6. Blood

34 1 0
                                        

Hena merendam badannya ke dalam bak mandi yang sudah ia beri bath bom dan beberapa kelopa mawar. Dan tak lupa juga Hena menyalakan lilin aromatherpy lavender agar ia menjadi lebih nyaman.

 Dan tak lupa juga Hena menyalakan lilin aromatherpy lavender agar ia menjadi lebih nyaman

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dia juga mematikan semua lampu agar tenang. Kemudian ia menyandarkan kepalanya diujung bathtub sambil memejamkan matanya. Dan tangan kanannya memegam satu gelas sampaye.

Inilah sebenarnya hal yang sangat Hena sukai yaitu tidak ada yang menganggu hidupnya dan tenang. Tenang tanpa ada usikkkan dari keluarganya, teman ataupun perusahannya. Hena ingin sekali kabur dimana tidak ada satupun orang yang mengenalinya dan hidup tanpa aturan.

Tittt

Hena membuka kedua kelopak matanya, mendengar suara pintu terbuka. Dia menghela napas berat, baru saja Hena merasa tidak ada yang akan menganggunya, tapi langsung dikacaukan.

Tok tok tok

"Hena?"

"Hen? Hena?"

"HENA? LO MASIH IDUP KAN?"

Hena megacak rambutnya mendengar suara Doyoung yang berteriak memanggilnya dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi. Kemudian Hena beranjak dari bathtub dan meraih jubah mandinya serta melilitkan handuk ke rambutnya.

"Hena?! Kalo ga lo buka, gue dobrak nih pintu!"

Dengan segera Hena membuka pintu dan menatap datar ke arah Doyoung yang sudah bersiap-siap akan mendobrak. Dan saat itu juga Doyoung menghela napas lega sambil mengusap dadanya.

"Gila! Gue kira lo mau bunuh diri coba," ucap Doyoung dengan menggelengkan kepalanya.

"Hidup gue masih panjang." ucap Hena dengan berjalan menuju dapur. Kemudian mengambil botol minum yang berada di dalam kulkas.

Doyoung meletakkan beberapa barang yang dia bawa ke atas meja makan. Setelah itu Doyoung mengambil dua mangkok dan menata bubur ayam ke dalamnya.

"Nih! Bubur ayam mang asep ke sukaan lo!" ucap Doyoung sambil duduk dan akan menyantap bubur ayamnya juga. Butuh dua jam untul mengantri bubur langganan Hena yang satu ini, makanya Doyoung tidak membuang kesempatan segali bisa memakannya.

Perlahan Hena mendekati Doyoung dengan menyipitkan mata. Memang sudah biasa dia menyuruh Doyoung untuk membelikan makanan atau sekedar menyuruhnya mengurus kebutuhan rumahnya, tapi Doyoung tidak ada melakukan sesuatu jika tidak Hena suruh. Dan tumben sekali pagi ini Doyoung berinisitif sendiri.

"By the way, hari ini lo kelihatan cantik banget." buka Doyoung sambil melihat reaksi Hena.

Hena mencebikkan mulutnya sambil duduk di samping Doyoung. "Mau apa? To the point aja."

Senyum Doyoung mengembang. "Kemarin kan gue mampir ke perusahaan kakek lo nih, terus gue ketemu satu orang cantik banget."

"Siapa? Setau gue di perusahaan kakek gaada yang cantiknya melebihin gue."

Bully | Lee JenoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang