2. Dia Baik, Seperti Orang Baik Lainnya

116 13 3
                                        

Senin pagi adalah hari di mana ketika beberapa dari sekian banyak murid berlalu-lalang mencari pinjaman atribut sekolah supaya tidak terkena hukuman—pun Bobby.

Dirinya tengah menyantap sarapan nasi uduk yang dibawa dari rumah—Ibunya berjualan nasi uduk—ketika tiba-tiba Pak Margono—guru kesiswaan—menggedor pintu beberapa kali lantas berkata, "Ayo, ayo, keluar! Upacara mau dimulai! Heh, kamu!" Guru itu menunjuk Bobby saat sedang menyuap nasi uduk. "Makannya udahan dulu."

Remaja itu diam sejenak, mata sipitnya agak membulat. Kunyahan yang sempat terhenti ia lanjutkan, menelan nasi uduknya, kemudian berujar, "Sebentar, Pak. Tubuh saya sensitif. Kalau ga fit, bisa terserang penyakit. Emang Bapak mau tanggung jawab?" Suara kekeh dari sampingnya membuat Bobby menoleh. Ia mengenyit. "Elo kenapa, Don?"

Doni mendehem, menatap Bobby, kemudian mengulum bibir menahan tawa. "Gaya lo sensitif. Dikata hamil, apa?"

Usai menoyor kepala Doni sambil berdecak sementara terselip nasi di giginya, Bobby berkata kesal, "Itu positif. Punya temen otaknya ga ada. Pusing bet gue."

"Ya sudah, buruan kelarin makannya. Udah jam segini." Pak Margono menatap jam tangan sebelum akhirnya berlalu dari kelas itu untuk menggedor kelas-kelas lain.

Perkataan Pak Margono barusan tak begitu diindahkan oleh Bobby. Ia menyantap nasi uduknya dengan santai. Sesekali menatap ke arah luar melalui pintu sementara mulutnya sibuk mengunyah. Di tengah kegiatan melamun dan mengunyah di saat bersamaan, mata Bobby membulat ketika tanpa sengaja tangan kirinya mengusap pinggangnya—dan ia tak menemukan ikat pinggang di sana.

Cuplikan kejadian minggu lalu, ketika ia lupa memakai topi—kali ini ia sudah memakainya, bahkan saat masih di rumah—terbayang lagi. Hari itu ia menjadi salah satu dari beberapa siswa yang terkena hukuman berupa: menyapu seluruh sekolah yang teramat luasnya, menulis surat permohonan maaf di kertas folio sepuluh lembar penuh, dan diharuskan untuk membawa tumbuhan tanaman obat keluarga pada esok harinya—dan ia merasa bahwa dirinya hampir mati.

Bobby tak ingin itu terjadi. Ia tak ingin berkeliling mencari tanaman obat keluarga sampai pulang larut, ia tak ingin menulis surat permohonan maaf sampai tangannya nyaris lepas—kalau membersihkan sekolah sih, bukan perkara seberat itu. Segera, Bobby menghabiskan nasi uduk yang tinggal beberapa suap. Ketika dirasa bahwa dirinya butuh minum, Bobby menatap Deka, menepuk tangan temannya itu, lantas memberi gestur seolah dirinya tengah minum.

Singkat dan padat, Doni menjawab, "Ga bawa minum. Beli sono."

Bobby mendengkus. Ia menoleh ke belakang, mendapati botol minum berwarna kuning terang terisi penuh oleh air berada di atas meja Kirana. Ia menepuk meja itu beberapa kali dengan tujuan Kirana yang tengah mengobrol dengan teman-temannya menoleh. Caranya berhasil. Gadis itu menoleh, menatap Bobby yang bibirnya dipenuhi minyak dari nasi uduk. Sambil menunjuk botol minum itu Bobby berkata, "Bagi minum yak." Lantas menyambar dan menenggak air dari botol itu sebelum Kirana benar-benar memberinya izin.

Air di botol itu tinggal setengah. Kirana menatap Bobby, merasa bahwa cowok itu ajaib sekali bisa menghabiskan air setengah botol dengan sekali teguk. Minyak nasi uduk di bibirnya belum luntur sama sekali sampai akhirnya Bobby menyekanya dengan dasi, membuat Kirana berpikir bahwa Bobby benar-benar ajaib. "Makasih, Kir," ujar Bobby.

"Iya."

Sepasang mata sipit itu bertemu dengan mata milik Qila yang kini tengah bergantian menatapnya dan Kirana. Gadis itu mengulum senyum, hidungnya terlihat sedikit mekar. Bobby mengernyit. "Elo kenapa, Qil? Abis digigit anjing?"

Ujaran Bobby sontak membuat Kirana terkikik geli. Ditatapnya teman sebangkunya itu yang tengah menatap Bobby geram. Qila berdiri, tangan kanannya terulur, menjambak rambut Bobby sekuat yang ia bisa. "Kurang ajar!"

DisparitasStories to obsess over. Discover now