9 : Tidak Salah Tapi Kurang Benar

552 157 10
                                        


Jimin

Perasaan bersalah menggantung. Sudah sebelas-duabelas dengan sosok Jeongguk yang selalu datang dimana saja. Tidak kenal waktu dan tempat. Langsung saja ada tanpa dititah. Aneh. Membikin pusing dan menambah beban pikiran. Sekarang, Jimin justru diberkahi satu perasaan tidak enak yang menghalaunya pergi tidur.

"Kamu sudah tidur, Gguk?" Tanyanya sambil masih memandangi langit-langit tenda yang punya warna kelabu. Berharap kalau warna solid bisa membuatnya tidak fokus dan segera pergi ke alam mimpi.

"Belum."

"Maaf," bisik Jimin. "Kamu sudah baik hati membawa aku kemari tapi aku seperti tidak senang. Padahal aku sendiri yang minta." Ia baru kali ini merasa bersalah. Meski sudah dikejar-kejar oleh SeokJin karena orang tua nya kesusahan menghubungi, baru kali ini Jimin merasa kalau mengalah itu perlu.

"Buat apa?"

"Karena sepertinya, aku menyusahkan kamu."

"Kenapa kamu tidak mau terima Pararaton?" Tanya Jeongguk. Tubuhnya berbalik setelah sebelumnya memunggungi Jimin. Surainya yang panjang menjuntai sampai ke atas bantal tidur. Di cahaya remang, baru kali ini Jimin sadar kalau laki-laki ini sudah punya aura ningrat. Jimin jadi mengutuk diri sendiri pula kenapa tidak kunjung sadar. "Aku tidak bakal kesusahan kalau kamu sudah punya."

"Boleh aku tanya sesuatu?"

Jeongguk mengangguk.

"Apa kamu mau merebut Pararaton dari aku?"

Pemuda di samping Jimin tidak beraksi. Tidak pula kelihatan kalau sedang berpikir atau hendak mengutarakan sesuatu.

"Atau kamu mau memanfaatkan Pararaton buat kesenangan kamu sendiri?"

"Yang mana yang paling penting penting?" Tanya Jeongguk. "Satu jawaban buat satu pertanyaan."

"Jeongguk." Jimin menghela napas panjang. Ini bukan saatnya untuk melakukan barter. "Jawab saja yang membuat kamu nyaman. Aku tidak peduli kamu mau jawab yang mana."

Tubuh Jeongguk beranjak. Mengambil posisi duduk sambil menyandarkan kedua sikunya di lutut. Menggantung kedua lengannya. "Dari awal, aku tidak ada niatan merebut Pararaton dari yang punya. Tujuanku bukan itu."

"Terus?"

"Coba tebak."

"Apa, ya?" Jimin mencoba masuk ke pikiran kawannya. Kalau ia yang dilimpahkan tugas besar dan diutus untuk mencari-cari orang yang ternyata ada di hadapannya, mungkin ia juga bakal marah. Bukan cuma Jimin yang merasa dikhianati disini, Jeongguk pula. Lalu mengapa ia justru bertingkah seperti yang paling tersakiti? Aneh. "Apa kamu punya tugas buat mengumpulkan orang yang ada kaitannya dengan Singasari?"

"Tidak salah tapi kurang benar," kata Jeongguk mengoreksi. "Kalau diibaratkan, kamu itu komponen penting di susunan Singasari karena yang bawa Pararaton itu yang mencatat semua kegiatan di dalam istana."

"Apa masih dicatat sampai sekarang?"

"Tidak." Jeongguk menggeleng. "Tapi kamu harus jadi saksi hidup garis keturunannya yang ada. Di kasus ini, garis keturunannya itu keluargaku. Jadi kamu bukan cuma membuat aku bingung, tapi dua kakak ku juga."

Jimin jadi merasa makin bersalah. "Sepurane," bisiknya. "Jadi aku harus bagaimana buat membantu kamu?"

"Ya, ambil kitabnya."

"Setelah itu?"

"Kita berangkat ke Singasari."

"Ke kota Singasari?"

BaskaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang