Dia adalah CANTIKA QUEENA PERMATA.A.A. permata dan kebahagiaan keluarga alexander dan adhitama. Tapi kejadian itu membuat seluruh keluarga alexander bersedih dan tak tersentuh, permatanya, kebahagiaan nya hilang dari sisinya. QUEEN diculik sebulan s...
"QUEEN!!" Para pangeran berteriak khawatir, sedangkan sesosok misterius itu hanya tertawa
"Kita bertemu lagi pecundang" Ucap sosok tersebut sambil tersenyum sinis
"Dan kali ini aku tak kan kalah, aku akan merebut dia dari kalian" Lanjutnya sembari menunjuk kearah Queen
Queen mengerutkan keningnya, perlahan-lahan kilasan memori dahulu kala memenuhi otaknya
Flashback
Cring Tang Cring Tang
Bunyi pedang saling bersahutan, erangan kesakitan terdengar memilukan, perang saudara, mereka saling merebutkan tahta dan pendamping hidup nya
Sementara itu gadis kecil yang menjadi tawanan hanya menutup telinganya menggunakan kedua tangannya
Sungguh gadis itu bingung tiba-tiba dia berada disini dan diperebutkan oleh 8 pangeran tampan dan dijadikan tawanan
"Hiks.. Mau pulang hikss" Tangis gadis kecil tersebut
"Kau akan kalah sialan!" Teriak salah satu dari mereka
Pohon pohon yang tadi berdiri kokoh sekarang sudah tumbang, rumput yang tadi berwarna hijau sudah disirami dengan genangan air berwarna merah, bau amis menyeruak ke indra penciuman mereka
Sekarang hanya tinggal mereka ber 8, semua pasukan mereka telah tumbang
"Kau pikir kami akan membiarkan kamu menang begitu?, tentu tidak bodoh!" Teriak yang lainnya
"Kau akan kalah!" Lanjutnya
"Cih! banyak omong! Serang!!!" Teriak salah satu dari mereka
Cring Tang Duar
Ledakan terjadi cukup besar membuat mereka ber 8 terpental cukup jauh, langit menghitam disertai gemuruh petir yang saling bersahutan. Entahlah mungkin dewi alam marah karena peperangan ini menyebabkan kekacauan dan kematian ratusan bahkan ribuan makhluk hidup
Cahaya datang menyilaukan cahaya mereka, nampaklah seorang wanita cantik dan anggun dengan senyuman manisnya dia berkata
"Kenapa kalian merusak alam ku, tidakkah kalian tau peperangan kalian menyebabkan ketidakseimbangan alam?" Suara lembut itu menyapu gendang telinga mereka