THE DARK PRINCE | 2.9

397 25 0
                                    

"Aku senang kamu kembali membuka mata. Kamu tau? Aku selalu duduk disini menunggumu hingga kamu terbangun" Ucap Arthur.

Amaira mengubah posisinya menjadi duduk, ia memeluk Arthur, kemudian berkata.
"Athaya datang ke mimpi aku, dia bilang, nasib kalian semua ada di tangan aku" Katanya.

Arthur mengerti, mungkin itu adalah pesan-pesan yang Athaya sampaikan kepada Amaira. Arthur hanya bisa diam, dia membalas pelukan hangat Amaira.

Tak lama kemudian Amaira melepaskan pelukannya, ia juga melepaskan infus di hidungnya.

"Hey, kenapa kamu lepas?" Tanya Arthur.

"Aku gak butuh ini" Jawab Amaira, ia juga melepaskan infus di tangannya, "Aku sehat, gak ngerasain sakit apapun"

"Tapi tetap saja. sudah dua hari kamu koma, dan cairan itu yang membantu kamu hingga sehat kembali" Ujar Arthur.

"Dua hari?? Artinya, ibu, ayah dan yang lain belum juga kembali?" Tanya Amaira.

Arthur juga baru menyadari hal itu. Seketika perasaannya mulai tidak baik, ia bahkan berfikir bahwa terjadi sesuatu kepada mereka semua.

"Arthur, kamu bisa buat ilusi?" Tanya Amaira lagi.

"Tidak" Jawab Arthur, "Memangnya ada apa?" Tanya Arthur.

"Aku mau cari mereka semua. Karena kamu gak bisa keluar dari sini, biar aku aja yang nyari mereka. Tadinya aku mau kamu buat ilusi diriku sendiri, tapi ternyata kamu gak bisa" Jawab Amaira.

"Kamu tidak boleh pergi sendirian" Ujar Arthur, dia terdiam berfikir, lalu segera berdiri, "Aku punya cara" Arthur menatap CCTV di dalam kamar rawatnya, lalu segera menghancurkan CCTV itu tanpa menyentuhnya.

"Kita keluar bersama" Ucap Arthur, "Pintu ini akan terkunci selama kita pergi" Lanjutnya.

"Terus kita pergi lewat mana?" Tanya Amaira.

Arthur terdiam berfikir, kalau ia dan Amaira keluar dari kamar. Itu akan memancing perhatian dari para penjaga di luar. Jika Arthur menghilang, lalu bagaimana dengan Amaira?

"Aku punya ide!" Seru Arthur, "di antara kita berdua, hanya kamu yang bisa keluar dari kamar ini. Sebelumnya, kamu pasang kembali infus kamu yang di tangan" Arthur membantu Amaira memasang infus tersebut, ia tidak menusukkan kembali jarumnya, hanya menempelkannya saja.
"Katakan kepada mereka bahwa kamu ingin berjalan-jalan saja di luar, dan jangan biarkan mereka mengikuti kamu" Jelasnya.

"Terus, kamu gimana?" Tanya Amaira.

"Aku akan berteleportasi" Arthur membawa Amaira ke jendela besar di ruangan mereka, "Lihat pohon itu?" Tanyanya dan Amaira hanya menganggukkan kepalanya.

"Temui aku disana, mengerti?"

Amaira menganggukkan kepalanya, setelah itu Arthur mengecup kepala kekasihnya itu, "Semoga berhasil" Ucapnya kemudian dia menghilang begitu saja.

Amaira melanjutkan misinya, ia keluar dari pintu ruang rawatnya. Pada saat dirinya baru melangkah, para penjaga disana memanggilnya dan membuat dirinya menoleh.
"Iya pak?" Ucapnya.

"Apa Pangeran masih ada di dalam?" Tanya si penjaga.

"Masih, dia lagi tidur" Jawab Amaira.

"Lalu, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya penjaga itu lagi.

"Aku bosen di kamar pak, mau cari udara segar sebentar. Lagipula dokter gak ngelarang aku keluar" Jawab Amaira.

Penjaga tersebut mempercayai Amaira, ia membiarkan Amaira pergi, karena tujuan mereka disini juga bukan untuk menjaga Amaira, melainkan Arthur.

Dengan cepat, Amaira berjalan menuju lift dan lift berhenti di lantai pertama. Amaira melangkah dengan waspada, takut-takut jika ada yang mengenalinya, namun untungnya tidak ada yang mempertahankan dirinya.

Di depan rumah sakit, ia melepaskan infus di tangannya, lalu segera berlari menghampiri pohon yang dimaksud oleh Arthur.

Ia senang melihat Arthur disana. Arthur menggenggam tangan Amaira, "Siap?" Tanyanya.

Amaira menganggukkan kepalanya. Arthur pun segera menggendong Amaira, membawanya lari jauh dari rumah sakit.

♛ ♛ ♛

"Kita gak mungkin kesana dalam keadaan seperti ini, maksud aku.. Baju ini" Kata Amaira.

"Benar katamu" Balas Arthur. Mereka masih memakai baju rawat, dan tidak mungkin juga mereka datang ke istana menggunakan baju rawat, itu akan membuat mereka tertangkap.

Arthur pun menoleh ke arah kedua preman yang tengah berjalan di sekitar sana. Ia memiliki ide dan segera menghampiri kedua preman tersebut.

Arthur menatap mata kedua preman tersebut, dan bukannya melawan, kedua preman tersebut terdiam. Dan ternyata Arthur telah berhasil mensugestikan mereka berdua. Ia pun segera mengambil jaket mereka berdua, dan kembali menuju Amaira.
"Aku tau ini sedikit kotor dan bau. Tapi, kita bisa pakai ini untuk sementara waktu" Ucapnya.

Amaira mengiyakan, ia tak perduli seberapa kotor jaket itu. Yang ia utamakan sekarang ini hanyalah nyawa keluarganya.

Setelah memakai jaket tersebut, mereka melanhkahkan kaki pergi dari sana.

Tak memakan waktu lama untuk sampai ke kerajaan, sebab Arthur membawa Amaira lari dengan kecepatan tinggi untuk sampai disana.

Sesampainya mereka, mereka tak melihat banyaknya orang disana. Mungkin karena kejadian kemarin, tak ada lagi wisatawan yang berani menginjakkan kakinya di Kerajaan Arthur.

Dengan indera penciuman yang tajam. Arthur sempat mengetahui keberadaan Acheron dan yang lainnya lewat bau mereka. Mereka semua, termasuk Arthur memiliki bau yang berbeda. Walaupun sama-sama vampire, namun tubuh mereka harum seperti parfum. Hal itu dikarenakan mereka memiliki darah keturunan bangsawan vampire.

"Sepertinya mereka sudah pergi dari sini" Ucap Arthur.

"Disini kemarin ada tiga vampire, mereka di bawa ke kantor kepolisian untuk di tahan. Takutnya mereka bisa ngelukain warga"

Mendengar suara perbincangan itu, Amaira dan Arthur saling menatap satu sama lain, kemudian mereka kembali melangkah pergi dari sana.

Dipertengahan jalan, mereka bertemu dengan Jessalyn. Jessalyn sendiri tengah mencari keberadaan Leona, Acheron dan ketiga saudara nya. Dari situlah mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama.

Sesampainya di kantor kepolisian, tak ada satupun polisi yang sadar bahwa Arthur adalah pangeran yang kemarin ditemui.

"Aku mencium bau mereka" Ucap Arthur.

"MINGGIR MINGGIR!" Beberapa polisi berjalan melewati mereka, di tengah-tengah para polisi itu, ada Acheron dan yang lainnya. Mereka hendak dibawa ke suatu tempat.

Saat itu juga Amaira berlari, ia berhenti menghalangi jalan para polisi itu, dan membuat para vampire tersebut terkejut.

"Amaira..." Panggil ibunya.

Sayangnya, apa yang dilakukan Amaira itu tidak berhasil membuat mereka berhenti. Salah satu polisi di sana mendorong Amaira hingga terjatuh. Aaron ingin marah, namun ditahan oleh ayahnya. Mereka pasrah di bawa pergi oleh para polisi.

"Amaira!" Arthur dan Jessalyn membantu Amaira berdiri.

"Kita tidak punya waktu lagi, mereka mungkin akan segera dibawa ke pengadilan. Aku takut mereka akan dieksekusi di sana" Ujar Jessalyn.

"Itu tidak akan terjadi selagi kau membawa kunci permasalahan ini" Balas Arthur.





~BERSAMBUNG~

THE DARK PRINCE [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang