Ruang perpustakaan yang cukup luas itu tampak lengang—memang begitu keadaannya, setiap hari.
Sebelum Kirana masuk ke tempat itu, hanya ada penjaga perpustakaan yang duduk di kursinya sambil membaca sebuah buku tebal. Punggungnya nampak sedikit bungkuk, selain karena memang sudah tua, agaknya akibat ia terlalu lama dan terlalu sering duduk di kursinya tanpa terbangun sebab tak ada yang meminjam buku dari sana—kecuali buku pelajaran.
Senyum hangat dari penjaga perpustakaan berusia setengah abad—mungkin lebih—itu menjadi penyambut bagi Kirana yang tak pernah absen ketika ia datang ke sana. Wajah Pak Ngadiman tak pernah berubah, tetap sama seperti biasa—terlihat tenang meski keriput tak dapat disembunyikan.
Balasan berupa senyum dari bibir Kirana membuat Pak Ngadiman menghela napas lega. Disodorkannya buku berisi daftar siswa yang berkunjung ke perpustakaan—yang isinya hampir didominasi oleh nama Kirana—seraya berkata, "Baru kelihatan lagi, Nduk?" Aksen jawa begitu kental terdengar dari mulut Pak Ngadiman.
Bagi lelaki tua itu, melihat Kirana mengingatkannya kepada anak bungsunya yang telah lama tiada. Tak heran jika diam-diam, ia menanti kedatangan Kirana. Sebab dengan melihat gadis itu saja rindu kepada anak bungsunya bisa sedikit terobati—meski hanya sedikit.
Lagi, Kirana tersenyum. Sambil menaikkan kacamata di batang hidungnya, ia berkata, "Iya nih, Pak. Kemarin-kemarin ngga sempat ke sini." Gadis itu mengisi daftar hadir di buku tipis yang entah sudah berapa lama tak diganti sebab lembarnya tak kunjung habis. Usai mengobrol singkat dengan Pak Ngadiman, Kirana meminta izin untuk pergi ke tempat di mana ia bisa merenung dan mengobrol dengan dirinya sendiri—kadang, ia butuh waktu sendiri, tanpa Qila atau siapa pun.
Saat sedang berjalan menuju tempat di mana ia bisa merenung—selain kamarnya—tangan Kirana meraih sebuah novel bersampul lapuk namun masih layak baca. Kursi di pojok ruangan menjadi tempatnya berlabuh—memang begitu setiap ia ke sana, sampai-sampai kursi itu ia tempeli stiker sebagai tanda milik yang bahkan ia lupa dari mana mendapatkannya.
Ah... kalau membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan meninggalkan sekolah, perpustakaan, dan kursi itu, sedih sekali rasanya. Tapi, apa mau dikata? Ia sudah kelas tiga dan sudah seharusnya pergi dari sana.
Kadang, Kirana bertanya dalam hati, kenapa jarang sekali siswa datang ke sini? Padahal, tempat ini asyik, tempat ini menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Juga banyak sekali buku-buku yang menurutnya bagus di sana—meski sampulnya lapuk, toh, yang penting kan isinya.
Lembar demi lembar dibacanya. Sesekali dahinya berkerut, tanda bahwa ia amat terlarut dalam novel tersebut.
Pegal sebab terlalu lama membaca, Kirana memutuskan untuk meletakkan novel tadi di meja. Kacamatanya ia lepas, kedua tangannya mengusap-usap kelopak matanya dan sesekali memijat daerah sekitar matanya pelan. Merasa pegal di matanya sudah cukup terobati, gadis itu mengerjap beberapa kali, lantas sedikit tersentak mendapati seseorang sudah duduk di sampingnya.
Gadis itu tersenyum simpul pada Kirana. "Hai, Kir," sapanya, lantas melambai.
Segera setelah kacamatanya ia kenakan kembali, Kirana dapat mengenali dengan jelas gadis yang menyapa barusan. Bukan Qila. Namanya Bella, teman sekelasnya. Senyum tipis terukir di bibir Kirana sebelum akhirnya membalas sapaan Bella, "Hai, Bell."
"Lagi apa, Kir?"
"Mm..." Kirana diam sejenak. Memang jawaban apa yang Bella harapkan darinya dengan menanyakan itu? Namanya saja perpustakaan, pasti kegiatan yang dilakukan di sana berhubungan dengan buku dan semacamnya, dong? "Baca buku." Pada akhirnya jawaban itu keluar dari mulut Kirana.
YOU ARE READING
Disparitas
FanfictionBerbeda itu tidak apa. Kirana dan Bobby membuktikannya. Start: 23-03-20 Disparitas ⓒ 2020 by Minyowow.
