O5. Night in Paradise (02)

10 5 0
                                        

::: 05 :::

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

::: 05 :::

"Tidak masuk?"

Jungkook memandangi Namjoon dan Jimin bergiliran, mengangguk ketika mendapat gelengan dari keduanya dan menutup pintu kayu itu perlahan. Beranjak menuju kasurnya bersama Kim Taehyung yang sudah terlelap bersama seulas senyum.

"Apa segala sesuatunya akan berjalan baik?"

Nada penuh rasa khawatir itu membuat Namjoon menelan saliva, mengeraskan rahang. Kembali menyalakan pemantik dan menyelipkan satu rokok di bibir.

"Tidak akan ada yang dapat mengejar kita di sini."

Jimin menghela napas. Mengacak rambut penuh rasa frustasi, segala topeng yang dikenakannya semenjak kemarin hancur dalam satu malam. Tidak ada lagi tarikan bibir yang membentuk kurva dan menenggelamkan kedua mata.

"Mereka pasti akan menemukan kita."

"Tidak!"

Namjoon mengeraskan rahang, mengepalkan tangan membentuk tinju. Perkataan itu lebih menyerupai peringatan pada dirinya sendiri. Menghambat seluruh pasokan oksigen yang dibutuhkannya untuk bernapas.

"Bagaimana mungkin? Mereka dapat melacak kemanapun kita pergi," kekeh Jimin.

"Sial, tidak bisakah kau menutup mulut?"

Jimin mendengus, wajahnya berdenyut penuh emosi. Segala ketakutan sekaligus amarah memuncak menjadi satu, siap meledak kapan pun diinginkannya. Seolah menyiapkan diri untuk saat seperti ini. "Apa?" Jimin tidak dapat menahan diri untuk tidak melepas tawa sinis. "Bukankah
kau yang selama ini memperkeruh suasana sementara aku berusaha sebaik mungkin tampak ceria."

Namjoon membuka mulutnya sebelum menutupnya lagi, memalingkan wajah dengan terpukau. "Wah, kau memang sudah gila." Dia terkekeh. "Memangnya siapa yang memerintahkan untuk mencuri uang mereka? Seandainya kau tidak bertindak serakah, aku tidak perlu membunuh keparat itu."

Tidak ada jawaban untuk beberapa waktu. Hanya suara deru angin yang menimbulkan gemerisik pada pohon-pohon.

"Sudahlah, sebaiknya kau membantuku mengubur pria itu." Namjoon menarik napas lalu mengembuskannya, bergerak masuk dan muncul kembali setelah beberapa menit dengan satu tas hitam besar serta sekop. "Kau sudah memeriksa tanah di dekat sakura itu?"

Jimin mendengkus, mengacak rambutnya lalu mengangguk. Menerima sekop yang disodorkan padanya lalu bergerak lebih dahulu menuju pohon sakura, mulai menggali selagi menunggu Namjoon.

Lari, Jeon!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang