahari udah bersinar, tadi belum.

jangan salah, dia cukup tidur, ya, cukup tidur, dia cuma......eeeee, gatau, perempuan susah di mengerti, jadi jangan di mengerti.

"hey sis, cheer up!, kakak hari ini bakal pulang!" ucap Dongji dengan semangat.

ya semangat, Mirae nya engga.

dengan rasa kesal yang menggebu, Mirae baring lagi, dia narik selimut sampai nutupin muka, meluki Dalgi, berusaha ga nanggepin Dongji yang tadi nyapa dia pake dialog Willy Wonka.

agak kesel ya.

"siapa bilang kakak boleh tidur lagi?" Dongji menarik selimut Mirae, "kita hari ini bakal pergi ke rumah Jiji!!, ayo bangun, kereta berangkat nanti sore, ayo siap-siap!"

Mirae mendelik, ada yang salah, tapi gatau apa, tapi yang pasti, ada yang salah.

rumah Jiji, nanti sore, berarti hari ini, hari ini aku pulang...hmmm.

oke, ini ada yang salah, Mirae yakin 199999999999999,9 persen ada yang salah.

































¯\_(ツ)_/¯

mutualismCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang