10. Sick

20 2 0
                                        

Gadis yang sedang bergelut dengan mimpinya itu melengguh pelan. Sekujur tubuhnya penuh dengan keringatnya. Pegangannya mengerat pada sisi selimut yang ia kenakan. Apalagi bintik-bintik merah mulai muncul satu per satu memenuhi tubuhnya.

Hena perlahan membuka kedua netranya dengan nafas yang pendek. Dia mengedarkan pandangannya. Merasa asing dengan tempat ini. Ah, Hena baru ingat kalau dia habis menyerobot ke dalam rumah Jeno. Tapi Jeno juga sedikit kurang ajar membiarkannya tidur di sofa dan tidak memindahkannya ke kamar tidur.

Dengan gerakan yang lambat Hena bangkit dari tidurnya. Dia beranjak dari sofa menuju ke arah dapur.

Pyarr

"Shit." umpat Hena pelan karena dia tidak sengaja menjatuhkan gelas saat akan mengambil air minum.

"Kenapa? Lo ga papa?"

Kepala Hena otomatis menoleh saat mendengar suara berat seseorang yang seperti bangun tidur. Dan ya, terlihat Jeno dengan rambut berantakannya, kaos oblong berwarna hitam yang tidak berlengan serta boxer hitam yang melekat di tubuhnya.

"Wihh, lo sering ngegym?" tanya Hena dengan out of the topic.

Jeno menghela napas lelah. Kemudian matanya tertuju pada pecahan kaca yang berada di bawah Hena. Dengan otomatis Jeno mengulurkan tangannya ke Hena.

Hena mengerjapkan matanya. "Ngapain?"

"Sini, biar ga kena pecahannya." balas Jeno. Dengan ragu Hena menerima uluran tangan Jeno, kemudian dia berpindah ke tempat Jeno berdiri, menghindari pecahan gelas tadi.

"Lo duduk aja sana, biar—" ucapan Jeno menggantung karena tangannya merasa hangat saat berpegangan dengan tangan Hena.

Seketika itu juga tangannya beralih untuk memengang dahi Hena. Dan sama, rasanya terlalu hangat untuk ukuran orang yang sehat. Kemudian di tengah temaram lampu dapur Jeno bisa melihat dengan jelas wajah Hena yang memerah disertai bintik-bintik merah. Bukan hanya wajahnya, tapi leher, tangan dan sekujur tubuhnya.

Ini tidak mungkin gara-gara lukanya Hena kemarin, kan?

"Kita ke rumah sakit."

Hena menatap datar ke arah Jeno, kemudian dia menyingkirkan tangan Jeno yang masih berada di dahinya.

"Ga, paling minum antibiotik sembuh. Lo ada, kan? Atau paracetamol, deh?"

Jeno menggeram kesal karena Hena ini kenapa sulit sekali sih disuruh untuk pergi ke rumah sakit. "Ga, kita ke rumah sakit."

"Gue ga mau." kekeh Hena dengan pendiriannya.

"Tapi lo bintik-bintik gitu? Pasti gatel, kan?"

Hena mengerjapkan matanya dan langsung melihat ke arah tangannya. Dan benar saja, tangan mulusnya kini terpenuhi dengan bintik-bintik merah. Ah, pasti ini karena dia memakan udang buatan si meLOnTea alias mama tirinya itu.

"Cuman alergi, mending lo ambilin obat dirumah gue aja."

"Kita ke rumah sakit."

Hena mengernyit kesal menatap Jeno yang juga tetap pada pendiriannya. "Lo kok ngeyel sih?"

Jeno menutup matanya menahan amarah. "Oke, tapi gue ukur suhu lo dulu kalo suhu lo diatas 38 derajat celcius. Kita ke rumah sakit, gimana?"

Karena Hena tidak mau berdebat lagi dia menganggukkan kepalanya sambil melangkahkan kakinya ke arah sofa. Kini terdapat sebuat thermometer di apitan tangan Hena. Dengan Jeno yang memperhatikannya sambil berdiri.

Tit

Saat Hena mengambil thermometer yang berada di ketiaknya itu. Dengan cepat tangan Jeno menyambar benda kecil berwarna putih. Setelah Jeno melihat angkat yang tertera dilayar, dia langsung mengambil jaket hitam yang biasanya ia taruh di sofa kecil.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 17 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Bully | Lee JenoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang