J3

14 0 0
                                    

Jam sudah menunjukan pukul 4 pagi. Rasa lelah, kantuk berat, pegal disekujur badannya telak membuat Ayumi sempoyongan. Pelanggan terakhir mengakhiri jam diluar batas waktu sebab istrinya yang hamil sedang mengalami kontraksi. Hal itu tentu membuat Jasmine harus pulang sendiri.

Melewati pintu demi pintu kamar inap yang disediakan oleh Club Excopid dengan lemas membuat Jasmine harus berjalan pelan sambil memegangi tembok dan artinya gadis yang kini berpenampilan acak-acakan itu jalan ditepi tembok.

Saat sudah sampai ditengah jalan, ia terduduk lemas. Pas sekali didepan pintu yang sialnya terdengar berisik oleh suara-suara yang tentu tidak asing ditelinga Jasmine.

Karna sekarang posisinya ia sedang dibawah pengaruh alkohol, ketika saat mendengar suara desahan demi desahan yang terus mengalun dari dalam pintu kamar tersebut, telak berhasil membuat sensasi mual pada perut Jasmine semakin merajai.

Ia melepas hak tingginya dengan terburu-buru dan berdiri kesetanan namun cara jalannya masih seperti tadi, lemas. Ditambah sekarang ia harus membekap mulutnya sendiri untuk menahan hasratnya agar tidak muntah.

Tak sadar, ada lelaki yang keluar dari salah satu pintu disana. Doi bersetelan kemeja hitam dengan tiga kancing atas yang dibuka serta ada Jaz kotak-kotak berwarna hitam putih yang bertengger pada bahunya.

Ayumi terus berjalan tanpa melihat dan menyadari siapa yang keluar dari kamar tersebut.

Laki-laki itu terlihat terkejut dan memastikan siapa wanita yang kini sudah mulai menjauh dari tempatnya.

"Mikasa!." Panggil cowo itu berlari menghampiri Ayumi.

Merasa namanya dipanggil, dengan berat hati Ayumi pun menoleh dan tersenyum manis yang sayangnya sangat terlihat dipaksakan.

"Ayumi . . " Panggil cowo itu lagi memegang bahu Jasmine. Menegakannya dan menahan tubuh Jasmine ditembok.

Ayumi menyerngitkan alisnya bingung. Tampak ia tengah berfikir sambil menyentuh muka cowo dihadapannya ini dengan jari telunjuk bertempelan fake nails.

"Jung . . " Lirih Ayumi. Kondisi Jasmine sangat-sangat begitu memperhatinkan jika diperhatikan. Rambut acak-acakan, mata merah sayu, muka yang memerah panas dan sial bagian itu, ya itu bagian bibirnya yang basah sedikit terbuka. Ah, sungguh sangat disayangkan justru malah membuat benda milik Jayden sedikit terbangun perlahan demi perlahan.



"Hm?."

"Master . .  Jung? Hahaha."



Tak! Jackpot!



Ayumi tertawa sawan dan kini tubuhnya sudah terhuyung kearah cowo dihadapannya ini.

Oh, shit. Jayden benar-benar horny sekarang. Dia menarik nafas banyak-banyak dan mengehela berat untuk membersihkan pikirannya yang mulai kotor. Udah kotor dari dulu dulu si.

Ayumi benar-benar terlihat sexy berkali-kali lipat dari biasanya. Jay tau, kalau saat ini Ayumi sedang mabuk.

"Saya antar pulang, ya?." Tanya Jay. Anyway, posisi mereka sekarang sedang berpelukan.

Tidak ada jawaban dari si gadis, Jay menunduk sedikit untuk melihat wajah cewe itu. Dan ternyata Ayumi sudah tertidur.

Jayden tertawa kecil lalu menggendong bridal badan sintal Ayumi. Doi memutuskan untuk membawa gadis ini ke apartemennya. Sebenarnya bisa saja ia membawa kerumah, namun apa kata Mama nya nanti ketika melihat anak sulungnya membawa wanita sexy yang sudah terkapar kedalam kediamannya?

• • •

"Ah . . " erang Jayden lega setelah menindurkan Ayumi dikasur kingsize milik apartemen yang baru doi sewa tadi.

Justmiñe.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang