Hesa memang seperti itu, Mahesa lengkapnya.
Pulang saat matahari tenggelam, hilang sebelum diperingati malam. Pergi dibawa teriknya siang, lalu datang dengan sejuta harapan.
Nara tidak berniat mencari, tak peduli si laki-laki pergi kesana kemari.
Mengapa?
Jika pertanyaannya adalah mengapa, lalu harus ditanya ke siapa?
Keduanya berlagak tak punya kesempatan untuk sekedar mencari jawaban, beri alasan takut kehilangan, padahal masing-masing hanya enggan mengungkap sayang.
Tidak ada yang tahu skenario asli diantara keduanya. Dibiarkan hangus, dibiarkan gugur, tak ada sisa.
Sepertinya bukan tentang Hesa yang menyakiti si perempuan, pun tentang Nara yang kesehariannya menangisi si laki-laki. Keduanya ini, memang gemar mencari tanya.
Tak apa
Mahesa dan Nara saat itu, terlalu singkat untuk menjadi sebuah kisah. Jadi, biarkan dulu seperti ini, ya?

KAMU SEDANG MEMBACA
Hesa, Nar.
Teen FictionSatu yang tetap sama, Kinara tetap yang tercantik di mata Mahesa.