Kelopak mata Hena terbuka perlahan, dia menyipitkan matanya yang terkena cahaya itu. Kemudian dia melihat ada dokter yang biasanya berjaga di uks sedang memeriksanya.
"Hena? Gimana udah mendingan?"
Hena perlahan bangkit dari kasurnya untuk duduk. Tapi karena dia kesusahan tiba-tiba saja ada orang yang memegang bahunya—membantu Hena untuk duduk. Otomatis Hena langsung menolehkan kepalanya, dahinya mengerut ketika melihat orang yang membantunya adalah Jeno.
"Lo ngapain?"
Jeno mendengus pelan. "Lo pikir aja? Yakali gue kesini cuci piring."
"Jokes lo bener-bener receh." balas Hena dengan datar.
"Oke? Hena, boleh sekarang saya bicara?" ucap Dokter Jung.
Hena menganggu pelan dan telunjuknya diarahkan ke Jeno. "Tapi suruh dia keluar!"
"Jeno, tolong belikan makanan di kantin!"
Mendengar ucapan Dokter Jung Jeno langsung beranjak keluar, setelah melihat punggung Jeno yang tak terlihat itu atensi Dokter Jung kini sepenuhnya ke Hena.
"Hena, are you okey?"
"I'm good."
Dokter Jung menggelengkan kepalanya melihat Hena yang seakan-akan kuat itu.
"Just tell me! Kamu sakit bukan karena kamu yang engga menjaga kesehatan kamu sendiri, tapi karena kamu lagi stress, kan? So, tell me!"
Hena memijit pelipisnya pelan. "Who are you? Why should I say to you?"
"Saya dititipin sama kakak kamu, so you are my responsibility."
"Do i have a bro? Or family?" ucap Hena dengan sarkas. "So, don't be pretentious."
Dokter Jung menghela napas kemudian dia mengangguk pelan–mengerti apa yang dimaksud Hena. Dokter Jung akhirnya mengambil beberapa obat dan menambahkan vitamin lalu dia memberikannya pada Hena.
"Jangan lupa diminum setelah makan, saya permisi barangkali kamu tidak nyaman kalo saya disini." ucap Dokter Jung dengan berjalan ke luar UKS.
"Untung tau diri." gumam Hena dengan menatap bungkusan obat yang berada di tangannya.
Hena melemparkan bungkusan itu pada tong sampah yang berada di dekatnya. Dan tangannya mengambil ponsel yang di taruh di nakas samping bangsal. Jari-jemari Hena bergerak dengan lincah mengirim pesan pada seseorang. Kemudian dia tersenyum tipis.
Kepala Hena mendongak saat mendengar bunyi pintu terbuka. Terlihat Jeno yang datang dengan bubur ayam ditangannya.
Hena memperhatikan gerak-gerik Jeno yang menaruh bubur ayam nakas sampingnya. Kemudian Jeno menarik kursi dan mendudukinya. Melihat itu Hena hanya mengangkat alisnya pelan.
"What are you doing?"
"Makan."
Hena memutar bola matanya. "I said what are you doing?!"
"Kalo gue bilang makan, ya makan."
"Pardon? I mean, ngapain lo disini?!"
Jeno menghela napas—menahan emosinya. "Gue disuruh pak Bobby jagain lo disini." ucapnya dengan penuh penekanan.
"Oh."
Jeno hanya berdecak mendengar balasan singkat Hena. Kemudian tangannya meraih mangkok bubur ayam dan menyuapkannya ke arah Hena.
Kerutan di dahi Jeno muncul saat tangannya di tahan oleh Hena.
"Herin, kemana?"
Jeno mengembalikan buburnya ke tempat semula dengan sedikit kasar. "Kenapa? Belom puas berantem?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bully | Lee Jeno
Fanfiction🔞"He is a losser, but he is a good kisser." @goldenjays, 06/04/21.
