Enhypen Heeseung Local Fiction
[SHORT STORY]
Barga itu gila. Serius. Gilanya memang benar-benar segila 'itu' sampai-sampai mengajak Nina keluar di waktu nyaris menyentuh tengah malam.
Dan ya, Nina nggak akan pernah jadi pacar Barga kalau perempuan i...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sate padang jadi destinasi pertama yang dipilih Barga dan Nina selagi menunggu mas-mas tukang bakpao lewat dengan lonceng kebanggaannya.
Nina menyantap makanannya sambil sesekali menikmati pemandangan malam kota -yang, well, bisa dibilang nggak jauh-jauh dari gedung, ruko, dan kendaraan.
Beda Nina, beda pula Barga. Pemuda itu lagi melihat ke sekeliling dengan mata berbinar. Dia udah melapor ke Nina kalau mereka berdua harus menyicip makanan-makanan lain -such as bakso bakar dan mi rebus, tepat dua menit setelah sate padang disajikan.
Iya, bahkan belum ada sesuap sate yang masuk ke mulutnya, tapi matanya udah menjajah makanan-makanan lain.
Nina menggeleng. Tangan perempuan itu lantas meraih dagu Barga, menolehkan kepala si pemuda yang nggak berhenti berpendar ke berbagai arah menjadi ke arahnya, lantas menyuapkan setusuk sate ke mulut pemuda itu.
"Na, bubur kacang ijo yang disana itu enak banget. Aku udah pernah coba. Santannya itu kental banget, Na. Nanti kita harus coba."
Kekehan Nina keluar mendengar suara si pemuda yang luar biasa menggebu-gebu. "Iya, nanti dicoba. Tapi satenya dimakan dulu, Ga. Gimana mau makan yang lain kalo makanan yang di depan kamu aja belum habis?"
Barga diam sebentar, mengunyah suapan sate dari mbak pacar sebelum akhirnya membuka mulut lebar-lebar. "Suapin."
"Tadi aku mau bikin kamu diem," balas Nina. Tangan perempuan itu tergerak untuk menyuap sate ke mulutnya. "Kenyang aku dengar kamu nyebut satu-satu makanan disini. Serius."
Dengar jawaban dari Nina, Barga lantas merengut. Lucu sekali. "Tapi makanan disini tuh emang enak semua, Nina. Kamu coba--"
"Iya, iya," potong Nina. Tawa si perempuan lantas menggelegar sebelum akhirnya berkata, "Aku percaya kok makanannya enak semua. Kamu kan jagonya dunia kuliner. Nanti kita beli semua. Kita bungkus malah, stok buat besok-besok. Tapi ini yang udah tersaji di depan kamu dimakan dulu."
Barga lantas menurut. Pemuda itu lekas-lekas menghabiskan makanannya, sedangkan Nina tersenyum gemas melihat kelakuan si pacar.
Nggak butuh waktu lama buat Barga meludeskan sate padang dengan kuah-kuahnya sekaligus. Pemuda itu lekas-lekas mendatangi mas-mas mi rebus dan memesan seporsi. Nina bahkan nggak dikasih waktu jeda untuk menarik napas dulu setelah menghabiskan sate padangnya.
Tapi, ya, Nina kayaknya harus terbiasa, karena setelahnya Barga benar-benar mengajak perempuan itu menjajah segala jenis makanan di sepanjang trotoar dekat ruko-ruko yang udah tutup. Perut Nina bahkan sampai ogah diajak berjalan saking penuhnya, hingga akhirnya perempuan itu meminta ampun ke Barga dan menarik pemuda itu ke alun-alun kota.