Dua tahun sebelum bertemu dengan pacarnya—Marisa, dan akhirnya menikah, Juna sempat naksir setengah mati pada seorang cewek mungil yang dia temui di toko buku dekat rumahnya. Entah apa yang membuat cewek mungil itu begitu menarik bagi Juna, namun setiap kali melihat cewek itu, matanya seolah nggak kuasa memandang objek lain selain si mungil itu.
Semuanya dimulai ketika Juna masih seorang jomblo ngenes di awal-awal semester satu kuliahnya, dan dia memilih melewati hampir setiap malam minggu di toko buku, melihat buku-buku baru yang bisa dibeli untuk dibaca pada waktu libur kuliah. Juna memang lebih memilih membaca daripada nongkrong dengan teman-temannya di rental Playstation atau di pinggir jalan sambil goda-godain cewek lewat.
Kebiasaan itu terus berlanjut selama beberapa bulan. Dan semuanya berjalan baik-baik saja—bahkan cendrung datar—sampai suatu malam minggu, Juna melihat si cewek mungil itu, dan dibuat jatuh cinta dengan begitu dahsyat pada pandangan pertama.
Juna nggak akan pernah melupakan saat pertama kali menemukan si mungil, wajah cewek itu tirus dengan kulit putih bercahaya, alis yang rimbun, rambut hitam dan terlihat sehalus sutra. Mungkin cewek itu setahun atau dua tahun lebih muda dari Juna, mungkin masih SMA. Entahlah. Waktu itu, Juna malah menatap langit-langit toko, memastikan bahwa keadaannya baik dan nggak ada sesuatu yang telah jatuh melaluinya. Dia curiga, si mungil itu mungkin saja bidadari yang sedang mengunjungi bumi.
Malam itu, Juna hanya memandangi si mungil dari kejauhan. Cewek itu begitu mencuri perhatian Juna, membuat barisan buku dengan cover warna-warni di depannya menjadi terlalu suram untuk dilihat. Sampai akhirnya si mungil menutup buku yang dia baca, lalu berjalan menuju pintu keluar. Juna baru tersadar dari perasaan terpukau—bagai orang yang habis bermimpi indah, ketika si mungil menghilang.
Setelah pulang ke rumah, Juna nggak bisa tidur, wajah si mungil terus terbayang-bayang. Juna mengingat dengan jelas senyum cewek itu ketika sedang membaca buku—mungkin ada kalimat yang begitu lucu sehingga membuatnya tersenyum. Dan senyum itu bikin Juna jatuh cinta semakin dalam, karena ketika tersenyum—seolah gadis itu kurang manis saja, deretan gigi putih dan rapi akan terlihat dan bahkan ada lesung pipit yang muncul di pipinya. Oh, Tuhan, napas Juna tertahan.
"Aku lagi naksir cewek," ujar Juna pada adiknya, Nina.
Nina menoleh. "Itu bagus, aku kira kamu bakal naksir sama cowok."
"Kamfret..." kata Juna kesal. "Aku bakal lapor sama ibu, kalau kamu sudah punya pacar."
"Maaf, kakakku sayang." Nina memasang wajah termanisnya. Bagaimanapun, dia nggak mau rahasianya bocor, orang tua mereka melarang Nina—yang baru kelas 3 SMP untuk pacaran. "Ayo, mulai cerita. Siapa cewek itu, Kak?"
Juna pun menceritakan pertemuannya dengan si cewek mungil. Nina mendengarkan dengan baik dan di akhir cerita, adiknya itu menyarankan agar Juna berkenalan dengan si cewek mungil secara baik-baik. Tentu saja Juna nggak berani. Lalu si adik hanya bisa memutar bola mata.
Hari-hari selanjutnya, Juna menjalani hidupnya dengan dihantui bayangan si cewek mungil. Baik ketika dia sedang kuliah, tidur di rumah atau jongkok di kamar mandi. Hanya bayangan si mungil yang ada di kepalanya. Awalnya Juna ingin melupakan si mungil, karena bisa saja dia nggak akan pernah bertemu lagi dengannya, jadi nggak ada gunanya menyiksa diri. Namun, semakin Juna berusaha melupakannya, justru dia malah semakin ingin berjumpa.
Maka, malam minggu berikutnya, Juna datang kembali ke toko buku yang sama.
Dan begitu sampai di toko buku, dia melihat si mungil itu lagi. Cewek itu sedang berdiri sendiri, membaca buku di rak novel. Dada Juna langsung berdesir bahagia, lalu dia berdiri di salah satu pojok toko untuk mengagumi si mungil. Tentu saja Juna masih tetap nggak berani menghampirinya. Namun melihat kecantikkan si mungil seperti itu saja, dia sudah merasa cukup bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diam dan Cium Aku Sekarang!
Short StoryKumpulan cerpen tentang cinta diam-diam dan persahabatan yang berubah menjadi cinta dan lain-lain.
