16 : Manusia Punya Hati

500 131 17
                                        


Jeongguk

Studio NamJoon lumayan nyaman kalau kedatangan tamu mendadak. Tidak ada bau apak cat atau barang-barang berserakan. Menjadikan Jeongguk salut akan kerapian yang jarang bisa ditunjukkan orang yang sudah fokus dengan lukisan.

"Agak ke kanan sedikit, Gguk," ujar NamJoon yang mengarahkan temannya.

Jeongguk menurut saja. Sampur di tangan berpindah-pindah. Mulai dari dilempar ke atas supaya bisa menyampir ke lengan atau sekadar dibiarkan menjuntai dari leher ke bawah. Ia sudah hafal tarian Beskalan Lanang yang dijadikan turun-temurun keluarga. Alhasil Jeongguk tidak keberatan waktu dimintai tolong Patih nya sebagai model untuk latihan menggambar gestur. "Sebentar lagi selesai," kata Jeongguk di sela geraknya yang diiringi musik dari pengeras suara.


(Cr: earthology)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Cr: earthology)


"Tinggal satu, kok," sahut NamJoon. Tangannya masih bergerak-gerak. Kadang memanjang, kadang pendek-pendek seperti mengarsir satu bentuk di tempat yang sama. "Sudah."

Gaung gong mengakhiri tarian Jeongguk. Ia berdiri tegap sambil memejamkan kedua mata. Menghayati lantunan lagu yang sampai di penghujung. "Dapat berapa?" tanyanya. Tidak perlu repot untuk bisa melangkah mendekat ke kawannya. Cuma aksesori sampur saja yang ia bawa, jadi Jeongguk masih bisa bergerak bebas.

"Tiga puluh."

"Buat apa banyak-banyak?"

"Namanya juga latihan." NamJoon merapikan tumpukan kertas yang sudah penuh dengan gambar sketa. Disodorkan ke sang model untuk kemudian dicek. "Mbak Irene bilang, kamu punya rencana, Gguk. Tidak mau dibicarakan?" Ia beranjak dari kursi dan papan kayu penyangga yang dijadikan meja. Menyabet cangkir berisi kopi, mulai menyeruput.

"Rencana kecil." Jemari Jeongguk cekatan membolak-balik lembar gambar di atas tangan. Melihat-lihat buah hasil dari ia yang menarikan tarian Beskalan full sampai selesai. Tidak ada yang kurang. Semuanya sempurna dan lengkap tiga puluh gambar. "Nanti, aku kasih tahu kalau sudah matang."

"Menyangkut apa dulu?"

"Singasari."

"Yang masuk ke rencananya siapa saja?"

Jeongguk mendongak. Mengalihkan pandangan dari kumpulan gambar ke sosok NamJoon yang bersandar ke tembok sambil menenteng cangkir. "Semua masuk. Punya peran masing-masing. Jangan khawatir."

"Jimin?"

"Jimin kenapa?"

"Maksudku, dia masuk atau tidak?"

"Masuk," jawab Jeongguk, "walaupun Pararaton masih ada di dia, aku tidak keberatan. Dia bisa bawa kitabnya dan tidak menyusahkan aku."

NamJoon menyeruput kembali kopinya. "Kamu bilang, dia tidak percaya dengan hal semacam itu."

BaskaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang