Songfiction-2
•ENCHANTED•
There I was again tonight
Forcing laughter, faking smiles
Same old tired, lonely place
Walls of insincerity
Shifting eyes and vacancy
.
Aku menatap keseluruhan penampilanku malam ini di cermin toilet.
Cantik?
Ya aku memang cantik dan terlihat perfect.
Aku ingin segera pulang, papa bersikeras memintaku menemaninya menghadiri pertemuan-pertemuan bersama teman-temannya, termasuk menghadiri pesta pengusaha sekaligus rekan bisnisnya yang diadakan di sebuah gedung megah. Aku juga diminta berdandan secantik mungkin. Kak Maya yang membantuku merias. Ia pilihkan gaun yang cantik dengan warna jingga yang memiliki pita berwarna merah.
Padahal malam minggu seperti ini paling enak ngumpul dan nongkrong bareng-bareng teman, tapi apa boleh buat jika papa berkehendak aku pasti tidak akan kuasa membantahnya. Dan terkadang sifatnya yang harus dituruti itu membuat aku sedikit kesal.
Papa tidak pernah mengerti aku! Aku paling benci hadir di acara seperti ini, aku ingin bebas melakukan apa pun yang aku inginkan seperti halnya kak Maya. Ah! Betapa irinya aku sama dia, walaupun dia itu kakak aku sendiri. Kenapa hanya aku yang selalu dibawa papa pergi ke acara seperti ini?
Setelah aku selesai membenahi penampilan aku di cermin toilet, aku keluar gedung dan berjalan ke arah taman. Setidaknya di sini aku tidak perlu tersenyum palsu ke semua orang, cukup duduk dan menikmati langit malam. Rambut rambut yang segaja kubiarkan tergerai dan tidak disanggul terbang ditiup angin malam. Dingin. Tapi itu jauh lebih baik daripada berada di dalam diantara orang-orang yang tak dikenal dan tak tahu apa yang mereka bicarakan.
Lagi enaknya memandang langit malam yang bertabur bintang-bintang, suara Pak Ario orang suruhan papa untuk menjagaku datang menyapa dan mengatakan bahwa aku di cari papa.
“Non Nina, tuan mencari nona.”
“Ya, aku akan kesana. Makasih pak Ario.”
Aku menghembuskan napas lelah lalu bangkit dari kursi taman dan melenggang masuk kembali ke dalam gedung.
Aku sempat bersitatap dengan para tamu undangan lainnya yang menyapa dan kubalas dengan senyuman. Lalu tanpa sengaja aku melihat seorang pria dengan setelan jas mahalnya yang sedang mengobrol-entah membicarakan tentang apa bersama teman-temannya sambil sekali-kali tertawa menanggapi candaan teman-temannya.
Kesan pertama yang kutangkap adalah tampan dan mempesona. Entah mengapa saat melihatnya ada perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di dada. Dan aku tersenyum.
“Nina!” suara papa mengintrupsi, tiba-tiba membuat aku terkejut dan kembali terbangun dari khayalan-khayalan tentang pria itu.
“Eh.. ya pa.”
“Darimana saja kamu, Nin? Papa cariin kamu.” wajah papa khawatir.
“Maaf pa, tadi aku abis dari toilet,terus ke taman di luar gedung sebentar jalan-jalan cari angin, pa.” Aku menunduk salah.
“Oh, yasudah lain kali kamu bilang-bilang sama papa, hampir aja bikin papa panik. Papa tau kamu gasuka ke acara seperti ini, tapi papa emang butuh teman untuk pergi. Karena siapa lagi yang mau nemanin papa? Mama kamu sudah tidak ada dan kakak kamu itukan mana bisa diharapkan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
SONGFICTION
Short StorySongfiction hanya berisi kumpulan cerita pendek berdasarkan lirik lagu.
