Mini-Series tentang hilangnya kepolosan sepasang remaja yang saling mencinta dalam empat babak.
Cerita ini adalah hasil kolaborasi antara insensitivegnome, indomitelorkornet, dan adagiotempo.
Edited & Compiled by: Divinerapierr
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seminggu setelah kejadian di warnet itu, Cindy makin penasaran dengan hal-hal berbau seks. Kini twitternya tak hanya digunakan untuk mengikuti akun-akun K-pop kesukaannya tetapi akun-akun bokep juga. Selama seminggu ini juga mereka selalu bertemu setiap sore selepas sepak bola. Sholeh kini selalu mengantarkan Cindy terlebih dahulu lalu baru pulang kerumahnya.
Suatu ketika waktu Sholeh mengantarkan Cindy pulang ke rumah selepas bermain sepak bola di kampung sebelah, ia mendapati rumah Cindy masih gelap dan seperti tak ada orang dirumah. Pikiran kotornya kini terlintas lagi seketika melihat suasana itu.
"Kok kosong lagi rumahnya?" tanya Sholeh heran.
"Ah, iya, lagi pada keluar kota kalau ini sampai besok minggu," jawab Cindy sambil membuka gerbang rumahnya.
"Lha terus, kamu kok nggak ikut?"
"Nggak ah, lagian itu cuma urusan kerjaan bapak aja kok, tapi ga tau tuh ibuku malah mau ikut sekalian jalan-jalan katanya," jelas Cindy.
"Terus Kakakmu?"
"Kakakku nginep di rumah temennya, sampe minggu juga. Mampir dulu, Bang?"
Sholeh sebenarnya tanpa disuruh mampir pasti sudah nyelonong masuk ke dalam rumah itu. Ia hanya basa-basi dan menjaga imagenya di depan Cindy. Setelah mereka masuk dan menyalakan lampu, Sholeh duduk di sofa ruang tamu tanpa disuruh Cindy, seperti rumah sendiri saja.
"Bentar ya, Cindy ambilin minum dulu." Cindy lantas masuk ke dalam rumah lalu menuju ke dapur. Sholeh yang menunggu Cindy sendirian di ruang tamu jadi kepikiran aneh-aneh. Pikiran kotornya kian melalang kesana kemari ketika mengetahui ia punya kesempata selebar ini. Ia terus menyusun rencana hingga tiba-tiba suara Cindy membuyarkan lamunannya.
"Mikirin apa, Bang?" tanya Cindy sambil meletakkan gelas es sirup di depan Sholeh.
"Ah, eh eng nggak kok," jawab Sholeh gelagapan. Ketika meletakkan gelas itu, kembali Sholeh melihat belahan payudara Cindy dari celah kaosnya. ia menelan ludah hingga terlihat jakunnya naik turun. Cindy yang sadar langsung menutup celah kaos itu.
"Hayo, ngeliatin apa?"
"Hah? Ngeliatin? Nggak kok gak ngeliatin apa-apa..." Sholeh salah tingkah, ia langsung mengambil gelas dan menenggak minumannya.
"Ih bilang aja kali, bang." Cindy duduk di sofa, tepat di sebelah Sholeh. Cindy memegang paha Sholeh dan berbisik di telinganya. "Cowok suka kan ngeliat tete cewe? Abang suka gak sama tete Cindy?"
"Hah?! Ya-... suka lah, Cin." Sholeh semakin salah tingkah merespon kelakuan pacarnya.
"Ih kok bisa?!" Cindy menampar pundak Sholeh.
"B-bisa lah..." Sholeh semakin dibuat bingung.
"Kan abang belom liat. Kok bisa suka?"
"Emang mau ngasih liat?" Sholeh balik bertanya dan menantang Cindy.