Bab 1 : The Dream

16 1 0
                                        

“Intak, menurut kamu, aku ini nyata atau enggak?”

Hahh!

Pemuda bersurai cokelat gelap itu terengah-engah, menghirup rakus oksigen seperti baru saja tenggelam di lautan—iya, dia baru saja tenggelam dalam mimpi aneh— dia katakan aneh karena sudah tiga kali dalam seminggu dia memimpikan hal yang sama, tidak mungkin sebuah kebetulan jika kejadian dan tokoh dalam mimpi nya sama persis.

Hwang Intak, pemuda itu belum pernah merasa setakut ini cuma karena perihal bermimpi ketika tidur. Kali pertama bermimpi, Intak menganggap nya sebagai bunga tidur biasa. Kali kedua, Intak merinding ketika mendapati dirinya bermimpi hal yang sama. Intak menjadi takut tidur, takut mengalami mimpi yang sama. Biarpun hal yang di mimpikan nya bukan lah yang horror atau adegan epic kejar-kejaran dengan sekumpulan mutan yang terinfeksi virus. Mimpi nya normal, tidak ada yang aneh—hanya saja, Intak merasa berbeda.

Dan hari ini sudah kali ketiga Intak memimpikan hal yang sama, mustahil sebuah kebetulan jika itu terjadi berulang kali dengan adegan dan latar yang sama. Sebenarnya apa yang mimpi itu mau sampaikan, terlebih dengan kalimat yang selalu di ucap tokoh utama dalam mimpi Intak. Seorang perempuan yang beberapa tahun lebih tua dari nya—kelihatan nya—mengenakan gaun putih compang-camping dan sebuah Diadem berhiaskan daun dafnah dan ukiran angsa.

Perempuan itu selalu duduk di kursi usang yang terletak di sudut ruangan putih polos, menatap dalam mata Intak sembari terus mengulang kalimat yang sama,

“Intak, menurut kamu, aku ini nyata atau enggak?” 

Suara ketukan di pintu kamar nya membuat Intak sadar dari lamunan, menoleh dia mendapati kakak laki-laki nya yang berdiri sembari berkacak pinggang.

"Nggak bangun, pangeran tidur?" katanya

"Ini kan udah bangun." balas Intak, melangkah turun dari kamar mandi dan menggiring kakak nya—Chanhee—agar keluar dari kamar. "Mau mandi, keluar sana."

"10 menit, lebih abang tinggal." balas Chanhee

"Dih apaan, emang intak bebek yang mandi nya ciprat-ciprat doang?"

"Oke, mandi yang lama tapi abang berangkat duluan ya."

"Kok gituuuu!?"

"Coba liat jam." Chanhee melengos meninggalkan Intak yang sekarang sedang melirik jam dinding di kamar nya.

"Heh, masa jam delapan lewat lima belas!" Intak menjerit begitu tahu bahwa dirinya hampir terlambat datang ke sekolah.

"Udah di kasih berangkat siang masih aja terlambat, berangkat sendiri ya abang duluan!" Chanhee meninggalkan rumah setelah berteriak membalas kehebohan Intak di kamar nya.

"Abwang iuhhhh!" suara Intak tidak jelas karena sedang menggosok gigi. Masa bodo, hari ini dia tidak mandi dan langsung berangkat setelah memakai deodorant dan seragam sekolah nya.

Intak orang nya wangi ini, enggak bau walaupun nggak mandi. Tapi boong.



















INCEPTION - HWANG INTAK

BAB 1 : THE DREAM

INCEPTION - HWANG INTAK Where stories live. Discover now