Entah masih mencari jawaban
atau keyakinan yang belum terkuatkan,
hingga waktu menghadang
untuk kita saling menemukan.Teka-teki tentang puisi apa yang akan berwujud kata,
pun memenuhi isi kepala.
Akankah Bunga ranum seperti warna senja
atau hati yang berakhir patah.Puisi ini berfatwa:
"Seumpama musim cuaca pasti berubah-ubah.
Semoga kita tak kalah, lalu berhenti melangkah.
Jika tak siap mencintai sejadi-jadinya,
Maka bersiaplah kehilangan esok lusa"